Tiongkok, Tempat Singgah Bagi Manuel Pellegrini

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Tiongkok, Tempat Singgah Bagi Manuel Pellegrini

Tiongkok mungkin bukan tempat yang baik untuk pulang. Negara yang sedang membangun dan membenahi diri untuk menjadi salah satu kekuatan dalam segala aspek di dunia ini pasti sangat riuh dan sesak. Tiongkok adalah tempatnya orang-orang untuk bekerja, karena mungkin, mereka sedang melakukan sesuatu untuk masa depan.

Namun, sekadar untuk tempat singgah sementara, tempat melepas penat sembari meneguk sebotol air mineral, mungkin Tiongkok adalah tempat yang tepat. Banyak warung makan di sini, dengan berbagai jenis makanan yang menggugah selera. Setidaknya, cocok sebagai tempat mengisi perut sebelum nanti melanjutkan perjalanan pulang.

Mungkin itulah yang ada dalam benak Manuel Pellegrini. Setelah resmi digantikan oleh Josep Guardiola sebagai manajer Manchester City, ia akhirnya memilih untuk pergi. Apalagi usianya sekarang yang sudah memasuki usia senja, bisa saja terbersit keinginannya untuk pensiun dari hingar bingar sepakbola Eropa yang sudah ia jalani selama bertahun-tahun lamanya.

Tapi, saat ia akan mengepak barang-barangnya untuk pergi, ternyata, ada tawaran singgah bagi dirinya yang datang dari sebuah tanah bernama Tiongkok. Tawaran untuk menangani Hebei China Fortune, salah satu klub yang berkompetisi dalam ajang Chinese Super League. Ia pun berpikir ulang, daripada pulang sekarang, ada baiknya singgah terlebih dahulu di sana.

Singkat kata, sekarang, ia sudah resmi menjadi pelatih Hebei, menggantikan peran dari Li Tie yang dipecat oleh klub. Setidaknya, pihak Hebei berharap bahwa dengan datangnya Pellegrini, yang berpengalaman mengantarkan City menjadi juara Liga Primer Inggris sekaligus membawa The Citizens tampil di babak semifinal Liga Champions Eropa musim lalu, dapat berbuat sesuatu.

Jika bagi Hebei ia adalah harapan, Pellegrini, bisa saja, menganggap ini sebagai bagian dari sebuah proses singgah belaka, mengingat mungkin tak lama lagi ia akan segera pulang kampung ke Chile, atau malah menangani klub Eropa kembali.

**

Manuel Luis Pellegrini Ripamonti, begitu nama lengkapnya, menjejakkan kakinya di Eropa pertama kali pada 2004 silam. Kala itu, ia dipercaya menjadi pelatih dari klub Spanyol, Villarreal. Sepak terjangnya selama melatih berbagai klub di Amerika Selatan tampaknya mengundang minat dari Villarreal untuk meminangnya. Perjalanan Pellegrini yang nomaden pun dimulai di Eropa.

Membawa Villarreal meraih UEFA Intertoto Cup pada 2004, dan mengantar Villarreal melaju sampai babak semifinal Liga Champions Eropa 2005/2006, Pellegrini mulai berpindah tempat ke Real Madrid. Di sana, ia dipercaya untuk menangani sebuah tim yang sedang merintis proyek bernama Galacticos jilid kedua. Sayang, ia gagal di sini.

Lalu, ia pun menangani Malaga. Ketika itu 2010, dan Malaga pun sedang mencoba menjadi kekuatan baru di Spanyol. Berbeda dengan ketika di Madrid, di sini ia mendapatkan kepercayaan penuh, sehingga dapat membangun kekuatan skuat sesuai dengan yang ia inginkan, dan mengantarkan Malaga lolos ke Liga Champions Eropa, bahkan sampai bisa menembus babak delapan besar.

Prestasi mengilapnya di Spanyol inilah yang mengantarkannya menuju Inggris, yang kata orang disebut sebagai rumah sepakbola. Ia pun menangani tim yang terhitung tidak macam-macam; Manchester City. Status City ini pun hampir sama seperti Madrid, yang sedang membangun diri untuk menjadi kekuatan sepakbola Eropa.

Di sini, tidak seperti di Madrid, ia berhasil meraih sukses. Gelar Liga Primer Inggris berhasil ia daratkan di Etihad Stadium, bersama dengan dua gelar Piala Liga Inggris pada musim 2013/2014 dan 2015/2016. Ia juga berhasil mengantarkan City melaju ke babak semifinal Liga Champions Eropa 2015/2016, sebelum dikalahkan Real Madrid. Itulah sekilas perjalanan Pellegrini di Eropa.

Sekilas, tidak ada yang aneh dengan perjalanan Pellegrini di Eropa. Namun, terlihat bahwa raut wajah pelatih kelahiran Chile ini semakin hari semakin redup. Apa ini karena usianya yang sudah tua? Hal itu mungkin saja. Tapi, tampaknya ada hal lain yang membuat ia terlihat begitu lelah.

Ternyata, selama melatih klub-klub Eropa, ia sering kali menjadi orang yang tertindas. Hal ini terjadi saat ia melatih Real Madrid dan Manchester City. Saat di Madrid, ia dianggap tidak becus menangani skuat yang bertaburan bintang-bintang di dalamnya. Ia dipecat dan akhirnya digantikan oleh Jose Mourinho saat itu, sebagai korban dari Florentino Perez, sang penggagas Galacticos jilid kedua.

Sedangkan di City, kejadiannya lebih sedih lagi. Pengumuman kedatangan Pep jauh-jauh hari sebelum musim usai membuat skuatnya menjadi tak karuan dalam mengarungi sisa kompetisi. Meski mampu mencapai babak semifinal Liga Champions Eropa, ia tak kuasa mengantarkan City berprestasi lebih jauh di Liga Primer Inggris selain posisi empat besar.

Ketertindasan inilah yang, mungkin membuat ia ingin sejenak lepas dari kompetisi Eropa, dan sejenak singgah di Hebei China Fortune, sambil memikirkan langkah selanjutnya.

**

Sekarang, Pellegrini sudah ada di Tiongkok, sedang singgah sembari menanti waktu yang tepat untuk pulang atau kembali bertualang. Sambil singgah, ia berpikir, tak ada salahnya bekerja paruh waktu dengan menangani klub di sini. Siapa tahu kelak akan ada klub besar yang tertarik, dan kembali meminangnya untuk menjadi pelatih.

Tapi yah, jikapun tidak ada, toh, Pellegrini bisa pulang ke Cile. Usianya sudah cukup tua. Kasihan ia kalau dibebani tekanan yang tak terlihat secara terus-menerus.

Komentar