Membersihkan Nama Sepakbola Italia Lewat Kartu Hijau

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Membersihkan Nama Sepakbola Italia Lewat Kartu Hijau

Tidak ada yang bisa membayangkan sepakbola tanpa kartu kuning dan merah. Sejak diinisiasi oleh Ken Aston di Piala Dunia 1970, kartu kuning dan merah tidak hanya menjadi batasan fair play saja, tapi juga menjadi bumbu yang membuat sepakbola lebih menarik.

Selang 46 tahun berselang, pemberian kartu di lapangan tak akan lagi identik dengan sikap-sikap yang jauh dari kata fair play. Berlakunya kartu hijau sejak awal Januari 2016, membuat pemberian kartu juga bisa saja membuat pemain dianggap bersikap sportif saat membela tim di lapangan.

Kartu hijau yang diberikan kepada Cristian Galano pada laga Vicenza melawan Virtus Entella, dalam kompetisi Serie B pekan lalu, membuat ia menjadi pemain pertama dalam sejarah sepakbola yang diberi wasit kartu hijau karena berlaku sportif.

Kartu hijau diberikan oleh wasit Marco Maniardi kepada Galano seusai pertandingan, setelah ia setuju bahwa Vicenza tidak layak diberikan tendangan pojok. Maniardi awalnya menduga bola tersebut membentur salah satu pemain Virtus Entella sehingga Vicenza layak dihadiahi sebuah tendangan pojok.

Protes keras langsung dilayangkan oleh pemain Virtus Entella yang merasa tidak mengenai bola. Galano pun mengakui bahwa bola yang ia tendang tidak mengenai pemain Virtus Entella. Pada akhirnya, wasit Maniardi langsung mengubah keputusannya dari memberikan sepak pojok ke sebuah tendangan gawang.

Tak pelak, satu tindakan kecil yang dilakukan oleh Galano langsung mengubah pandangan akan sepakbola Italia yang sudah begitu busuk. Bukan hanya di lapangan, tapi juga di luar lapangan yang begitu banyak bersinggungan dengan sikap-sikap di luar sportifitas, terutama soal pengaturan skor.

Seperti yang kita sama-sama tahu, 10 tahun lalu sebuah kasus besar menimpa persepakbolaan Italia. Di saat tim nasional Italia mempersiapkan diri di sebuah turnamen besar, yakni Piala Dunia 2006, beberapa kesebelasan Serie A dan B Italia malah menjaga nama baik mereka usai dituduh melakukan suatu kejahatan begitu yang memalukan di sepakbola: pengaturan skor pertandingan.

Kasus tersebut tidak hanya menjatuhkan kualitas beberapa kesebelasan, seperti Juventus, Lazio, AC Milan, dan Fiorentina. Tapi juga menjatuhkan nasib sepakbola Italia secara keseluruhan. Corriere Dello Sport bahkan melansir bahwa kasus calciopoli tersebut membuat 30 pemain Serie A memilih hijrah ke kompetisi luar Italia.

Tidak berhenti sampai kasus calciopoli. Wajah sepakbola Italia semakin buruk setelah itu. Dibukanya penyelidikan atas kasus tersebut justru tidak membuat calciopoli-calciopoli lain terhenti. Pada 2015 lalu bahkan muncul kasus calciopoli jilid kedua yang melibatkan banyak kesebelasan termasuk, Catania dan Virtus Entella.

Noda hitam sepakbola Italia semakin bertambah dengan maraknya kasus-kasus lain yang menerpa negeri Pizza sepuluh tahun terakhir. Tercatat bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, sepakbola Italia begitu marak dengan kasus diskriminasi, perlakuan rasial terhadap ras tertentu, hingga intimidasi terhadap pengawas pertandingan.

Tak heran, suasana nyaman Italia bagi pemain asing mulai tidak ada lagi. Pemain-pemain kelas dunia bahkan mulai enggan untuk bermain di kompetisi yang disebut terbaik di Eropa pada era 1990-an tersebut.

Beberapa tahun terakhir, federasi sepakbola Italia berupaya menciptakan sebuah kompetisi sepakbola nyaman bagi semua pihak, baik untuk penonton, pemain, dan klub, sebagai stakeholder sepakbola Italia.

Meski perbaikan tersebut belum menunjukkan hasil yang fenomenal, namun apa yang ditunjukkan oleh Serie A mulai sejak dua musim lalu sudah bisa menjadi contoh. Perkembangan pemain sepakbola perempuan, penghapusan sistem kepemilikan bersama, hingga perbaikan sarana dan prasarana pemain muda kesebelasan kecil, mulai mereka lakukan.

Tidak hanya itu saja, meroketnya bakat-bakat di Italia sudah bisa menjadi bukti bagaimana sepakbola Italia mulai berkembang. Apa yang ditorehkan oleh bakat-bakat muda Italia di luar negeri hingga prestasi tim nasional Italia di Piala Eropa 2016, menjadi bukti bahwa sepakbola Italia mulai kembali bisa menatap kesempurnaan.

Pemberian kartu hijau di Serie A mungkin tidak akan mengubah sepakbola Italia secara luas. Tapi dengan adanya kartu ini, tak bisa dipungkiri bahwa imej sepakbola Italia saat ini bukan hanya soal hal-hal buruk di lapangan maupun di luar lapangan, tapi juga kejayaan.

Komentar