Petualangan Kristian Adelmund (Belum) Berakhir

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi 37246

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Petualangan Kristian Adelmund (Belum) Berakhir

Hampir semua orang menyukai petualangan. Lewat petualangan, kita akan menemukan hal-hal baru yang akan menjadi sesuatu hal yang berharga dalam ingatan kita. Lewat petualangan juga kita bisa mengukur batas kemampuan yang kita miliki.

Karena petualangan juga, seorang lulusan akademi Feyenoord, salah satu akademi sepakbola tersohor di Belanda, menapaki karier di Indonesia. Pria ini memang memiliki jiwa petualang. Pria ini bernama Kristian Adelmund.

Namun dari petualangan Adelmund itu, ternyata ia menemukan cerita lain di hidupnya. Di Indonesia, ia tak hanya menemukan pengalaman baru, tapi juga ia menemukan tempat yang bisa ia anggap seperti rumah. Ini pula yang menjadi alasan mengapa ia menitikkan air mata saat menjalani laga terakhirnya di depan puluhan ribu pendukung kesebelasan yang ia bela, Persela Lamongan.

***

Pemain asing di Indonesia biasanya cukup identik dengan pemain yang sudah cukup tua atau telah melewati usia matang. Terbilang sedikit pemain asing yang berkiprah di Indonesia namun masih berusia muda, di bawah 25 tahun misalnya.

Hal itu terjadi biasanya karena sang pemain mulai menurun kualitasnya dan mencoba peruntungannya di Indonesia. Apalagi kesebelasan Indonesia seringkali mendapatkan pemain asing atas dasar tawaran dari agen, bukan mencari pemain sendiri.

Meskipun begitu, hal ini berbeda dengan Kristian Adelmund. Adelmund datang ke Indonesia di usia yang masih terbilang muda untuk ukuran pemain asing di Indonesia, 25 tahun. Ia mengakui, jiwa petualangnya-lah yang mengantarkannya ke Indonesia. Terlebih saat memutuskan untuk berkarier di Indonesia sebenarnya kontraknya dengan Capelle, kesebelasan divisi empat Belanda, belum habis.

"Kontrak saya di Capelle hampir habis waktu itu. Lalu teman saya yang bermain di PSIM, Lorenzo Rimkus, mengatakan timnya ingin mencoba saya. Saya datang bersama Emile Linkers, latihan dua-tiga kali kemudian dikontrak. Akhirnya kami main bersama," papar Adelmund memulai ceritanya.

"Saya orang yang senang dengan petualangan. Ketika tawaran datang dari Indonesia, saya pikir ini bagus sekali, saya akan pergi ke tempat yang tidak pernah saya datangi sebelumnya. Jiwa petualang saya yang membawa saya sampai ke Indonesia," lanjutnya.

Adelmund memang merupakan sosok yang menyukai petualangan. Bahkan ia memiliki sebuah tato di lengannya yang bergambar peta dunia. Pada sebuah unggahan di Instagram pribadinya, ia merasa beruntung bisa menjadi pemain sepakbola karena lewat sepakbola ia bisa pergi tempat-tempat yang belum pernah ia singgahi.

���"⚽️🌍â?"ˆï¸ One of the best parts of this job, you get to see the world. #Lucky

A photo posted by Kristian Adelmund (@kristianadelmund) on

Seperti petualang lain, Adelmund juga tentu harus beradaptasi dengan tempat baru yang ia singgahi, termasuk Indonesia. Dan hal itulah yang selama ini dilakukan Adelmund, ia selalu berusaha agar bisa senyaman mungkin menjalani karier di Indonesia. Pada tato di lengannya pun terdapat tulisan bahwa di manapun ia berada ia ingin selalu merasa berada di rumah.

"Tato ini memang menggambarkan jiwa petualang saya. Saya akan selalu berusaha beradaptasi di manapun saya berada. Di manapun, saya akan berusaha membuat diri saya senang dan nyaman."

Sesuatu hal yang membuat senang dan nyaman memang sering memunculkan rasa cinta. Hal ini juga yang dirasakan Adelmund selama di Indonesia. Awalnya ia hanya ingin bisa berkomunikasi dengan rekan-rekan setimnya. Namun lama kelamaan, ia menemukan dirinya telah mencintai Indonesia. Itulah kenapa ia cukup fasih berbahasa Indonesia, padahal ia belum lama tinggal di Indonesia.

"Saya belajar Bahasa Indonesia dari kawan-kawan setim. Saya tidak ikut sekolah atau kursus, hanya dari kawan-kawan saja. Ada beberapa kata yang agak sulit buat diucapkan," kata Adelmund. "Awalnya segala sesuatu memang sulit. Tak hanya bahasa, tapi cuaca panas di sini juga sempat bikin saya tidak tahan. Tapi kemudian saya lebih ingin belajar dan beradaptasi karena saya sudah cinta dengan negara ini."

Kecintaan Adelmund pada Indonesia juga dibuktikan dengan ia tetap tak meninggalkan Indonesia meski ia sempat mengalami situasi tak mengenakkan di awal kariernya di Indonesia. Saat itu, gajinya di PSIM tertunggak dan belum terbayarkan hingga saat ini.

Menurut Adelmund, saat itu memang merupakan saat-saat sulitnya selama di Indonesia. Ia juga tak memungkiri jika bahwa dari sisi finansial di Indonesia lebih baik dengan di Capelle. Namun lebih dari itu, di Indonesia ia bisa benar-benar menjalani karier sepakbolanya ketimbang di Belanda saat itu.

"Dari sisi finansial tentu berbeda. Di Belanda sana, ketika kamu main di divisi rendah, kamu bisa sambil kerja atau sekolah. Di divisi rendah banyak waktu luang. Sementara di sini segala sesuatunya lebih padat."

Setelah dari PSIM, Adelmund dengan mudah bergabung ke kesebelasan yang berlaga di divisi teratas Indonesia, Persepam Madura. Hal ini sebenarnya tak mengherankan. Karena secara kualitas ia memang cukup mumpuni mengingat ia merupakan pemain lulusan akademi Feyenoord.

Sejak kecil ia sudah menimba ilmu di kesebelasan besar kota kelahirannya yaitu Feyenoord Rotterdam. Selama menjalani akademi, ia merupakan salah satu teman dekat Royston Drenthe, pemain Belanda yang pernah bermain di Real Madrid, sebelumnya akhirnya Adelmund pindah ke Sparta Rotterdam pada 2007.

Tapi selama bermain di Indonesia, ia harus mengalami perubahan gaya bermain. Pemain yang idealnya ditempatkan sebagai bek tengah ini mengaku ia harus beradaptasi banyak dengan permainan di Indonesia, salah satunya adalah gaya bertahan.

"Teknik para pemain Indonesia berbeda dengan yang pernah saya hadapi di Belanda. Terlebih harapan pelatih pada saya saat bermain berbeda ketika saya main di Belanda. Di sana yang diinstruksikan banyak menahan posisi dan menunggu datangnya bola.Sementara di sini para pelatih lebih suka saya langsung ambil bola atau intersep langsung," tutur pemain yang juga akrab disapa Kris ini.

Meskipun begitu, Adelmund cukup beruntung memiliki partner-partner yang bisa membuatnya bermain dengan nyaman. Ia kemudian tak ragu menunjuk Waluyo, rekannya di PSS Sleman, sebagai partner terbaiknya di mana bersama Waluyo-lah ia membawa PSS Sleman menjuarai Divisi Utama pada 2013.

"Komunikasi saya dengan Waluyo waktu di PSS Sleman lancar. Kami juga seperti tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalau Waluyo maju, saya cover. Begitu juga sebaliknya. Kami bisa saling mengimbangi," tandas pemain yang menjadikan Cristian Gonzales sebagai lawan tersulitnya ini.

PSS Sleman sendiri menjadi kesebelasan yang cukup spesial di hati Adelmund. Sejak hijrah dari Persepam ke PSS, ia merasa luar biasa dengan sambutan para pendukung PSS Sleman. Bahkan lebih dari itu, PSS Sleman-lah yang membuatnya semakin jatuh cinta pada Indonesia.

"Ada atmosfer yang luar biasa di sana. Waktu itu perasaan saya mengatakan bahwa saya berada di tempat yang tepat," kenang Adelmund. "Ini juga yang saya rasakan ketika membela Persela Lamongan. Atmosfer yang luar biasa di setiap pertandingannya."

Saking begitu mencintainya Adelmund pada PSS, pemain yang kini berusia 29 tahun ini memasang tato bergambar trofi di kaki kirinya, yang merupakan kaki terkuatnya. Tato tersebut ia buat sebagai bentuk kebanggaan dan keberhasilan Adelmund saat bermain di PSS Sleman.

"Kalau tato peta dunia menggambarkan jiwa petualang saya, tato yang di kaki ini menjadi pengingat dan kebanggaan saya karena pernah menjadi bagian dari PSS Sleman yang menjadi juara Divisi Utama," ungkap Adelmund.

Kecintaan Adelmund terhadap Indonesia, khususnya pada PSS Sleman, sepertinya bukan omong kosong belaka. Kepulangannya ke Belanda kali ini pun memang karena ia ingin total mengurus sang ayah, Martin Adelmund, yang sedang terbaring sakit.

"Ayah saya adalah alasan saya bisa bermain bola. Saya pulang ke Belanda pun karena saya ingin fokus merawat ayah saya. Walau tak menutup kemungkinan saya mempertimbangkan tawaran yang datang, saya tidak ada pikiran untuk mencari klub di sana. Saya ingin fokus dulu pada ayah saya," beber Adelmund.

Meskipun begitu, Adelmund tidak menutup pintu untuk dirinya kembali ke Indonesia. Baginya, Indonesia telah menjadi rumah keduanya. Ia juga sudah terlanjur mencintai Indonesia dan berharap suatu saat bisa kembali ke Indonesia.

"Kembali ke Indonesia? Pasti, tentu saja. Indonesia adalah rumah kedua saya. Saya tidak akan pernah lupa bagaimana hari pertama saya di PSS Sleman. Saya juga tidak akan pernah lupa atmosfer pertandingan di sana. Saya juga akan selalu merindukan atmosfer pertandingan di Stadion Surajaya (Lamongan). Indonesia tempat yang tepat, juga indah. Semoga ada kesempatan untuk kembali," tutupnya.

***

Adelmund menjalani laga terakhirnya bersama Persela Lamongan dengan menghadapi Persib Bandung pada Jumat, 29 Juli 2016, dan baru akan berangkat ke Belanda dua hari setelahnya. Namun, seperti yang sudah diungkapkan di atas, Adelmund juga tak menutup kemungkinan untuk kembali berkarier di Indonesia, terlebih kariernya di Indonesia terhenti karena hal di luar sepakbola.

Oleh karena itu, bisa jadi perpisahan sepakbola Indonesia dengan Adelmund, khususnya bagi pendukung PSS Sleman dan Persela Lamongan, merupakan perpisahan sementara. Karena berkat dukungan yang telah diberikan oleh para pendukung PSS dan Persela selama ini padanya, Adelmund merasa Indonesia merupakan rumah keduanya. Sementara rumah, merupakan tempat kembali pulang.

Goodbyes are not forever. Goodbyes are not the end. They simply mean we willl miss you until we meet again. Lekas kembali, Adelmund!

Komentar