Payet Hanya Ingin Menabrak Batas

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Payet Hanya Ingin Menabrak Batas

Setujukah Anda dengan frasa bahwa Dimitri Payet adalah pemain yang luar biasa? Payet adalah pemain sensasional. Di West Ham, dirinya adalah pemain kunci, poros serangan tim yang diarsiteki oleh Slaven Bilic. Adalah Payet yang berjasa mengantarkan West Ham sempat bersaing memperebutkan posisi empat besar Liga Primer Inggris musim 2015/2016. Payet juga yang berkontribusi dalam menanjaknya performa West Ham musim 2015/2016.

Berkat kontribusinya yang luar biasa di West Ham, Payet pun mendapat sanjungan setinggi langit. Para pendukung West Ham mengelu-elukan namanya. Ia bahkan disebut lebih baik dari seorang Zinedine Zidane oleh para suporter The Hammers. Free-kick senjata andalannya pun disebut-sebut sebagai salah satu free-kick terbaik sepanjang masa, serupa free-kick yang pernah dilancarkan seorang Roberto Carlos di Piala Dunia 1998.

Mengalami masa bahagia di West Ham, hal ini ternyata berdampak pada karier sepakbolanya, utamanya karier tim nasionalnya. Melihat penampilannya yang mengesankan sepanjang laga persahabatan, plus penampilan moncernya di West Ham, Payet pun dimasukkan ke dalam skuat Prancis yang bertanding dalam ajang Piala Eropa 2016. Sebuah kebahagiaan tak terkira bagi seorang Payet.

Dan, dalam pertandingan pertama melawan Rumania-lah, Payet semakin menunjukkan nilai lebihnya sebagai seorang pesepakbola. Ia seolah ingin menunjukkan nilai lebihnya, melebarkan sayapnya, dan menembus sebuah kemungkinan bahwa dirinya akan menjadi pemain andalan timnas Prancis. Payet ingin melakukan sesuatu untuk Prancis, sama seperti yang ia lakukan untuk West Ham.

Kebetulan, Prancis sedang mengalami situasi deadlock. Prancis dibayangi oleh ketakutan dan kenangan buruk masa lampau. Kenangan ketika pada Piala Eropa 2008, mereka hanya mampu bermain imbang 0-0 melawan Rumania, yang pada akhirnya menghasilkan sebuah kenyataan Prancis tidak lolos babak grup Piala Eropa 2008 ketika itu.

Berkali-kali serangan pun dilancarkan. Blaise Matuidi dan Paul Pogba dari tengah terus menekan ke depan dan muncul dari second line untuk menyelesaikan peluang. Antoine Griezmann sibuk mencari ruang di area kotak penalti. Sedangkan Olivier Giroud, terus menanti sambil berharap akan ada umpan manis yang datang padanya untuk ia selesaikan.

Ketika itu, semua tampak sibuk di lini depan. Para pemain Prancis benar-benar melakukan sesuatu yang bisa membuat bola yang berada di kaki dan kepala mereka, bersarang di gawang Tatarusanu, kiper Rumania. Namun apa daya, mereka sulit melakukannya. Di sinilah, Payet muncul dengan segala kehebatan yang pernah ia tunjukkan.

Bagai seorang pemanah di wilayah perang yang tak henti menghujamkan anak panahnya ke wilayah pertahanan lawan, Payet pun tak henti menghujam lini pertahanan Rumania dengan crossing yang ia lakukan. Beberapa ada yang berhasil dihalau, beberapa ada yang berhasil dieksekusi oleh Pogba, Giroud, ataupun Griezmann. Sayangnya, mereka gagal mengeksekusi bola dari Payet itu.

Namun, Payet tidak berhenti. Tak lelah ia obrak-abrik pertahanan Rumania yang ketat dan hanya kebobolan dua gol selama babak kualifikasi. Kiri ke kanan, kanan ke kiri, tak henti ia bergerak untuk memberikan crossing ataupun melakukan cut inside, macam seorang Hyuga Kojiro yang tak menyerah meskipun sudah dijatuhkan oleh bek lawan beberapa kali.

Dalam gambar di bawah ini, telrihat bahwa Payet begitu rajin menyisir pertahanan lawan. Bahkan, jumlah sentuhan bolanya sebanyak 87 kali, yang membuat dirinya menjadi poros serangan Prancis dalam pertandingan ini.

Area gerak Payet sepanjang pertandingan Prancis vs Rumania (foto: whoscored.com)

Keinginan Payet untuk menabrak batas dan bermain dengan baik bersama Prancis pun akhirnya membuahkan hasil. Crossing tanpa henti yang ia arahkan ke lini pertahanan Prancis pada akhirnya berbuah menjadi gol pada menit ke-57 setelah Giroud mengkonversi umpan tersebut menjadi sebuah gol.

Saat kedudukan imbang 1-1, Payet pun tidak menunjukkan rasa menyerah. Sebuah tendangan yang mengarah ke pojok atas gawang Tatarusanu menjadikan dirinya sebagai Man of the Match dalam laga tersebut. Skor berubah 2-1 dan publik Stade de France pun bergemuruh kencang. Pertandingan usai, dan Prancis terhindar dari mimpi buruk kerap meraih hasil seri melawan Rumania.

Payet sendiri pun sebenarnya tidak bermain full dalam pertandingan ini. Ia digantikan oleh Moussa Sissoko tepat sebelum pertandingan selesai. Sambil berlinang air mata, karena merasa dirinya sudah sukses dalam menabrak batas, ia pergi keluar diiringi tepuk tangan dari para pendukung di Stade de France.

Untuk sementara, Payet pun menjadi pahlawan Les Bleus pada malam itu. Payet setidaknya sudah berhasil menabrak batas dengan bermain luar biasa untuk membawa Prancis meraih kemenangan. Namun, tidak ada salahnya bagi Payet untuk terus menabrak batas, pertandingan demi pertandingan, hingga akhirnya semua itu berakhir saat Prancis sudah meraih gelar juara Piala Eropa 2016.

foto: no.wikipedia.org

Komentar