Final Piala Asia U16 2016, Jilid Baru Persaingan Sepakbola Iran dan Irak

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Final Piala Asia U16 2016, Jilid Baru Persaingan Sepakbola Iran dan Irak

Senin, 22 September 1980, menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan oleh Iran dan Irak. Dimulai dengan pernyataan invasi yang didengungkan oleh Saddam Husein, hari itu menjadi babak baru permusuhan kedua negara yang berwujud pada satu hal; perang.

Hampir delapan tahun lamanya kedua negara berusaha mewujudkan tujuan perang masing-masing. Iran berharap dapat mempertahankan wilayah berdaulat mereka. Sementara Irak, memimpikan sebuah wilayah baru yang dapat mereka gali sumber daya alamnya.

Tak kurang hampir setengah juta tentara meregang nyawa dalam perang kedua negara. 228 milyar dolar dikeluarkan untuk memperbaiki kekuatan militer masing-masing. Serta total kerugian mencapai 400 juta dolar, yang sebagian besar kerusakan disumbangkan oleh sumber minyak.

Berselang tujuh tahun 10 bulan dan empat pekan, perang akhirnya berakhir. Dua tahun setelahnya, Baghdad mengakui bahwa mereka kalah dalam perang tersebut.

Pengakuan kekalahan yang dilakukan oleh Irak berimbas ke kondisi kedua negara hingga saat ini. Iran yang disebut memenangkan pertarungan tersebut menjadi salah satu kekuatan besar dunia saat ini. Sedangkan Irak, hingga saat ini tak bisa lepas dari kepiluan.

Tak heran, pertemuan kedua negara selalu dibumbui urusan masa lalu yang membuat kondisi keduanya berbeda hingga kini. Dan, Minggu (2/10), kedua negara akan kembali bertemu dalam pertandingan final Piala Asia U16.

Irak: Sepakbola Sebagai Ajang untuk Unjuk Gigi

Dibalik kondisi kehidupan yang memprihatinkan, Irak masih dapat menegakkan kepalanya hingga kini. Olahraga terutama sepakbola menjadi satu hal yang dapat dibanggakan oleh negara tersebut.

Piala Asia 2007 menjadi babak baru persepakbolaan Irak. Tampil dengan status bukan unggulan, Irak membelalakkan mata dunia. Australia, Vietnam, dan Korea Selatan, berhasil mereka kalahkan. Di babak final, giliran Saudi Arabia yang mereka bungkam.

Menjadi juara Piala Asia 2007 membuka mata dunia akan Irak. Dengan sepakbola, mereka bisa membuat dunia melupakan kepiluan yang tengah mereka rasakan. Tak heran setelah Piala Asia 2007, Irak dapat terus melanjutkan prestasi baiknya; perempat-finalis Piala Asia 2011 serta posisi keempat Piala Asia 2015.

Prestasi yang didapatkan tim senior rupanya mengikuti jalan tim junior. Tim junior Irak bahkan begitu identik dengan langganan prestasi. Semifinalis Piala Dunia U20 2013, peringkat kedua Piala Asia U19 2012, dan peringkat ketiga Asian Games 2014, menjadi catatan yang mereka raih dalam lima tahun terakhir.

Kini, di Piala Asia U16 2016 India, Irak berjuang kembali untuk dapat membuka mata dunia akan mereka. Dilatih oleh pelatih lokal, Qahtan Chathir Drain, Irak sejauh ini mampu tampil mengagumkan. Dua tim yang lebih difavoritkan untuk menjadi juara, Korea Selatan dan Jepang mampu mereka kalahkan di babak grup dan semifinal.

Salah satu penggawa Irak, Mohammed Dawood, menjadi buah bibir di kompetisi ini. Bukan hanya karena keberhasilannya mencetak tiga gol dalam laga melawan Jepang, tapi juga karena penampilan baiknya sepanjang turnamen. Dawood sendiri saat ini telah mengoleksi enam gol dan menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang turnamen.

Iran: Mengembalikan Nama Baik Lewat Sepakbola

Berbeda dengan Irak yang memainkan sepakbola untuk mencari kesenangan, prestasi jelas merupakan tujuan utama Iran bermain di kompetisi ini. Nama baik jelas mereka pertaruhkan demi gelar juara di turnamen dua tahunan ini.

Tak ada kata kalah dalam kamus Iran jelang partai final kali ini. Kegagalan mereka dalam dua edisi terakhir jelas merupakan sebuah pukulan telak. Pasalnya, di Piala Asia U16 2008, Iran mampu menyabet gelar juara.

Prestasi tahun 2008 tersebut seakan menutupi kegagalan yang mereka raih sepanjang 1980 hingga 2000-an. Padahal di akhir 1960-an dan awal 1970-an, Iran adalah salah satu macan Asia dalam sepakbola, yang menjadi kekuatan lawas sepakbola Asia, seperti Saudi Arabia dan negara-negara Asia Timur, layaknya Korea Selatan dan Tiongkok.

Berbeda dengan Irak yang mengandalkan kekuatan pada Dawood. Iran, tampil begitu kolektif di turnamen kali ini. Empat pemain yang jadi kunci penampilan mereka, Alireza Asadabadi, Allahyar Sayyad, Mohammad Sharifi, dan Mohammad Ghaderi, konsisten tampil baik hingga babak semifinal.

***

Tak terelakkan, emosi jelas akan sangat tinggi dalam laga Iran berhadapan dengan Irak di laga ini. Sejarah politik kedua negara yang runyam jelas menjadi bumbu tambahan persaingan kedua negara di lapangan.

Namun demikian, pelatih kedua negara enggan menanggapi persaingan di luar lapangan. “Sejak awal turnamen target kami sudah jelas; menjadi juara. Jadi, yang kami pikirkan saat ini adalah pemain tampil baik demi sebuah gelar,” ujar pelatih Iran, Abbas Chamanian dilansir The Hindu Times.

“Target pertama kami sudah begitu jelas, yakni mencapai Piala Dunia U17 (karena mencapai babak semifinal). Dengan keberhasilan itu, kami pun menargetkan hal yang lebih tinggi, menjadi juara turnamen ini. Saya yakin pemain kami tidak akan terbebani dengan hal tersebut (perang di masa lalu) di laga ini,” ucap Qahtan Thitheer, pelatih kepala Irak.

Ada atau tidaknya bumbu tambahan dalam laga jelas bukan merupakan sebuah persoalan. Sebab yang jelas, keberhasilan masuk ke final sudah membuat kedua negara mendapatkan apa yang mereka inginkan; hiburan untuk menghapus lara dan kembalinya sebuah hegemoni.

Komentar