Suatu Sore Bersama Pendukung Tim Sepakbola Kalsel di Peparnas

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Suatu Sore Bersama Pendukung Tim Sepakbola Kalsel di Peparnas

Sore itu, 23 Oktober 2016, cuaca di wilayah Bandung mendung. Bahkan gemericik hujan sesekali turun jatuh ke tanah, membasahi tanah yang sebenarnya sudah basah. Bandung pada hari itu diliputi oleh awan mendung sedari pagi, membuat suasana malas begitu kuat terasa.

Tapi lain hal dengan suasana di Lapangan Progresif. Sore itu tampak banyak sekali orang, yang mengenakan seragam ataupun bukan, yang berlalu-lalang. Rupa-rupanya di sana sedang diadakan babak final cabang olahraga Sepakbola CP (Celebral Palsy) yang mempertemukan antara tuan rumah Jawa Barat melawan sang pendatang dari Kalimantan Selatan.

Saya bukannya belum pernah menonton, karena pada Selasa (18/10/2016) pun saya sempat ke Lapangan Progresif untuk menyaksikan cabor Sepakbola CP ini bersama rekan saya. Tapi ketika itu suasana tampak sepi. Di tribun pendukung pun hanya terlihat beberapa orang, ada polisi dan beberapa anak SMP dan SMA, yang menyaksikan pertandingan. Mungkin karena ketika itu pertandingan masih babak penyisihan, sehingga belum banyak orang yang datang.

Tapi suasana final memang berbeda. Suara drum ditabuh begitu kencang terdengar. Yel-yel pendukung begitu semarak mendukung Jabar dan Kalsel yang sedang bertanding. Benar-benar suasana yang berbeda dengan beberapa hari yang lalu. Meski hujan gemericik, semangat mereka untuk mendukung tampak begitu menyala-nyala.

Pendukung Kalsel yang bersorak-sorak di tribun

Saya pun beranjak mendekati kerumunan pendukung yang sedang bersorak dan berjingkrak. Ada satu bapak-bapak yang tampak duduk santai menikmati pertandingan, dan sesekali tertawa kecil melihat tingkah rekan-rekannya yang berjoget juga berteriak lantang ketika ada salah seorang pemain Kalsel yang dilanggar. Saya pun mendekati bapak itu.

"Kami jauh-jauh bang, datang dari Kalsel. Sengaja aja datang ke Bandung untuk mendukung tim sepakbola Kalsel yang masuk final Peparnas," ujar bapak tersebut yang akhirnya saya ketahui namanya adalah Muhammad Ali.

"Kami juga sempat menonton cabang lain di Peparnas, tapi untuk sepakbola, kami baru tahu kalau sepakbola juga dipertandingkan di Peparnas ini," ujarnya.

Sepakbola CP memang baru dipertandingkan pertama kali dalam ajang Peparnas XV 2016. Meski begitu, bukan berarti para pemain yang bertanding tidak memiliki pengalaman main sepakbola CP. Ada beberapa pemain yang pernah mencicipi pengalaman bermain bersama timnas sepakbola CP, seperti yang ditunjukkan oleh Pak Ali kepada saya sore itu.

"Itu tuh, nomor 11 (M. Yahya Hernanda). Dia pernah ikut timnas," ujarnya kepada saya. Ditambah dengan ban kapten yang melingkar di lengannya, saya pun yakin kalau dia memang pemain timnas. (Saya semakin kaget ketika saya tahu Yahya mencetak hattrick dalam partai final tersebut).

Kami pun lanjut menikmati suasana sore yang dingin namun hangat karena teriakan para pendukung Kalsel tersebut. Melihat orang sebanyak itu yang datang (mungkin jumlahnya ada sekitar puluhan orang), saya pun sempat bertanya-tanya apakah mereka datang dengan biaya pribadi.

Ongkos Banjarmasin ke Bandung lumayan mahal. Belum lagi biaya yang harus mereka habiskan selama menonton pertandingan final. Namun ternyata Pak Ali bilang bahwa semua ini dibiayai oleh pemerintah provinsi Kalimantan Selatan. Mulai dari ongkos pulang-pergi, konsumsi, sampai biaya menginap mereka selama di Bandung.

"Ini semuanya dibiayai sama pemerintah mas. Makanya kami bisa rame-rame nonton ke sini. Lagian lebih asyik juga sih nonton rame-rame, mendukung teman-teman di lapangan yang memang membutuhkan dukungan dari kita untuk bertanding," ujarnya.

"Soalnya mendukung daerah sendiri mas, sama teman-teman. Jadi pemerintah juga mungkin mendukung suporter yang pengen pergi ke Bandung. Kemungkinan buat Peparnas selanjutnya (Peparnas XVI) di Papua, kami juga siap untuk kembali mendukung Kalsel, dengan dukungan pemerintah juga," tambahnya.

Bersamaan dengan akhir ceritanya, babak kedua pun selesai. Kalimantan Selatan menang atas Jawa Barat dengan skor 4-2. Pendukung Kalsel tumpah ruah ke lapangan, merayakan kemenangan dengan para pemain Kalsel yang juga larut dalam kebahagiaan.

Saya pun berpisah dengan Pak Ali, yang turut dalam euforia tersebut, dan bergegas untuk menuju ke sisi lapangan yang lain. Biarkanlah ia larut dalam kebahagiaan daerahnya yang sekarang sedang berjaya di tanah legenda.

**

Sungguh menarik sekali kisah dari Pak Ali ini. Mulai dari kecintaan yang begitu kuat akan daerahnya sendiri (sampai-sampai pemerintah daerah membantu), dan juga kesenangan yang mereka tunjukkan selama di tribun. Setidaknya itulah yang membuat ajang seperti PON dan Peparnas menjadi sedikit lebih berwarna dengan atribut kedaerahan yang dibawa dengan kebahagiaan di dalamnya. Semua itu menarik, asal jangan sampai ada aksi baku pukul seperti yang terjadi dalam ajang yang sebelum Peparnas itu.

Komentar