Fran Escriba, Dulu Dihina Kini Dipuja

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Fran Escriba, Dulu Dihina Kini Dipuja

Dipecatnya Marcelino Garcia Toral sepekan sebelum pertandingan perdana mereka di musim 2016/17 digulirkan menimbulkan banyak pertanyaan, terutama di kepala pendukung Villarreal.

Betapa tidak, nama Marcelino dianggap sebagai sosok utama kesuksesan Villarreal musim lalu. Sosoknya yang begitu berkarisma serta kemampuannya meramu strategi untuk menggabungkan pemain muda dan pemain senior adalah kunci keberhasilan Villarreal menembus posisi empat La Liga.

Tak heran, beberapa protes muncul usai Marcelino diumumkan lengser dari kursi pelatih kepala oleh presiden klub, Fernando Roig. Tidak hanya itu, kritik dilepaskan oleh pendukung The Yellow Submarine karena pemecatan Marcelino berada dalam waktu yang tidak tepat.

Roig tak banyak menanggapi pemecatan Marcelino. Ia lebih fokus pada pendekatan pelatih baru. Sehari berselang, upaya Roig berhasil. Ia mengumumkan nama Francisco Escriba Segura, sebagai juru taktik baru kesebelasan penghuni El Madrigal ini.

Tak pelak, keputusan mereka mendatangkan Escriba berbuah kritikan yang semakin pedas kepada dirinya. Pasalnya, beberapa nama sebelumnya telah dihubung-hubungan ke kesebelasan ini, termasuk Manuel Pellegrini yang pernah menangani tim ini. Kritik ini rupanya tak mempan bagi Roig. Ia percaya, Escriba adalah sosok yang tepat menangani Villarreal.

Escriba memang bukan merupakan sosok baru dalam persepakbolaan Spanyol. Sebelumnya, ia adalah pelatih kepala Elche dan Getafe. Sebelumnya lagi, ia duduk sebagai asisten pelatih di Valencia, Getafe, Benfica, Atletico Madrid, dan Benfica.

Sejauh mata memandang, tak ada yang istimewa dari Escriba. Ketika masih menjadi asisten pelatih, ia bukan kepercayaan pelatih besar. Ketika di Getafe, cara manajemen mengakhiri masa kerja sama dengan dirinya bahkan melalui pemecatan karena ia dianggap tidak cukup kompeten menangani tim seperti Getafe. Media Spanyol bahkan menyebutnya hanya pintar mengatur pertahanan tim saja.

Namun, jika ditelisik lebih dalam. Ada bakat istimewa dalam diri pelatih 51 tahun ini. Kesuksesan Elche masuk ke La Liga di musim 2013/14, yang merupakan prestasi terbaik klub dalam 25 tahun terakhir adalah andil Escriba. Terkenalnya nama-nama seperti Carlos Sanchez dan Carles Gil bahkan merupakan andil Escriba. Dan bakat itu lah yang berusaha dimunculkan oleh Roig.

Laga melawan AS Monaco di babak play off Liga Champions 2016/17 menjadi pertandingan perdana Villarreal di bawah Escriba. Meski pertandingan berakhir dengan kemenangan Monaco 1-2, namun Escriba tak merasa sedih karena timnya tampil timpang.

“Jika kami meminimalisir kesalahan, kami masih punya kesempatan. Tapi, dua pekan terakhir begitu berat buat kami karena ada banyak pemain cedera," ujar Escriba seperti dilansir Soccerway.

Laga kedua pun berjalan. Lagi-lagi hasilnya tak sesuai keinginan. Villarreal kembali memperoleh hasil buruk. Dalam laga yang digelar di Stade Louis II, Mateo Musacchio dkk kembali kalah dengan skor 1-0. Dan lagi-lagi Escriba tak kecewa karena timnya hanya kalah lewat sebuah gol penalti di akhir laga.

Hasil buruk dua laga tersebut menimbulkan kekecewaan di pendukung Villarreal. Escriba mereka anggap tak pantas menangani tim ini. Roig lagi-lagi membela diri, “Escriba pernah melakukan perubahan besar di tim lain. Dia mampu membawa tim tersebut dari divisi kedua dan tampil baik di divisi utama. Saya yakin dia mampu menangani tim ini.”

Kesabaran pendukung Villarreal pun diuji di dua laga perdana La Liga. Dalam dua laga tersebut, Villarreal hanya mampu meraih dua poin hasil dari dua kali imbang saat melawan Granada dan Sevilla.

Pembuktian akhirnya ditunjukkan oleh Escriba di laga ketiga La Liga. Menghadapi Malaga, Villarreal mampu menang dengan skor 0-2. Namun, ujian untuk Escriba baru dimulai di pekan kelima, saat ia dan anak asuhnya menghadapi Real Madrid di Santiago Bernabeu.

Diprediksi oleh media-media Spanyol bahwa Real Madrid bakal mendapatkan tiga poin di laga ini, mereka justru hanya mampu bermain imbang 1-1. Pujian pun mengalir deras dari pendukung Villarreal ke Escriba.

Pujian memang tak salah diberikan kepada Escriba. Dalam laga tersebut terlihat bagaimana Villarreal bertahan dengan sangat baik. Kehilangan Eric Bailly yang hijrah ke Manchester United sama sekali tak tampak di laga itu.

Total 22 tembakan yang dilepas secara bergantian oleh Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, dan Karim Benzema, tak satu pun membuahkan gol. Satu gol yang bersarang di gawang Sergio Asenjo bahkan hanya terjadi lewat skema bola mati.

Hasil baik tersebut kembali berlanjut pekan lalu. Menghadapi Osasuna di El Madrigal, Villarreal mampu menang 3-1. Kemenangan tersebut membuat Villarreal sejauh ini mencatatkan dua rekor sempurna; belum terkalahkan dalam enam laga awal La Liga dan rekor kebobolan terbaik kedua [dengan empat gol] setelah Atletico Madrid [dengan dua gol].

Hasil tersebut tentu saja membuat Escriba mampu membalik prediksi banyak orang. Semua orang yang menertawakannya di masa lalu pun terpaksa menelan pil pahit karena mengejek Escriba, termasuk pemilik Getafe, Ángel Torres Sánchez.

PS. Andai Getafe [yang kini di Segunda Division] musim lalu tidak memecat Escriba, mungkin nasib mereka tak akan seperti ini. Sebab, ketika tulisan ini ditulis, Getafe memecat pelatihnya, Juan Esnaider, yang malah membuat mereka hanya mampu meraih satu kemenangan dalam tujuh laga La Liga.

Komentar