Para Pesepakbola "Overaged" di Olimpiade

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Para Pesepakbola "Overaged" di Olimpiade

Sebelum 1992, setiap negara peserta mengirimkan tim senior mereka ke cabang olahraga (cabor) sepakbola di Olimpiade. Namun setelah Olimpiade yang digelar di Barcelona, Spanyol, tersebut, regulasi kemudian berubah dengan setiap negara peserta akan mengirim tim yang berisikan para pemain di bawah usia 23 tahun untuk bertanding.

Regulasi tersebut kemudian kembali dimodifikasi pada Olimpiade 1996 dengan setiap tim peserta berhak menambahkan maksimal tiga pemain yang berusia di atas 23 tahun dalam tim mereka. Fenomena para pemain yang "kelebihan umur" ini sering disebut sebagai overaged players.

Sejak aturan tersebut diterapkan, cabor sepakbola di Olimpiade kemudian menjadi berbeda dan semakin semarak. Bahkan kehadiran para pemain senior di tim muda inilah yang membuat ajang Olimpiade menjadi lebih menarik dan bukan hanya sekadar ajang unjuk gigi para pemain muda. Berikut para pemain senior yang paling tersohor,

Bebeto (Brasil, Olimpiade Atlanta 1996)

Setelah merengkuh kesuksesan dengan membantu Brasil menjadi juara dunia pada 1994, Jose Roberto Gama de Oliveira atau yang lebih dikenal sebagai Bebeto, terpilih ke dalam skuat Brasil di Olimpiade Atlanta dua tahun setelah Piala Dunia 1994. Bebeto memimpin skuat muda Brasil yang kala itu berisikan Ronaldo Nazario, Roberto Carlos, dan Juninho. Ia merupakan pemain overaged skuat Brasil kala itu bersama Rivaldo dan Aldair.

Meskipun sebenarnya dipanggil untuk mematangkan Ronaldo yang kala itu masih berusia 19 tahun, Bebeto tetap tampil luar biasa sepanjang turnamen. Salah satu permainan terbaiknya adalah ketika mencetak hat-trick di partai perebutan medali perunggu melawan Portugal yang berkesudahan dengan skor 5-0 untuk kemenangan Brasil. Bebeto keluar sebagai pencetak gol terbanyak turnamen bersama Hernan Crespo dari Argentina, dengan enam gol.

Patrick Mboma (Kamerun, Olimpiade Sydney 2000)

Berbicara nama Patrick Mboma tentu akan terkait dengan keberhasilan Kamerun sebagai tim terbaik Afrika pada awal milenium ini. Mboma merupakan pemain kunci ketika Indomitable Lions berhasil menjadi juara Piala Afrika dan meraih medali emas pada tahun yang sama. Setelah membantu Kamerun menjadi juara Afrika, Mboma kemudian juga membawa Kamerun meraih medali emas di Olimpiade Sydney tahun 2000.

Berhasil mencetak empat gol sepanjang turnamen, Mboma juga memimpin calon-calon bintang Afrika yang membuat Kamerun tampil mengejutkan di Olimpiade edisi tersebut. Sebut saja Samuel Eto’o, Pierre Wome, dan Geremi Njitap yang merupakan bagian dalam tim Kamerun ketika meraih medali emas, termasuk Idriss Kameni yang waktu itu baru berusia 16 tahun dan baru menerima kontrak profesional pertamanya bersama Le Havre.

Sebagai catatan tambahan, George Mbida Messi yang malang melintang di sepakbola Indonesia hampir masuk dalam skuad Kamerun untuk Olimpiade ini. Namun akhirnya ia hanya terdaftar sebagai pemain reserve.

Andrea Pirlo (Italia, Olimpiade Athena 2004)

Andrea Pirlo ketika memimpin Italia di Olimpiade tahun 2004

Andrea Pirlo menjadi salah satu dari sekian nama bintang-bintang sepakbola yang kemudian mekar setelah bermain di Olimpiade. Pirlo yang kala itu berusia 25 tahun bermain di Olimpiade Athena tahun 2004. Pirlo yang dipercaya sebagai kapten kesebelasan berhasil membawa Italia meraih medali perunggu dalam Olimpiade yang mencatatkan rekor gol terbanyak dalam sejarah Olimpiade dengan 101 gol tersebut. Setelah penampilan apik di Olimpiade, karier Pirlo kemudian semakin meningkat baik di klub maupun di timnas.

Juan Roman Riquelme (Argentina, Olimpiade Beijing 2008)

Bukan hanya mendapatkan banyak puja-puji dari legenda sepakbola Argentina, Diego Maradona, karier Juan Roman Riquelme memang tidak hanya dilewati dengan biasa saja. Ia menjadi saksi sebuah generasi (yang dianggap) merupakan generasi terbaik Argentina dalam urusan sepakbola. Di ajang Olimpiade kedua yang diadakan di benua Asia, Tepatnya di Beijing, Tiongkok, pada 2008, Riquelme memimpin tim Argentina yang berisikan Lionel Messi, Angel Di Maria, Sergio Aguero, dan Ezequiel Lavezzi.

Riquelme yang kala itu sudah memasuki usia senja menunjukkan kematangannya sebagai pemain senior. Ia mencetak gol penting di semifinal melawan Brasil, dan kemudian membawa tim muda Argentina tersebut meraih medali emas. Banyak yang menyebutkan bahwa penampilan luar biasa Riquelme merupakan sebuah pembalasan karena ia tampil tidak terlalu baik di Piala Dunia dua tahun sebelumnya.

Ryan Giggs (Britania Raya, Olimpiade London 2012)

Tidak ada yang meragukan kualitas Ryan Giggs di klub. Ia termasuk pemain yang loyal untuk satu klub dan sudah memenangi banyak piala dan kejuaraan. Tetapi Olimpiade 2012 merupakan turnamen internasional akbar pertama dan terakhir bagi pemain dengan segudang prestasi bersama klub tersebut.

Giggs menjadi kapten tim Britania Raya merupakan gabungan seluruh negara daratan Inggris, minus Irlandia Utara dan Skotlandia. Giggs menjadi pemain "Overaged" bersama dengan Micah Richards dan Craig Bellamy.

Namun, Giggs gagal membawa Britania Raya melaju jauh. Mereka dihempaskan oleh Korea Selatan di fase perempatfinal melalui babak adu penalti. Salahsatu hal yang diingat dari Giggs di turnamen tersebut adalah gol berkelas yang ia sarangkan ke gawang Uni Emirat Arab di fase grup.

***

Apabila melihat kiprah para pemain overaged di ajang OIimpiade, maka terlihat yang menjadi pengharapan adalah para pemain senior tersebut bisa memimpin dan melakukan transfer pengetahuan kepada para pemain muda. Ini adalah proses pembinaan bakat-bakat muda yang terjadi secara tidak langsung. Atau dalam beberapa kasus, regulasi overaged ini juga membuka kesempatan para pemain yang sulit mendapatkan kesempatan untuk berlaga dengan Tim nasional di ajang internasional, misalnya Tomasso Rocchi yang bermain untuk Italia di Olimpiade Beijing.

Di Olimpiade Rio de Janiero nanti, juga ada beberapa pemain overaged yang patut dinanti penampilannya, mulai dari Bender bersaudara (Jerman), Heung-Min Son (Korea Selatan), Oribe Peralta (Meksiko), dan tentu sang bintang tim tuan rumah, Neymar. Apakah mereka akan memberikan dampak yang signifikan untuk para pemain yang lebih muda? Mari kita nantikan

Komentar