San Marino yang (Masih) Akan Terus Menendang Bola

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

San Marino yang (Masih) Akan Terus Menendang Bola

Suatu masa, legenda sepakbola asal Belanda, Johan Cruyff pernah berujar bahwa “Kau tidak akan bisa mencetak gol jika kau tidak mencoba untuk menendang bola”. Anda tidak akan pernah mampu untuk menemukan gawang jika Anda tidak mencoba untuk menemukan gawang dengan cara menendang bola.

San Marino adalah salah satu tim dari Eropa yang begitu sulit untuk menemukan gawang. Malah mereka memegang rekor sebagai tim yang paling banyak kebobolan setelah pernah dikalahkan oleh Jerman dengan skor 13-0. Jaring gawang (lawan) adalah sesuatu yang begitu sulit untuk mereka raih.

Catatan buruk inilah yang mereka bawa ketika harus menghadapi Norwegia dalam babak kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa di kandang Norwegia. Tidak ada yang mengharapkan mereka untuk menang. Tidak ada juga yang memprediksi mereka untuk bisa mencetak gol mengingat terakhir kali San Marino mencetak gol tandang, itu terjadi 15 tahun silam.

Laga pun dilaksanakan. Sampai menit ke-52 San Marino masih tertinggal 1-0 dari Norwegia. Lalu pada menit ke-53, cerita itu pun terguratkan. Mattia Stefanelli, pemain yang pernah menghabiskan masa remajanya bersama Cesena, menjadi legenda San Marino setelah mampu mencetak gol ke gawang Norwegia. Golnya ini pun menjadi penyama kedudukan untuk sementara waktu.

Akhirnya San Marino tidak bisa menghindarkan diri dari kekalahan setelah Norwegia mampu kembali berbalik unggul dan mencetak tiga gol tambahan. Skor akhir 4-1 untuk kemenangan Norwegia. Tapi orang-orang San Marino sama sekali tidak berduka. Mereka malah merayakan gol yang dicetak oleh Stefanelli ini, mengelu-elukannya bak legenda, dan merayakan golnya seperti tim yang baru saja meraih juara.

Cuitan ini pun mengundang reaksi di media sosial. Tercatat sampai tulisan ini ditulis (ada kemungkinan bertambah), sudah ada sekitar 36.000 orang yang me-retweet cuitan ini, atau sekitar melebihi total dari penduduk San Marino itu sendiri (total penduduk San Marino per Juli 2015 sebesar 33.000). Berarti, selain penduduk San Marino, cuitan ini sudah mengundang perhatian masyarakat sepakbola dunia.

Satu gol yang berarti, yang mereka temukan susah payah di kandang lawan selama 15 tahun lamanya, yang akhirnya dirayakan dengan suka cita.

Tentang Kompetisi Sepakbola di San Marino dan Atmosfer Sepakbola di Dalamnya

Bagaimana para pemain, ofisial tim, sekaligus pelatih San Marino merayakan satu gol ini tampaknya mencerminkan bagaimana sepakbola adalah salah satu sumber kebahagiaan masyarakat San Marino. Kebahagiaan sepakbola masyarakat San Marino juga tak lepas dari kompetisi lokal mereka, Campionato Sanmarinese di Calcio yang sudah berlangsung sejak 1985 silam dan mengalami perubahan memasuki 1996, yang berjalan tanpa beban apa-apa.

Para pesepakbola San Marino rata-rata adalah pemain yang membela salah satu kesebelasan yang berkompetisi di Campioanato Sanmarinese di Calcio. Satu-satunya kompetisi di San Marino ini tidak mengenal sistem promosi-degradasi semenjak diberlakukan pembagian Girone pada 1996 lalu (girone bisa diartikan grup). Itulah kenapa, atmosfer sepakbola di San Marino bisa berjalan begitu menyenangkan.

Meski kesebelasan dari San Marino pun kebagian jatah untuk tampil dalam babak kualifikasi Liga Champions Eropa dan Liga Europa, toh, mereka tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Acap kali kalah ketika memasuki Eropa bagi mereka adalah hal biasa. Yang penting bisa bermain sepakbola setiap harinya.

Apalagi para pesepakbola San Marino ini kebanyakan tidak hanya berprofesi sebagai pesepakbola saja. Rata-rata mereka juga berprofesi sebagai mahasiswa, pegawai bank, akuntan, pengacara, dan berbagai profesi yang lazim ditemui di masyarakat pada umumnya.

Itulah kenapa bagi para masyarakat San Marino, meski mereka memiliki kompetisi resmi, sepakbola tak ubah hanya sebagai hiburan rakyat semata, pelepas lelah dari aktivitas sehari-hari. Tak heran juga Liga San Marino lebih sering mengadakan pertandingan di hari Sabtu dan Minggu, karena pada hari itu para pekerja sedang libur.

Keadaan yang serba sulit inilah, yang membuat standar kebahagiaan San Marino tidak setinggi kesebelasan-kesebelasan dan negara-negara kenamaan Eropa. Sadar bahwa mereka hanya negara kecil di tengah kepungan negara besar Eropa, mereka pada akhirnya hanya memiliki satu tujuan, seperti yang diujarkan oleh Johan Cruyff; tetap menendang bola supaya bisa menemukan gawang.

**
Telur itu pun sudah pecah saat mereka menghadapi Norwegia. Gol tandang berhasil mereka cetak dan nama Mattia Stefanelli akan masuk dalam rubric On This Day media-media San Marino (mungkin). Tapi perjuangan bagi San Marino belumlah usai. Dalam beberapa pertandingan ke depan, bisa jadi mereka akan kesulitan menemukan gawang kembali.

Meski begitu, jangan ragukan semangat San Marino (mungkin juga semangat tim kecil Eropa lain yang serupa) untuk tetap menemukan gawang. Beratus-ratus kali, bahkan beribu-ribu kali, mereka akan tetap berusaha menendang bola untuk menemukan gawang. Karena seperti kata Cruyff.

You can’t score a goal if you don’t take a shot

Teruslah menendang bola, San Marino.

Komentar