Sikap Batshuayi yang Bisa Mengganggu Kariernya di Chelsea

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Sikap Batshuayi yang Bisa Mengganggu Kariernya di Chelsea

Hanya berada di peringkat sepuluh musim lalu mengharuskan Chelsea untuk berbenah di bursa transfer musim panas kali ini. Beberapa nama pun masuk ke dalam radar Chelsea seperti Alvaro Morata, Kalidou Koulibaly, serta Michy Batshuayi. Dari ketiganya, nama terakhir disebut bakal menjadi pemain pertama yang menjadi penanda era baru Antonio Conte.

Batshuayi sendiri disebut telah berada di pintu keluar Olympique Marseille. Kepastian hijrahnya pemain yang memperkuat timnas Belgia pada Piala Eropa 2016 ini, diperkuat dengan pernyataan pemain yang musim lalu mencetak 23 gol pada semua kompetisi tersebut.

Pernyataan tersebut menambah kencang rumor kedatangan Batshuayi di Chelsea. Sebelumnya beberapa media Inggris, seperti BBC telah mengonfirmasi bahwa pemain 22 tahun tersebut telah sepakat untuk bergabung dengan The Blues dengan biaya sebesar 30 juta Poundsterling atau sekitar 40 juta Euro.

Upaya Chelsea untuk mendapatkan Batshuayi mulai berhembus sejak pekan lalu. Menurut ESPNFC, pada Senin (27/6) Marseille disebut telah setuju untuk menerima besaran dana yang ditawarkan oleh Crystal Palace dan Chelsea. Kabarnya, kedua kesebelasan tersebut menawarkan dana sekitar 30 hingga 33 juta poundsterling.

Tanpa pikir panjang, Batshuayi disebut langsung menyetujui tawaran yang diberikan oleh Chelsea untuk bergabung. Pemain yang sempat merasakan bermain di akademi beberapa kesebelasan ternama Belgia seperti, Brussels, Anderlecht, dan Standard Liege ini pun disebut bakal menjalani tes medis pekan ini.

Mendapatkan Batshuayi tentu menjadi sebuah keuntungan bagi Chelsea yang dilatih oleh Antonio Conte pada musim depan. Betapa tidak, pada musim lalu, Batshuayi yang masih berusia 22 tahun sangat diandalkan oleh kesebelasan yang bermarkas di Stade Velodrome tersebut.

Total 17 gol dan sembilan asis dari 36 penampilan yang ia jalani membuktikan bahwa ia memang pantas dilibatkan dalam upaya Conte untuk membangun ulang fondasi Chelsea yang sempat ambruk pada musim lalu.

Hijrahnya Batshuayi disebut begitu mirip dengan apa yang terjadi 12 tahun lalu kala Chelsea mendatangkan Didier Drogba. Disebut mirip karena selain keduanya didatangkan dari Marseille, kedatangan keduanya juga memecahkan rekor penjualan Marseille sendiri. Sebab, jika jadi, angka transfer Drogba akan dilewati oleh transfer Batshuayi.

Meski demikian, untuk mendapatkan magis Batshuayi, Chelsea harus lebih sabar. Pasalnya, menurut wartawan ESPNFC, Mark Rodden, Batshuayi masih begitu muda dan tentu memiliki persoalan soal kematangan.

“Saya pikir pendukung Chelsea harus lebih sabar soal dia (Batshuayi). Meski ia cepat dan memiliki visi yang baik untuk mencetak gol, namun ia belum sepenuhnya matang. Usianya 22 masih 22 tahun dan masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi,” ujar Rodden.

Selain kematangan dalam hal bakat, ada satu lagi masalah yang harus segera dicari jalan keluar oleh Chelsea, yakni sikap indisiplinernya. Ya, sama seperti striker Chelsea lainnya, Diego Costa, Batshuayi juga dikenal kerap bersikap kurang baik.

Persoalan sikap Batshuayi sejatinya sudah terlihat sejak ia masih anak-anak. Di tahun 2006, Batshuayi yang disebut sebagai anak dengan dua sisi yang begitu berbeda. Sisi baiknya, bakatnya begitu luar biasa. Namun, sebaliknya ia kerap bermasalah dengan sikapnya kepada pelatih-pelatih kesebelasannya saat itu, Anderlecht. Buruknya sikap Batshuayi membuatnya dilepas oleh Anderlecht dua tahun kemudian.

Kenakalan Batshuayi tidak berhenti di sana. Pada April 2012, di usia 18 tahun, ia dihukum larangan bertanding empat pertandingan oleh federasi sepakbola Belgia. Hukuman tersebut diberikan usai ia dengan begitu kencang menginjak perut pemain Genk, Jeroen Simaeys.

Setahun berikutnya, Batshuayi kembali membuat masalah besar. Kali ini giliran timnas Belgia U21 yang harus memarahinya usai ia dan beberapa pemain lain diketahui membawa masuk beberapa wanita ke hotel tempat mereka menginap.

Isu soal ini terus berlanjut ketika ia menginjakkan kaki di Prancis untuk bergabung bersama Marseille. Beberapa kali, pelatih lamanya di Marseille, Michel, kerap memarahinya akibat tindakan indisipliner yang ia lakukan. Beruntung tidak ada sanksi serius yang diberikan oleh Michel.

Manajemen waktu menjadi persoalan indisipliner utama yang kerap dilakukan oleh Batshuayi. Beberapa kali ia diketahui telat kala kesebelasannya, baik Marseille maupun Belgia, akan mengadakan pertemuan. Terakhir, diketahui dua kali ia telat menghadiri pertemuan antar pemain Belgia jelang pertandingan.

Persoalan tersebut jelas bukan masalah sepele bagi pemain sepakbola. Yang jelas, mulai saat ini Conte sudah harus memikirkan cara untuk meredam sikap buruk yang bisa saja dilakukan oleh Batshuayi.

Komentar