Mengapa PSSI Memilih Malaysia Sebagai Lawan Uji Tanding Timnas Indonesia?

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Mengapa PSSI Memilih Malaysia Sebagai Lawan Uji Tanding Timnas Indonesia?

Meskipun kabarnya belum tercantum dalam jadwal FIFA terkait pertandingan internasional. Indonesia akan berhadapan dengan Malaysia pada 6 September 2016 nanti di Solo. Federasi sepakbola kedua negara, baik PSSI maupun FAM sudah memberikan konfirmasi terkait kebenaran kabar tersebut. Laga ini sekaligus sebagai persiapan kedua negara sebelum berlaga di Piala AFF pada Bulan November.

Apabila laga ini nantinya memang benar akan terlaksana. Maka "Harimau Malaya" akan menjadi lawan internasional pertama Indonesia setelah lepas dari sanksi FIFA. Seperti yang diketahui, sudah setahun lebih Indonesia vakum dari lingkup sepakbola Internasional karena menerima sanksi dari induk organisasi sepakbola internasional tersebut.

Laga uji tanding ini kemudian memunculkan pertanyaan besar. Mengapa dari total 209 negara anggota FIFA, Indonesia memilih Malaysia. Bahkan untuk lingkup yang lebih kecil lagi. Mengapa dari 12 anggota federasi sepakbola Asia Tenggara (termasuk Australia yang akan bergabung), Indonesia kemudian memilih Malaysia?

Kondisi internal sepakbola Malaysia menjadi poin utama mengapa Indonesia kemudian memilih negeri jiran tersebut ketimbang negara lain. Dalam beberapa bulan terakhir, sepakbola Malaysia diguncang dengan kabar para pemain senior yang memilih untuk pensiun dini dari tim nasional meskipun sebenarnya mereka belum memasuki usia yang senja.

Keputusan mengejutkan ini dipicu oleh fenomena dimana federasi sepakbola Malaysia dianggap tidak memperlakukan pemain dengan baik ketika mereka bermain untuk timnas. Di antara para pemain yang memutuskan untuk mundur, yang paling menghebohkan tentu adalah pensiunnya sang kapten kesebelasan negara, Mohd Safiq Rahim.

Pensiunnya Safiq tentu menjadi pukulan yang sangat besar. Ia adalah kapten Malaysia selama lima tahun terakhir. Safiq juga merupakan kunci sukses Malaysia merajai sepakbola Asia Tenggara dalam medio 2011-2014. Ia juga sempat menjadi pencetak gol terbanyak Piala AFF pada tahun 2014. Raihan Safiq tersebut menjadi sebuah catatan rekor. Karena ini adalah kali pertama dalam 18 tahun penyelenggaraan Piala AFF (sebelumnya bernama Piala Tiger) pencetak gol terbanyak adalah seorang gelandang.

Selain Safiq, tiga nama lain menyusul gelandang yang sempat diisukan akan bergabung ke Persib Bandung tersebut. Nama-nama pemain tersebut adalah Aidil Zafuan dan Kunanlan yang berposisi sebagai pemain belakang. Serta Amirul Hadi yang beroperasi di sektor gelandang.

Tentu ini merupakan keadaan yang sulit bagi skuat yang kini ditangani Ong Kim Swee tersebut. Apalagi para pemain kunci yang membawa Malaysia menjadi juara Asia Tenggara pada 2010 kebanyakan sudah mulai uzur. Duet penyerang Norsharul Idlan Talaha dan Safee Mohd Sali sudah usianya sudah melewati kepala tiga. Meskipun masih tetap tampil apik, fisik gelandang serang Amri Yahyah yang kini sudah 35 tahun tentu tidak sebaik dulu. Kiper Khairul Fahmi Che Mat pun tidak tampil superior seperti enam tahun lalu. Sementara para pemain yang lebih muda seperti Wan Zack Haikal dan Hazwan Bakri belum mampu untuk menggantikan peran para seniornya.

Terbukti dalam situasi di kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Asia. Malaysia babak belur dihantam tim peserta lain. Dari delapan laga yang dipertandingkan, "Harimau Malaya" kalah enam kali. Termasuk dua kekalahan mencolok yaitu, 0-6 atas Palestina dan 0-10 atas Uni Emirat Arab. Satu-satunya kemenangan yang diraih adalah ketika mereka menang atas sesama negara anggota AFF, Timor Leste. Itu pun hanya dengan skor tipis, 1-0.

Salah satu pertandingan yang menarik diantara kedua negara. Indonesia kalah telak 3-0 dari Malaysia di Stadion Bukit Jalil pada pertemuan pertama partai final Piala AFF 2010

Karena kondisi-kondisi tersebut lah, Malaysia mungkin menjadi lawan perdana yang sangat ideal bagi Indonesia yang barus saja lepas dari sanksi FIFA. Kondisi sulit Malaysia tidak berbeda jauh dengan apa yang dialami oleh Indonesia dalam setahun terakhir. Selain itu juga dari segi peringkat FIFA, Malaysia berada (pastinya) di atas Indonesia dengan peringkat 167, di mana Indonesia berada di peringkat 191.

Dengan kata lain, Malaysia dipilih karena berada dalam level yang setingkat dengan kondisi Indonesia saat ini. Ketimbang mereka kemudian melakukan uji tanding dengan Thailand (peringkat FIFA 121) atau Vietnam (139), dan bahkan Filipina (135) apalagi Australia (59) yang levelnya jauh lebih baik.

Bertemu dengan Malaysia dalam Derby Melayu ini juga sangat baik karena Indonesia tentu ingin mendapatkan kepercayaan diri untuk bertanding di level internasional setelah vakum. Juga mendapatkan (kembali) kepercayaan dari seluruh rakyat Indonesia untuk kembali mendukung mereka. Poin ini juga berlaku bagi Malaysia yang tentunya membutuhkan boost sebelum berlaga di Piala AFF nanti.

Terlebih lagi rekor pertandingan juga berpihak kepada Indonesia. Sejak bertemu pertama kali di Turnamen Merdeka pada 7 September 1957. Dari total 94 pertandingan, Indonesia sudah mengoleksi 38 kali kemenangan. 35 pertandingan lain berakhir untuk kemenangan Malaysia. Sementara 21 pertandingan lain berakhir imbang. Indonesia juga memegang rekor kemenangan terbesar dengan skor 6-0 di SEA Games tahun 1999. Pertandingan terakhir antara dua negara terjadi pada 14 September 2014 di mana Indonesia menang dengan skor 2-0 melalui sepakan Samsul Arif dan gol bunuh diri dari Mohd Muslim.

Komentar