Kosovo dan Perjuangannya Menggapai Tiket Piala Dunia Perdananya

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kosovo dan Perjuangannya Menggapai Tiket Piala Dunia Perdananya

Di antara negara pecahan Yugoslavia lain, Kosovo menjadi negara yang paling tidak beruntung. Di saat negara lain langsung mewujudkan kemerdekaan, Kosovo harus menunggu belasan tahun untuk memiliki lagu kebangsaan sendiri.

Status quo yang mereka alami saat itu bahkan diperparah dengan kebencian orang-orang Serb kepada mereka yang mayoritas muslim. Pembantaian dan serangan Serbia mau tidak mau menjadi makanan sehari-hari mereka.

Setelah 16 tahun menunggu, Kosovo pada akhirnya diterima menjadi sebuah negara yang merdeka. Dalam rapat PBB, 17 Februari 2008, mereka diakui sebagai negara yang berdaulat.

Namun, diterimanya Kosovo sebagai sebuah negara berdaulat oleh PBB tidak semudah mengubah status mereka di federasi sepakbola dunia, FIFA. Jalan mereka untuk ikut berkompetisi dalam serangkaian acara yang menjadi jadwal FIFA kerap menemui ganjalan lantaran Serbia kerap melayangkan protes.

FIFA, sebagai induk sepakbola tertinggi di dunia, sebenarnya tidak serta merta menerima protes Serbia. Beragam cara mereka lakukan demi membukakan pintu sepakbola dunia bagi Kosovo. Mulai dari memperbolehkan melakukan pertandingan uji tanding, hingga melakoni pertandingan internasional. Meskipun cara yang disebutkan terakhir memicu banyak pertanyaan lantaran pertandingan internasional mereka tanpa adanya lagu dan bendera kebangsaan.

Selama delapan tahun Kosovo menagih janji FIFA. Bersamaan dengan diselenggarakannya kongres FIFA, awal Mei 2016 lalu, Kosovo menerima buktinya. Mereka diterima sebagai negara anggota FIFA ke-210. Beberapa sosok di dunia sepakbola, yang memiliki hubungan dengan Kosovo pada akhirnya ikut melakukan perayaan.

Status tersebut pun membuat Kosovo berhak mengikuti beragam kompetisi yang masuk kalender FIFA, mulai dari level klub hingga tim nasional. Adanya status tersebut membuat mereka secara tidak langsung berhak tampil di kompetisi ter-elite untuk negara di dunia, Piala Dunia. Dan perjuangan mereka pun akan dimulai pada kualifikasi Piala Dunia 2016 melawan Finlandia di Turku, Selasa (6/9) dini hari WIB.

Perjuangan Kosovo dan rakyatnya untuk mencapai saat-saat seperti ini memang tidak mudah. Beragam upaya sudah mereka lakukan untuk mencapai posisi mereka saat ini. Salah satunya adalah pengorbanan Rexha Rexhepi, salah satu legenda sepakbola Kosovo yang harus meregang nyawa akibat perang.

“Ia adalah orang yang membantu mengembangkan sepakbola di sini (Kosovo). Ia membantu keuangan salah satu kesebelasan ketika liga Kosovo memutuskan untuk lepas dari Yugoslavia pada 2011 lalu,” ucap Fidan Rexhepi, salah satu pemain profesional di Kosovo.

Beberapa tahun berselang, giliran Eroll Salihu yang berjuang. Salihu dikenal sebagai sosok yang aktif memperjuangkan sepakbola Kosovo agar mendapatkan legalitas dari FIFA.

“Kami hanya bermain sepakbola dengan tenang,” ujar Salihu dilansir New York Times. “Kami memiliki kesebelasan yang berdiri sejak 1922. Kami bahkan pernah mendatangkan 40.000 penonton dalam satu pertandingan. Tapi mengapa kami diperlakukan seperti ini?”

Beragam cara pun dilakukan oleh Kosovo agar mendapatkan hak-hak seperti halnya negara anggota FIFA lain. “Saya bersama Fadil Vokkri (kini menjabat sebagai presiden federasi sepakbola Kosovo) memilih untuk membuat petisi. Petisi tersebut isinya adalah meminta FIFA untuk memberikan kesempatan kepada kami agar bisa bertanding melawan anggota FIFA lain.”

“Kami berupaya mengerahkan segenap rakyat Kosovo untuk menandatangani petisi ini,” ujar Salihu. “Tidak hanya itu, kami juga mendatangi hotel tempat timnas Swiss dan Albania menginap. Hasilnya, kami mendapatkan tanda tangan Granit Xhaka, Xherdan Shaqiri, Valon Behrami, dan Lorik Cana.”

Petisi tersebut pada akhirnya berhasil disetujui oleh FIFA. UEFA, selaku badan sepakbola di bawah FIFA pun menyetujui Kosovo untuk membuat pertandingan internasional perdananya.

Perjuangan Kosovo usai diresmikan menjadi anggota FIFA, Mei 2016 lalu masih berlanjut. Kini bukan soal legalitas, namun soal pemain. Meski pertandingan resmi mereka, melawan Finlandia, Selasa (6/9) dini hari WIB, yang tinggal menunggu waktu, skuat Kosovo bisa dibilang jauh dari kata mumpuni.

Beragam cara sebenarnya bisa diakali, seperti status kewarganegaraan. Salah satu pengurus FIFA, seperti dikutip asiaone.com mengatakan bahwa Kosovo bisa memanggil pemain mereka yang pernah membela timnas lain, jika pemain yang bersangkutan membela timnas lain sebelum Kosovo diakui FIFA.

“Kami masih akan mencoba hal tersebut meski waktu yang kita miliki tidak banyak,” kata Salihu. “Jika tidak bisa, kami tidak akan memaksa, karena kami juga berupaya menjaga agar karier baik yang tengah mereka jalani terjaga.”

***

Perjuangan Kosovo untuk mendapatkan hak-nya memang begitu panjang. Namun, mereka harus ingat bahwa perjuangan mereka pasti akan sebanding dengan hasil. Emas saja bisa mereka dapatkan di Olimpiade Rio 2016, yang notabene adalah Olimpiade pertama mereka. Masa, tiket menuju Piala Dunia tidak bisa mereka dapatkan?

Komentar