Mauricio Pochettino Melawan Kenangan Buruk

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Mauricio Pochettino Melawan Kenangan Buruk

Kenangan buruk, seperti yang dialami oleh tokoh Tito dalam film Pencarian Terakhir, akan selalu mengendap dalam ingatan untuk waktu yang lama. Tito, yang kehilangan sahabatnya kala mendaki sebuah gunung di wilayah Sukabumi, Jawa Barat, akhirnya mampu move on dari kenangan buruk tersebut dengan melawan kenangan buruknya, dan menyelamatkan adik temannya, Sita, yang juga tersesat di gunung tersebut.

Melawan kenangan buruk bukan hanya dilakukan oleh Tito saja. Mungkin Anda juga pernah mengalami hal yang sama seperti yang dialami Tito. Berhadapan dengan kenangan buruk, untuk kemudian tenggelam di dalamnya, atau malah makin terseret jauh dalam kenangan buruk tersebut tanpa tahu jalan untuk kembali.

Mauricio Pochettino, manajer Tottenham Hotspurs, juga merasakan apa yang Tito rasakan. Pada musim 2015/2016, ia dan anak asuhnya mengalami sebuah kenangan buruk. Mungkin hampir mirip dengan apa yang Liverpool rasakan pada musim 2013/2014, yaitu saat gelar juara yang semestinya masih bisa mereka kejar, lepas dari genggaman.

Pada musim 2015/2016, Spurs berpeluang besar untuk meraih gelar juara Liga Primer Inggris. Sampai pekan-pekan terakhir, mereka masih berada di peringkat ke-2 klasemen, di bawah Leicester City. Pertandingan melawan Chelsea menjadi salah satu pertandingan yang menentukan. Kalah atau seri, maka gelar akan melayang ke King Power Stadium.

Pertandingan pun berjalan. The Lilywhites sudah unggul 2-0 sejak babak pertama. Mereka percaya diri mengakhiri pertandingan dengan kemenangan. Namun, apa yang terjadi akhirnya menjadi sebuah mimpi buruk. Pertandingan berjalan menjadi beringas. Sembilan pemain terkena kartu, plus hukuman larangan bermain selama enam pertandingan untuk Mousa Dembele, karena bersitegang dengan Willian.

Tapi Chelsea mampu mengejar ketertinggalan dua gol tersebut. Hasil akhir pertandingan saa kuat 2-2. Gelar akhirnya pindah ke Leicester City. Para pemain The Foxes yang mengadakan nobar pun bersuka cita. Di sisi lain, para pemain Spurs tertunduk, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka alami di Stamford Bridge.

Lalu, sisa musim pun berjalan menjadi tidak mengenakkan bagi klub yang bermarkas di White Hart Lane. Bahkan, dalam dua pertandingan terakhir liga, mereka menderita kekalahan; skor 2-1 dari Southampton dan 5-1 dari Newcastle United. Jika kekalahan dari Southampton tidak terlalu memengaruhi perasaan dari skuat Pochettino, namun, kekalahan dari Newcastle benar-benar menjadi sebuah mimpi buruk, selain tentunya mimpi buruk di Stamford Bridge melawan Chelsea.

“Pada akhirnya, musim yang menyenangkan pun berakhir menjadi musim yang emosional dan penuh dengan ketegangan. Ini adalah kali pertama para pemain saya mengalami situasi seperti ini, dan itu sangat sulit. Saat menderita imbang dengan Chelsea, kami seolah kehilangan arah, dan bagi saya, mengembalikan kondisi para pemain seperti semula itu cukup sulit,” ujarnya kepada ESPN FC.

“Selain hasil imbang melawan Chelsea, ada lagi satu pertandingan lain yang membawa saya pada memori buruk. Kekalahan 5-1 atas Newcastle United. Kekalahan itu benar-benar membuat mood saya selama liburan musim panas benar-benar kacau. Kenangan buruk yang sulit untuk dilupakan,” tambahnya.

Meski kenangan buruk itu menghantui, bahkan sampai mengganggu liburan musim panas seorang Pochettino, ia berusaha untuk melakukan apa yang Tito lakukan kala melawan kenangan buruknya akan kejadian di sebuah gunung di Sukabumi. Ia tahu bahwa hal itu akan menjadi pengalaman berarti bagi pemainnya, sehingga ketika ia kembali mengalami hal yang sama, kejadian yang sama tidak akan terulang.

“Untuk menjadi seorang pemenang, Anda harus bermain dengan menentang batas. Selalu. Sebuah pertandingan akan menjadi pengalaman berarti ketika kita tahu ada batas yang harus kita tabrak di situ. Jika kita pandai dan mau belajar, batas tersebut akan kita gunakan untuk berkembang. Musim selanjutnya adalah ujian, dan, menurut saya, jika kita mampu belajar dari pengalaman musim sebelumnya dan bergerak maju, berarti kita adalah orang yang pandai dan mau belajar,” ujar Pochettino.

Menarik untuk menantikan kiprah Poch bersama Spurs yang cukup luar biasa musim lalu. Apalagi, musim depan Spurs akan tampil di Liga Champions Eropa. Ujian konsistensi akan lebih berat karena mereka harus tampil di kompetisi Eropa. Namun, tidak ada salahnya juga Pochettino berusaha untuk melawan kenangan buruk, agar kelak kenangan buruk itu tidak kembali menghantuinya dan timnya.

foto: essentiallysports.com

Komentar