Sofiane Feghouli di Antara Muslim dan Sepakbola

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Sofiane Feghouli di Antara Muslim dan Sepakbola

Jika Anda ingin tetap menjadi diri sendiri meski Anda berada di lingkungan baru, coba tanyakan kepada seorang Sofiane Feghouli, pemain timnas Aljazair yang sekarang berstatus sebagai pemain West Ham United. Ia mungkin tahu jawabannya dan bisa memberikan pencerahan.

Mulai musim 2016/2017, Feghouli memutuskan untuk pindah dari klub asal Spanyol, Valencia, untuk menyeberang ke daratan Inggris, membela klub asal London, West Ham United. Pindah ke Inggris, tentunya merupakan sebuah tantangan tersendiri baginya, apalagi ia adalah seorang muslim.

Inggris, pada masa lampau memang dikenal sebagai negara yang sedikit intoleran terhadap keberagaman. Bukan hanya kepada kaum muslim, namun juga kepada kaum-kaum lain seperti kaum kulit hitam Afrika dan juga kaum Asia. Film This is England karya Shane Meadows yang rilis kisaran 2006 dan 2007 menggambarkan dengan jelas bagaimana praktek rasialisme terjadi di Inggris kisaran 1980-an.

Hal ini pun diakui oleh Feghouli, dalam wawancara ekslusifnya dengan Independent, ia mengakui bahwa pada masa lampau, Inggris adalah negara yang intoleran terhadap kaum-kaum dari luar.

“Dahulu kala, pemain-pemain dari etnis dan kaum-kaum minoritas kerap menerima perlakuan rasis. Kalau sekarang, mungkin hampir sama dengan yang terjadi di Paris,” ungkap Feghouli.

Namun, alih-alih takut akan hal tersebut, Feghouli malah memilih untuk membela West Ham dan, pada saat mencetak gol pertamanya bagi The Hammers dalam babak kualifikasi ketiga Liga Europa, ia melakukan perayaan yang sama seperti yang dilakukan peraih medali emas Olimpiade 2012 London asal Aljazair, Mo Farah; bersujud.

Sujud Feghouli ini, di luar dugaan ternyata bukannya disambut dengan cemoohan, justru malah disambut dengan tepuk tangan dan applause yang meriah dari para penonton yang hadir di London Stadium. Melihat hal itu, Feghouli pun mengungkapkan bahwa ia senang setidaknya praktik rasialisme sudah sedikit demi sedikit memudar di Inggris.

“Suporter Inggris memang luar biasa – ramah, suportif, dan juga penuh dengan gairah. Mereka membiarkan saya merayakan gol dengan cara seperti ini (bersujud). Keyakinan (iman) bagi saya memang sesuatu yang penting, sekaligus juga bersifat pribadi,” ungkap Feghouli kepada Independent.

"Melihat para suporter yang bisa menerima saya, dan membiarkan saya merayakan gol dengan selebrasi seperti ini (bersujud), benar-benar pemandangan yang cukup menyentuh," tambahnya.

Feghouli Bukanlah Satu-Satunya

Berbicara tentang pesepakbola muslim di Inggris, Feghouli bukanlah satu-satunya. Ada pemain-pemain lain yang juga memiliki keyakinan yang sama dengan pemain yang sempat membela Aljazair dalam ajang Piala Dunia 2014 ini. Ada Yaya Toure, Mesut Özil, Samir Nasri, dan masih banyak lagi pemain lainnya.

Bahkan, beberapa di antaranya adalah karib Feghouli kala bermain bersama-sama di daerah sub-urban Paris, yaitu N`Golo Kante, Paul Pogba (pemain termahal saat ini), dan karibnya di timnas, sekaligus pemain yang bersinar bersama Leicester City musim lalu, Riyad Mahrez.

Pemain-pemain muslim di atas pun sudah mencetak beberapa prestasi mengagumkan, seperti mengantarkan klubnya juara, menjadi rebutan klub-klub besar, atau dibeli oleh klub lain dengan harga mahal. Terkhusus untuk hal ini, Feghouli mengatakan bahwa yang membuat mereka mampu berprestasi dengan baik adalah kemampuan mereka, bukan karena mereka muslim semata.

"Saya tentunya bangga dengan pemain-pemain muslim yang mampu meraih prestasi di sini, salah satunya adalah Riyad (Mahrez) yang mampu mengantarkan Leicester menjadi juara musim 2015/2016. Namun, saya juga ingin menekankan bahwa, yang membuat mereka bisa meraih prestasi membanggakan adalah karena mereka memang punya kemampuan yang bagus, bukan karena mereka muslim semata," ujar Feghouli.

Ajaran muslim yang memerintahkan untuk senantiasa melakukan hal yang baik dalam hidup, juga menghormati dan menghargai orang lain, bagi Feghouli, adalah sebuah pedoman yang ia pegang selama ia hidup. Prinsip inilah yang selalu membuatnya mencoba untuk tampil maksimal di lapangan, pun juga pemain yang lain.

"Keimanan saya ini menjadi pedoman saya dalam hidup. Islam mengajarkan saya untuk tetap menghormati dan menghargai orang lain, selain tentunya berbuat baik dalam hidup. Inilah mungkin yang membuat saya, khususnya, dan pemain lain, pada umumnya selalu tampil maksimal dalam setiap laga," ungkap Feghouli.



Pesan dari Feghouli Kepada Pemain Muslim yang Lain

Pemain yang menghabiskan masa kecilnya di daerah Saint-Ouen (Prancis) ini memiliki pesan-pesan khusus yang ia sampaikan dalam wawancara eksklusifnya bersama Independent ini. Berkaca kepada kesuksesan pemain-pemain asal Aljazair, yang juga adalah muslim, ia berharap bahwa pemain-pemain muslim yang lain mau berusaha lebih keras untuk menjadi pemain yang lebih baik.

"Saya harap saya dapat menginspirasi para pemain-pemain muslim yang masih berusia muda untuk tetap melakukan yang terbaik, tetap menjaga nilai-nilai yang diajarkan oleh keyakinan mereka, dan memainkan sepakbola yang luar biasa. Di balik apa yang pemain-pemain terkenal tampilkan di TV, ada keseriusan dan kerja keras di dalamnya," ungkapnya.

"Sepakbola itu seperti halnya piramida. Banyak sekali pemain, yang dilambangkan oleh lapisan bawah yang begitu luas, namun, semakin ke atas semakin mengerucut. Lapisan atas yang sempit itulah, tempat pemain-pemain terkenal berada, setelah melalui kerja keras yang tanpa henti. Saya harap, semua pemain muda mampu seperti itu," pungkasnya.

foto: @sffeghouli

Komentar