Lima Pemuda yang Siap Menggebrak Dunia Setelah Toulon Tournament 2016

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Lima Pemuda yang Siap Menggebrak Dunia Setelah Toulon Tournament 2016

Berbeda dengan kompetisi sebelum-sebelumnya, Toulon Turnamen 2016 kini kembali menerapkan aturan bahwa hanya tim yang diundanglah yang menjadi peserta, kecuali tuan rumah Prancis tentunya. Aturan ini sebenarnya berlaku pada masa-masa awal turnamen yang pertama kali digelar pada tahun 1967 tersebut, dan diperbarui pada 1974, di mana peserta berubah dari klub menjadi kesebelasan negara.

Inggris berhasil keluar menjadi juara pada turnamen edisi kali ini. Skuat asuhan Gareth Southagate menuntaskan penampilan luar biasa mereka sepanjang turnamen dengan berhasil memenangi pertandingan final melawan Prancis. Gelar ini adalah yang pertama setelah 22 tahun, dan menjadi yang kelima untuk Inggris.

Karena turnamen ini dikhusukan untuk kesebelasan negara level U-21, atau kelompok umur 20 tahun ke bawah untuk beberapa timnas yang lain, Toulon Tournament sudah lama menjadi pentas para pemain muda untuk unjuk gigi; Ibaratnya, kepompong sebelum menetas menjadi kupu-kupu. Dan sepanjang Toulon Tournament 2016 juga banyak pemain muda yang tampil luar biasa. Berikut kami pilihkan lima terbaik di antaranya.

Lewis Baker

Toulon Tournament seakan menjadi panggung bagi bakat Lewis Baker. Produk akademi Chelsea tersebut keluar sebagai pencetak gol terbanyak turnamen dengan empat gol. Tentu ini adalah suatu pencapaian yang tidak biasa bagi Baker yang berposisi sebagai gelandang. Meskipun demikian, hal ini sebenarnya adalah hasil dari ditempatkannya Baker sebagai "Pemain bernomor punggung 10". Ia akan muncul dari lini kedua begitu para pemain dari lini pertahanan lawan sibuk untuk mengawal Caudley Woodrow yang berposisi sebagai penyerang.

Baker dihargai begitu tinggi oleh Jose Mourinho ketika sang juru taktik masih menangani Chelsea. Bahkan manajer asal Portugal tersebut dalam beberapa kesempatan berujar bahwa Baker adalah masa depan sepakbola Inggris. Meskipun demikian, Baker masih belum mendapatkan banyak kesempatan di tim utama Chelsea. Baker lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai pemain pinjaman. Termutakhir, musim lalu ia dipinjamkan ke Vittese. Di sana ia tampil sebanyak 31 kali dan mencetak lima gol.


Lewis Baker (12) merayakan gol bersama Ruben Loftus-Cheek (10)

Ruben Loftus-Cheek

Loftus-Cheek adalah simbol superioritas Inggris di Toulon Turnament 2016 selain Lewis Baker. Loftus-Cheek berhasil menyabet gelar pemain terbaik turnamen. Penampilan menawan ditambah tiga gol sepanjang turnamen, termasuk satu gol di partai final, membuat Loftus-Cheek pantas diganjar penghargaan tersebut.

Sudah memimpin Chelsea sejak level junior, banyak ekspektasi besar disematkan kepada Loftus-Cheek. Ia digadang-gadang akan menjadi kapten tim senior Chelsea di masa mendatang. Tenang dan kuat di lini tengah, serta tinggi badannya yang mencapai enam kaki tiga inci atau 191 cm membuat Loftus-Cheek disamakan dengan Michael Ballack, gelandang Jerman yang juga pernah memperkuat Chelsea.

Sehrou Guirassy

Sehrou Guirassy, jagoan tim tuan rumah, menjadi pemain paling bersinar dari skuat Prancis yang berlaga di Toulon Tournament 2016. Guirassy tampil bagus dan mencetak tiga gol sepanjang turnamen. Sayang ia gagal membawa Prancis juara setelah ditaklukan Inggris di partai final.

Bakat Guirassy kemudian diendus oleh Lille. Hanya bermain delapan kali untuk tim senior Lille, pada pertengahan musim lalu, Guirassy kemudian dipinjamkan ke Auxerre yang bermain di Ligue 2. Di level kedua kompetisi sepakbola Prancis tersebut alumnus Stade Lavallois ini tampil 15 kali dan mencetak delapan gol. Sosoknya yang tinggi besar tetapi punya teknik yang bagus membuat beberapa pihak menyebutnya sebagai Nicholas Anelka yang baru.

Carlos Fierro

Bersama Erick Torres, Hirving Lozano, dan Jose Corona, Carlos Fierro menjadi generasi terbaru bakat sepakbola Meksiko. Fierro tampil baik sepanjang turnamen. Namun karena ia ditinggal rekan-rekannya yang sudah promosi ke tim senior, Fierro seakan sendirian menanggung beban di tim muda Meksiko. Ia kemudian gagal membawa Meksiko lolos ke babak selanjutnya, karena harus puas berada di posisi empat klasemen akhir babak penyisihan grup.

Memulai debut tim senior Chivas Guadalajara pada tahun 2011, Fierro kemudian terus bermain selama empat musim seterusnya. Meskipun lebih sering bermain melebar, Fierro tidak pernah absen mencetak gol dalam setiap musim bagi Chivas. Fierro kemudian dipinjamkan ke Quaretaro, klub yang sempat mengontrak Ronaldinho, pada Liga Meksiko musim ini.

Takumi Minamino

Minamino sudah melakukan debut untuk level kompetisi tertinggi sepakbola Jepang pada usia 17 tahun. Ia bermain untuk Cerezo Osaka dan sempat bertandem dengan Diego Forlan di lini depan. Red Bull Salzburg kemudian mendaratkan pemuda kelahiran Osaka 16 Januari 1995 ini pada musim 2014/2015. Total, ia sudah tampil 53 kali dan mencetak 16 gol untuk tim legendaris Austria tersebut.

Di Toulon Tournament kali ini Minamino memang gagal membawa Jepang melaju dari fase grup. Akan tetapi ia menjadi pemain Jepang yang paling menarik perhatian. Gol kemenangan yang ia cetak ketika Jepang berhadapan dengan Guinea seakan menunjukkan kelas dari seorang Takumi Minamino.

***

Selain nama-nama yang disebutkan di atas, banyak pemain lain yang tampi luar biasa, mulai dari Caudley Woodrow, Jack Grealish (Inggris), Matej Pulkrab (Rep. Ceska), Sergio Diaz (Paraguay), hingga Pedro Rodrigues, dan Joao Pedro, yang berhasil mengantarkan Portugal meraih medali perunggu di turnamen kali ini.

Banyak bintang dunia yang mekar di Toulon Tournament mulai dari David Beckham hingga Cristiano Ronaldo. Pada akhrinya Toulon Tournament bukan saja tentang arena unjuk gigi bagi para pemain muda, akan tetapi menjadi nilai terkait pembinaan usia muda juga sangat erat ditunjukkan oleh turnamen tersebut.

foto : Zimbio

ed: fva

Komentar