Kisah Masa Buruk Ibrahimovic Bersama Guardiola

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi 54928

Ardy Nurhadi Shufi

Juru Taktik Amatir
ardynshufi@gmail.com

Kisah Masa Buruk Ibrahimovic Bersama Guardiola

"Hei, Zlatan, apakah dia (Guardiola) melihatmu hari ini?" ujar Thierry Henry pada Zlatan Ibrahimovic. "Tidak, tapi aku melihatnya, bagian belakang tubuhnya!" jawab Ibra.

"Selamat! Ada perkembangan!" seloroh Henry yang langsung membuat keduanya tertawa.

Sama seperti Thierry Henry, Zlatan Ibrahimovic diketahui mengalami masa yang tidak mengenakkan selama berseragam Barcelona. Henry menjadi orang yang tahu apa yang dirasakan Ibra saat itu karena penyerang asal Prancis tersebut sudah lebih dahulu mengalami masa sulit di Barca, seorang pemain besar yang kerap dibangkucadangkan.

Selama di Barcelona, Ibra memang berkutat dengan sejumlah tanya. Dalam bukunya yang berjudul `I Am Zlatan`, masa-masanya di Barcelona selalu diliputi pertanyaan seperti "Apa yang terjadi? Apa kesalahan yang telah aku lakukan? Apakah aku terlihat aneh? Apa aku telah meracau?". Bahkan Ibra pun menyebut bahwa ia kesulitan tidur di Barcelona karena pertanyaannya itu selalu menghantuinya.

Menurut Ibra, Pep Guardiola, Pelatih Barcelona saat itu, memang menunjukkan kebencian padanya. Pep tak pernah menoleh pada Ibra, sehingga menjadikannya candaan dengan Henry yang juga bernasib sama. Pep seolah selalu menghindarinya. Ibra kemudian menjelaskannya lebih jauh, "Jika aku memasuki sebuah ruangan dan dia ada di situ, maka ia akan keluar."

Sebenarnya Ibra telah mengetahui jawabannya. Hal ini berkaitan dengan permintaan seorang pemuda dari akademi La Masia yang baru dipromosikan ke tim senior bernama Lionel Messi. Seorang pemuda hebat yang mampu membuat Pep luluh ketika mengatakan, "Aku tidak mau bermain di sisi kanan, sebagai pemain sayap, lagi. Aku ingin berada di tengah."

Permintaan Messi saat itu langsung disikapi Pep dengan mengganti formasi dari 4-3-3 menjadi 4-5-1. Ibrahimovic tetap mendapatkan tempat sebagai penyerang tengah. Namun, Messi bermain di belakangnya. Lebih buruk (bagi Ibra), Messi menjadi pusat permainan. Sementara Ibra, sendirian di depan untuk membukakan celah bagi rekan-rekannya di lini pertahanan lawan.

"Masalahnya itu adalah posisiku," ujar Ibra dalam bab 1 bukunya. "Tapi Guardiola tak peduli. Dia mengubah taktik, dari 4-3-3 menjadi 4-5-1 dengan aku berada di paling ujung dan Messi tepat di belakangku, meninggalkanku seperti bayangan. Semua bola mengalir pada Messi dan aku tidak bisa memainkan sepakbolaku."

Tak lama kemudian Ibra meminta penjelasan pada Pep mengenai pola baru Barcelona dan perannya di tim. Ibra merasa terpinggirkan karena Messi-lah sang bintang. Padahal saat itu ia didatangkan dengan biaya cukup mahal, salah satu investasi terbesar Barcelona dengan 69,5 juta euro.

"Aku tidak ingin berkelahi. Aku tidak menginginkan perang. Aku hanya ingin mendiskusikan beberapa hal," Zlatan membuka pembicaraan di bangku cadangan saat Barcelona menggelar latihan. "Jika kau berpikir aku ingin sebuah pertarungan, aku akan pergi. Aku hanya ingin berbicara."

Pep kemudian mengangguk, dan berkata, "Bagus! Aku senang berbicara dengan pemain." Namun menurut Ibra, ekspresi Pep saat itu agak dingin.

"Dengar, kau tidak menggunakan kemampuanku. Jika seorang penyerang murni yang kau inginkan, kau harusnya membeli Inzaghi atau penyerang lainnya. Aku butuh ruang, dan aku harus dibebaskan bergerak. Aku tidak bisa bergerak lari naik dan turun, selalu. Aku punya berat badan 98 kilo dan aku tidak punya kekuatan fisik seperti itu," keluh Ibra.

"Aku pikir kamu bisa bermain seperti ini," timbal Pep.

"Tidak. Jika begitu, cadangkan saja aku. Dengan segala hormat, aku mengerti posisimu, tapi kau mengorbankan aku untuk seseorang pemain lainnya. Itu tidak berhasil. Itu seperti kau membeli Ferrari tapi kau mengendarainya seperti hanya mengendarai Fiat," jawab Ibra.

"Oke, itu memang menjadi sebuah kesalahan. Itu menjadi masalahku. Aku akan mencari pemecahannya," tutup Pep.

Berlanjut ke halaman berikutnya:

Komentar