Keteguhan Pep Guardiola Pada "Possession Football"

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Keteguhan Pep Guardiola Pada "Possession Football"

Prinsip adalah hal terpenting dalam hidup seseorang. Tanpa prinsip, seseorang akan kebingungan dalam menentukan tujuan hidup apa yang hendak diraih. Tanpa prinsip juga, orang akan dengan mudah terbawa oleh hembusan angin dan pada akhirnya terombang-ambing tak memiliki pendirian. Intinya, hidup mesti memiliki prinsip, agar hidup tidak mudah untuk goyah.

Berbicara tentang prinsip, utamanya prinsip dalam bersepakbola, ada beberapa nama yang begitu teguh memegang prinsipnya dalam bersepakbola. Dari sekian banyak orang yang memiliki prinsip yang tak tergoyahkan dalam bersepakbola, salah satunya ada seseorang dari Spanyol yang sekarang menjadi manajer di Manchester City, Pep Guardiola.

Meski sudah beberapa kali menelan kekalahan akibat berpegang teguh pada prinsip bersepakbolanya, yakni bermain indah dan mengendalikan permainan selama 90 menit, nyatanya, ia masih tetap percaya bahwa prinsipnya dalam bersepakbola ini diyakini akan membawa klub barunya, Manchester City, menjadi salah satu klub yang disegani di Eropa, meski ia tahu, butuh waktu untuk melakukan itu.

Ditemukan di Barcelona, Redup Juga di Barcelona

Pada 2009, mata pecinta sepakbola dunia terbelalak. Mereka semua menjadi saksi dari kelahiran sebuah permainan yang ajaib, indah, namun sekaligus menakutkan dan mematikan. Ya, permainan yang kerap diasosiasikan dengan tiki-taka berhasil disempurnakan oleh orang Spanyol yang kala itu melatih Barcelona, Josep "Pep" Guardiola.

Berkat permainan yang menakjubkan tersebut, Barca ia antar meraih prestasi-prestasi gemilang. Trofi La Liga, Copa del Rey, dan trofi Liga Champions Eropa adalah trofi-trofi bergengsi yang masuk ke dalam lemari trofi Barcelona. Namun, itu semua tidak berlangsung lama karena, pada 2010, permainan ini langsung menemukan anti-tesisnya dalam permainan berlabel "parkir bus", hasil modifikasi Catenaccio oleh pelatih Inter Milan kala itu, Jose Mourinho.

Mulai saat itu, Pep dengan permainan pass and move nya kerap kesulitan menghadapi tim dengan pertahanan yang terorganisir, dilengkapi dengan serangan balik cepat nan mematikan. Inter Milan adalah yang pertama, kemudian ada juga Chelsea, dan Atletico Madrid, yang tampaknya mengikuti jejak The Special One dalam menghentikan permainan pass and move atau tiki-taka. Tak berlangsung lama, setelah itu permainan pass and move pun mulai meredup kekuatannya.

Tetap Akan Menggunakan Gaya yang Sama di City

Menangani City musim 2016/2017, sekaligus bersua orang yang menemukan anti-tesis dari permainan pass and move miliknya, Jose Mourinho yang memanajeri Manchester United, Pep Guardiola tidak gentar. Dalam wawancaranya dengan Sky Sports, ia menuturkan bahwa ia masih akan tetap menerapkan permainan ball possession di tim barunya ini.

"Saya menginginkan bola selama 90 menit. Ketika tim saya tidak memiliki bola, saya akan menerapkan high pressing karena saya ingin tim saya memegang penuh kendali bola," ujar Pep.

Ia pun membantah saat ditanya apakah akan mengubah gaya dan prinsip bermainnya dalam bermain ketika permainan possession yang ia tampilkan memberikan hasil yang tidak diharapkan. Ia tidak melihat adanya alasan baginya untuk menanggalkan cara bermainnya itu.

"Tidak mungkin, tidak mungkin saya melakukannya (mengubah gaya bermain). Atas dasar apa saya harus berkorban untuk melakukan hal itu? Meski saya kalah dengan permainan saya ini, saya akan tetap menggunakannya. Saya menang beberapa kali sebagai pelatih dan pemain dengan gaya ini. Dengan gaya bermain ini pulalah tim saya mencetak banyak gol dan kebobolan sedikit gol saja," tambah Pep.

Selama melatih Barcelona, juga melatih Bayern Muenchen, Pep memang berkali-kali berhasil, minimal, menjadi juara dalam ajang domestik dengan gaya permainannya ini. Gayanya ini hanya berbenturan ketika tampil dalam ajang Liga Champions Eropa. Kebetulannya lagi, semua tim yang mengalahkannya dalam ajang Liga Champions Eropa saat melatih Muenchen, adalah tim dari Spanyol.

Siap Menghadapi Tekanan yang Lebih Berat di Inggris

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Pep sudah terbiasa dengan persaingan dua klub dalam karier kepelatihannya (Real Madrid dan Barcelona di Spanyol, serta Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund / Wolfsburg di Jerman). Menjajaki tanah Inggris, kebetulan sekali, ia datang bersamaan dengan nama-nama mentereng dan nama-nama yang sudah mencicipi kompetisi ini lebih dahulu.

Di sini, ia tidak hanya akan berhadapan dengan satu manajer saja. Antonio Conte, Juergen Klopp, Arsene Wenger, Claudio Ranieri, dan Jose Mourinho sudah menantinya di altar pertarungan untuk memperebutkan gelar juara Liga Primer Inggris musim 2016/2017. Menghadapi mereka semua, Pep mengaku sudah siap dan akan menggunakan gaya bermainnya ini sebagai cara menghadapi mereka.

"Saya harus menghadapi segala tekanan yang ada di sini. Pada akhir musim nanti, presiden klub lah yang akan memutuskan masa depan saya, apakah mereka akan tetap percaya kepada saya atau tidak," ujar Pep.

"Saya juga paham bahwa pendukung selalu menginginkan hal yang terbaik, ingin melihat timnya bermain dengan indah dan meraih kemenangan, saya tahu itu. Saya akan menerimanya, sembari tetap fokus kepada tim dan juga para pemain yang akan bertanding di lapangan," tambahnya.

***

Pep boleh saja menanamkan prinsip bersepakbolanya kepada para pemain City, karena memang itu adalah hak, sekaligus kewajibannya sebagai manajer The Citizens. Namun, ada baiknya ia menanamkan gaya ini karena kebutuhan tim, bukan semata-mata karena altruisme yang menghantui mata dan pikirannya.

Karena, siapa tahu, di sisi Manchester yang lain, seseorang sudah menyiapkan lagi anti-tesis yang tidak pernah terduga sebelumnya, yang ia siapkan khusus untuknya. Sementara kalah dari sesama kesebelasan asal Manchester, meski bermain indah, tetap akan menjadi catatan negatif bagi kariernya.

Komentar