Morata Sang Pemegang Kunci Gembok Catenaccio Italia

Cerita

by Billi Pasha

Billi Pasha

Selalu menganggap sepakbola dan musik adalah dua hal paling indah di dunia

Morata Sang Pemegang Kunci Gembok Catenaccio Italia

Laga antara Spanyol dan Italia pada babak 16 besar diprediksi menjadi laga paling sengit di ajang Piala Eropa sejauh ini. Bagaimana tidak? Bersama Jerman keduanya merupakan kesebelasan peraih titel juara dunia dalam 10 tahun terakhir. Selain itu keduanya juga pernah menjadi penguasa benua biru kala sukses meraih trofi Piala Eropa.

Spanyol lebih diunggulkan dari segi perolehan titel dengan tiga kali menjadi juara, sedangkan Italia baru sekali meraihnya. Selain itu kemenangan besar La Furia Roja atas Italia pada final empat tahun silam juga semakin membuat Spanyol unggul di atas kertas.

Di balik rekor pertemuan serta rivalitas keduanya, tersemat seorang pemain yang memiliki ikatan degan kedua negara tersebut. Ia adalah Alvaro Morata yang baru saja kembali ke Real Madrid usai menemukan performa terbaiknya bersama Juventus. Morata yang pernah digembleng di akademi Madrid itu hijrah ke Italia untuk membela La Vecchia Signora pada Juli 2014 silam. Pemain berusia 22 tahun tersebut memang kurang mendapatkan tempat di Los Blancos dan kalah saing dengan para pemain bintang yang mereka miliki, sehingga pihak Madrid meminjamkannya dengan buy-back clause.

Akan tetapi Morata justru menemukan permainan terbaiknya ketika berseragam Juventus. Meski jarang diturunkan selama 90 menit namun ia menunjukkan peningkatan signifikan. Dalam dua musim, ia telah mencetak 15 gol serta 12 asis di ajang Serie A. Berkat penampilan apiknya, ia sukses menyumbangkan dua titel Serie A dan sepasang Coppa Italia. Selain itu ia juga ikut andil kala Juve berhasil menembus babak final Liga Champions dua musim lalu.

Sementara dalam ajang Piala Eropa kali ini, Morata telah menyumbangkan tiga gol, dan termasuk dalam jajaran pencetak gol terbanyak bersama Antoine Griezmann dan calon rekan setimnya Gareth Bale. Morata kini menjadi mesin gol andalan bagi Spanyol, setelah menggeser posisi Aritz Aduriz yang diplot sebagai ujung tombak. Dua golnya ke gawang Turki dan satu gol sewaktu berhadapan dengan Kroasia merupakan bukti dari kualitasnya.

Selain itu ia juga tercatat sebagai pemain dengan akurasi tembakan terbaik diantara para pengggawa Spanyol. Ia mencatatkan enam tembakan tepat sasaran dari sembilan percobaan, dengan persentase 67%, jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan Nolito yang baru melayangkan empat tembakan dan hanya satu yang mengenai target.

Laga antara Spanyol dan Italia yang akan dijalani Morata, bisa dibilang merupakan laga perpisahan dengan beberapa rekan setimnya. Seperti yang diketahui, Italia kini banyak diperkuat oleh para penggawa Juve. Total ada enam pemain kesebelasan yang bermarkas di Juventus Stadium di skuat Gli Azzurri. Tercatat Gianluigi Buffon, Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, Giorgio Chiellini, Stefano Sturaro, dan Simone Zaza, merupakan rekan setimnya di musim lalu.

Dari jumlah tersebut yang patut menjadi sorotan adalah para pemain yang menjadi langganan untuk menjaga lini belakang Italia. Pasalnya sebagai penyerang tentu Morata akan lebih sering beroperasi di sepertiga lapangan akhir lawan. Mereka adalah Barzagli, Bonucci serta Chiellini merupakan trio paling kuat di Italia saat ini dan akan menjadi lawan baginya.

Tak hanya itu, jika berhasil melewati adangan mereka, Morata masih harus berhadapan dengan Gianluigi Buffon yang belum pernah kebobolan dalam dua laga yang telah dilakoninya. Patut diketahui bahwa jika keempat pemain itu bermain bersama Italia selalu mencatatkan cleansheet. Belum lagi ia harus bermain profesional dengan mengesampingkan rasa terima kasihnya atas jasa mereka yang telah membantu mengasah kemampuannya hingga seperti ini. Hal tersebut tentu akan membuat beban yang dipikul Morata semakin berat.

Kendati demikian hal tersebut bisa menjadi tuah bagi Morata dan Spanyol. Dengan kerjasama yang pernah dijalinnya sewaktu di Juventus, tentu ia sudah mengerti plus minus dari Italia, khususnya pada lini pertahanan. Pasalnya sektor tersebut bisa dibilang merupakan kunci dari kesuksesan Italia sejauh ini.

Tak dapat dipungkiri lini serang tim asuhan Antonio Conte belum menunjukkan performa yang impresif. Mereka hanya berhasil menyarangkan tiga gol dari tiga laga, yang berarti hanya satu gol dalam satu pertandingan, jumlah yang terhitung sedikit tim sekelas Italia.

Bandingkan dengan Spanyol yang telah melesakkan lima gol di babak penyisihan. Bahkan jika dibandingkan dengan Islandia yang notabene merupakan tim kuda hitam, torehan gol Italia juga masih kalah jumlah. Tim debutan yang terletak di barat laut Eropa itu sukses mencetak empat gol di fase grup.

Lini pertahanan Italia merupakan lini paling vital yang harus diselesaikan oleh Spanyol jika ingin mendominasi laga. Meski tetap mewaspadai serangan balik Italia yang juga tak kalah mematikan. Tak salah jika Morata menjadi pemain kunci dalam laga kali ini. Selain ia juga membawa “kunci” dari gembok catenaccio, performanya yang sedang meningkat juga tentu membuatnya menjadi tumpuan Spanyol dalam meraih kemenangan. Bukan tak mungkin Morata akan menembus kawalan kuartet Juve itu dan mencetak gol sebagai tanda perpisahan kepada mereka.

Foto: Wikimedia

ed: fva

Komentar