Gustavo Gomez, Si Bungsu Penggawa Baru AC Milan

Cerita

by Abrar Firdiansyah 29168

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Gustavo Gomez, Si Bungsu Penggawa Baru AC Milan

Bek tengah menjadi persoalan AC Milan musim lalu. Dari enam pemain belakang yang mereka miliki, hanya Alessio Romagnoli dan Alex yang benar-benar dapat bermain sesuai ekspektasi. Sementara sisanya, Phillipe Mexes, Christian Zapata, Rodrigo Ely, dan Stefan Simic malah muncul sebagai simbol kelemahan.

Mau tak mau Milan dituntut untuk mendapatkan bek tengah baru demi menghilangkan masalah tersebut. Beberapa nama pun disebut didekati Milan, seperti Shkodran Mustafi dan Mateo Musacchio. Namun, kabar tersebut pada akhirnya tidak terealisasi hingga saat ini.

Beberapa hari setelah kabar mengenai dua pemain di atas mulai hilang, Milan disebut mendekati sosok anyar, Gustavo Gomez. Munculnya nama Gomez begitu mengagetkan Milanisti. Betapa tidak, Gomez bukan nama besar seperti halnya Mustafi dan Musacchio.

Nama Gomez muncul usai pemain asal Paraguay ini tampil bak dewa bagi Lanus usai kesebelasan tersebut tampil sebagai pemuncak klasemen sementara Divisi Utama Liga Argentina. Jum’at (6/8) Gomez resmi berseragam Rossoneri.

Si Bungsu yang Harus Pergi Jauh

Gustavo lahir di San Juan Bautista, Paraguay, pada 6 Mei 1993. Ia merupakan anak terakhir dari empat bersaudara. Ibunya, Gloria, bekerja sebagai pegawai negeri, sementara ayahnya, Joseph, bekerja sebagai pekerja di bidang kontraktor.

Meski demikian, pekerjaan orang tuanya yang terbilang berkecukupan tidak membuat ia bisa menikmati masa kanak-kanaknya dengan menyenangkan. Jumlah saudara yang terbilang banyak serta kawasan tempat tinggalnya yang keras membuatnya harus rela hidup di garis kemiskinan.

Kepada Elgrafico, Gomez bercerita bahwa ia selalu menghabiskan dua jam di siang hari di lapangan sepakbola, “Setiap siang saya lalu menghabiskan waktu untuk bermain sepakbola. Dan saya beruntung, bakat saya dilihat oleh Carlos Guirland (bekas pemain Olimpia).”

Baiknya penampilan Gomez membuatnya diajak oleh Guirland untuk ikut seleksi tim junior Paraguay. “Saya pada akhirnya berhasil masuk ke dalam daftar pemain untuk timnas Paraguay yang akan mengikuti Piala Amerika Selatan U17 di Chile,” ucapnya.

Seusai bertanding di Piala Amerika Selatan U17, Gomez langsung dipromosikan oleh Guirland ke dua kesebelasan besar, Cerro Porteno dan Olimpia. Namun sayang, dua kesebelasan tersebut tak tertarik kepadanya. Gomez akhirnya didaratkan oleh Guirland ke Club Libertad Asuncion.

Bermain di Libertad sempat membuatnya tidak bahagia. Hal ini dikarenakan ketika di usia 18 tahun ia harus tinggal di daerah yang berjarak 200 km dari rumahnya. Gomez berkata persoalan tersebut disebabkan karena statusnya sebagai anak bungsu, yang menurutnya begitu dekat dengan orang tuanya.

“Saat itu, obat saya untuk meredam rasa rindu dengan keluarga hanya keinginan untuk menjadi pengganti Carlos Gamarra,” ujarnya.

Musim demi musim dilalui oleh Gomez. Pada 2014, ia resmi didatangkan oleh kesebelasan Argentina, Lanus. Saat itu, Lanus diyakini mengeluarkan biaya hingga 3 juta dollar demi mendapatkan Gomez, sekaligus mengalahkan tawaran kesebelasan Eropa salah satunya Hellas Verona.

Belajar dari Tiga Mentor Hebat

Kedatangan Gomez di Lanus pada usia 21 tahun membuatnya begitu diharapkan oleh pendukung Lanus. Apalagi saat itu ia datang dengan status sebagai pengganti kapten tim, Paolo Goltz, yang pergi ke kesebelasan Meksiko, Club America.

Tantangan untuk menggantikan Goltz membuatnya merasa memiliki beban yang begitu besar. Gomez mengakui sempat ada kesulitan baginya di masa-masa awal kepindahannya ke Lanus. Beruntung, menurutnya pelatih Lanus, Guillermo Barros Schelotto, memberinya banyak kesempatan untuk belajar.

“Schelotto banyak memberikan pelajaran bagi saya. Saya bahkan merasa beruntung bisa belajar banyak dari Schelotto yang empat kali menjuarai Copa Libertadores,” ungkapnya. Kesempatan belajar yang ia dapat membuatnya semakin matang. Di tahun 2013, kolaborasinya dengan Schelotto membuat Lanus berhasil mendapatkan Copa Sudamericana pertamanya.

Tidak hanya belajar dari Schelotto, Gomez juga banyak mempelajari ilmu menjadi bek tengah terbaik dari tangan Jorge Almiron dan Ramon Diaz. Almiron menjadi pelatih Gomez mulai 2014 di Lanus seiring kepindahan Schelotto ke Boca Juniors, sementara Diaz menjadi pelatih Gomez selama ia berada di timnas Paraguay.

“Almiron banyak mengajari saya cara bermain dengan banyak pola. Ia juga merupakan pelatih yang bisa membuat kami bersemangat ketika berada di lapangan. Sementara Diaz adalah sosok pelatih yang tahu apa yang harus diperbuat oleh pemainnya,” imbuhnya.

Ilmu dari tiga pelatih berbeda dalam tiga musim terakhir membuat permainan Gomez begitu matang. Di usia yang telah memasuki 23 tahun ia pun mulai rutin dipercaya menjadi pemain utama di timnas Paraguay. Di gelaran Copa America Centenario, ia bahkan selalu dipercaya tampil 90 menit, meski pada akhirnya Paraguay gagal lolos ke babak perempat final.

***

Keputusan Milan mendatangkan Gomez memang awalnya sempat memicu perdebatan. Tapi perlahan melihat statistik penampilan istimewanya bersama Lanus diyakini bakal memberikan dimensi berbeda untuk lini belakang Milan. Pemain yang kini berusia 23 tahun ini terbiasa dengan skema 4-3-3 di Lanus, yang menjadi rencana pelatih baru AC Milan, Vincenzo Montella.

Baca juga: Empat bek atau tiga bek, Montella?

Sama seperti di Lanus, di Milan pun Gomez tampaknya akan memikul beban berat karena rapuhnya lini pertahanan Milan musim lalu. Meskipun begitu, duetnya dengan Romagnoli tampaknya cukup menjanjikan bagi pertahanan skuat berjuluk Rossoneri. Karena mereka berdua masih berusia muda, keduanya bisa menjadi aset berharga bagi AC Milan untuk masa yang akan datang.

Komentar