Kaká, Terlalu Manis untuk Dilupakan

Cerita

by Billi Pasha

Billi Pasha

Selalu menganggap sepakbola dan musik adalah dua hal paling indah di dunia

Kaká, Terlalu Manis untuk Dilupakan

Ricardo Kaká harus kembali menahan keinginannya untuk tampil bersama Brasil di pentas internasional. Pemain yang pernah berjaya bersama AC Milan itu mendapatkan cedera sehingga terpaksa digantikan oleh Paulo Henrique Ganso yang merupakan penggawa Sao Paulo.

Dalam skuat yang telah dipersiapkan oleh Dunga dalam mengarungi Copa America Centenario kali ini, nama Kaká sebelumnya memang tidak tercantum. Pelatih yang pernah menjabat sebagai kapten Brasil itu lebih memilih Renato Augusto, Philippe Coutinho, dan Lucas Lima, yang mengisi sektor gelandang serang.

Jika kita terpaku pada persepakbolaan Eropa sebagai acuan, nama Kaká memang telah hilang bak ditelan bumi. Setelah memutuskan untuk angkat kaki untuk kedua kalinya dari San Siro dua musim lalu, gaungnya seakan tak terdengar lagi. Ia memilih untuk hijrah ke Amerika Serikat untuk memperkuat Orlando City yang terdaftar sebagai peserta Major League Soccer (MLS) dan sempat dipinjamkan ke Sao Paulo.

Meski begitu, performa Kaká saat membela Orlando City di MLS dinilai menunjukkan permainan impresif. Dalam tujuh laga yang baru dilakoninya di musim ini, ia telah menyumbangkan lima asis. Ia juga berperan sebagai pemain Orlando yang paling banyak berperan memprakarsai peluang dengan membukukan 17 umpan kunci. Kontribusinya semakin nyata dengan jumlah dua gol yang dilesakkannya.

Selain itu gelar pemain dengan bayaran termahal di MLS juga menunjukkan betapa besarnya pengakuan atas kualitas yang dimilikinya. Ia mendapatkan gaji sebesar 7,2 juta dollar semusim. Jumlah tersebut berada di atas beberapa mantan pemain top Eropa yang juga bermain di MLS, seperti Andrea Pirlo, Frank Lampard, David Villa, dan Sebastian Giovinco.

Secara individu ia pernah dinobatkan menjadi pemain terbaik dunia pada 2007 usai mengalahkan dua kandidat, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, dalam meraih titel tersebut. Kaká boleh berbangga karena hingga saat ini, hanya dirinya yang mampu mengalahkan dua pemain terbaik di dunia itu sekaligus dalam nominasi pemain terbaik. Selain itu ia juga merupakan pemain Brasil terakhir yang mampu menyabet gelar tersebut.

Sementara itu karier internasional Kaká bersama Brasil dimulai ketika tampil di FIFA World Youth Championship 2001 silam. Selang beberapa bulan kemudian, ia memulai debutnya di level senior saat menghadapi Bolivia di laga persahabatan. Kaká juga merupakan bagian dari skuat juara di Piala Dunia 2002, meski hanya bermain 25 menit dari total tujuh laga yang dilakoni Brasil.

Kesempatan untuk tampil sebagai pemain inti akhirnya ia dapatkan setahun berselang. Tak tanggung-tanggung ia langsung didaulat mengemban ban kapten di ajang Piala Emas. Sejak saat itu Kaká mulai mendapatkan tempat khusus di skuat Brasil. Terhitung dari ajang Piala Dunia 2006 dan 2010 serta dua gelaran Piala Konfederasi dalam rentan waktu tersebut, ia selalu menjadi andalan Brasil.

Ironisnya, kesuksesannya bersama Brasil di ajang Piala Dunia tidak berbanding lurus di kancah Copa America. Meski Selecao telah sukses menjadi juara di tahun 2004 dan 2007, nama Kaká tidak tercantum dalam skuat tersebut.

Hingga kini ia belum pernah sekalipun memperkuat Brasil di ajang Copa America. Asa untuk berlaga di Copa America seakan telah musnah pasca ia mulai kehilangan posisinya di skuat Brasil usai 2010 dan kembali absen pada Copa America 2011 dan 2015. Secara keseluruhan ia telah absen pada empat ajang yang telah digelar dalam kurun waktu 11 tahun semenjak berhasil menjadi punggawa tetap Brasil.

Secercah harapan kembali muncul pada perhelatan 100 tahun turnamen negara di Amerika Latin kali ini. Kaká mendapatkan panggilan untuk memperkuat Brasil usai dicoretnya Douglas Costa setelah mengalami cedera.

Akan tetapi ia harus mengubur dalam-dalam keinginannya tersebut, pasalnya ia telah mengalami cedera hamstring dan harus beristirahat selama 20 hari. Padahal Copa America akan segera bergulir dan Brasil akan menghadapi pertandingan pertamanya melawan Ekuador, Sabtu (4/6) besok.

Sebuah kejadian yang tentu amat disayangkan, figur gelandang serang yang komplet dengan akurasi, visi, serta gabungan dari kecepatan dan kekuatan yang dimilikinya, tak pernah sekalipun mencicipi turnamen Copa America. Apalagi usianya yang kini telah menginjak 34 tahun akan semakin memperkecil kemungkinannya untuk tampil di ajang selanjutnya.

Layaknya sebuah lagu milik Slank yang berjudul “Terlalu Manis”, sosok Kaká memanglah terlalu manis untuk dilupakan. Kenangan yang indah untuk memperkuat Brasil di Copa America tinggallah mimpi.

Foto: wikimedia

ed: fva

Komentar