Senandung Pertemanan Terens Puhiri dan Yanto Basna

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Senandung Pertemanan Terens Puhiri dan Yanto Basna

Bicara soal bakat-bakat sepakbola dari Papua tentu tidak akan ada habisnya. Provinsi terbesar di Timur Indonesia tersebut seakan tidak henti-hentinya menghasilkan pemain-pemain dengan kemampuan di atas rata-rata. Harus diakui bahwa pesepakbola asal Papua kualitas nya berada di atas rata-rata para pemain yang dimiliki oleh negeri ini.

Banyak nama pemain muda potensial asal Papua yang beredar di kancah sepakbola Indonesia saat ini. Namun di antara deretan nama yang, ada dua nama yang paling tersohor dan menarik perhatian. Mereka adalah peman sayap Pusamania Borneo FC (PBFC), Terens Puhiri, dan bek Persib Bandung, Yanto Basna.

Keduanya memperkuat kesebelasan ternama di sepakbola Indonesia. Gerak-gerik Terens dan Yanto tentunya tidak lepas dari pengamatan banyak pihak. Bisa dilihat di akun media sosial masing-masing yang memiliki banyak pengikut. Dan akan mendapatkan puluhan hingga ratusan bahkan ribuan komentar tiap kali keduanya mengunggah sesuatu.

Terens dan Yanto dalam beberapa kesempatan selalu mengabadikan momen-momen kebersamaan mereka melalui sebuah foto. Tentu kebanyakan orang berpikir mereka menjadi sangat akrab karena sama-sama masih muda dan juga sama-sama berasal dari tanah Papua. Tapi nyatanya tidak banyak yang tahu bahwa mereka sebenarnya sudah dekat sejak masih masa kanak-kanak.

“Kami sama-sama berasal dari daerah pantai di Jayapura sana. Saya tinggal di Dok 5, Sementara Yanto tinggal di Dok 8. Tapi bersebelahan, dan memang sangat dekat. Kami tidak pernah satu sekolah, dulu Yanto sekolah di SD Inpres sementara saya di SD Angkasa. Kami pertama kali ketemu di SSB Numbay Star, waktu itu kalau nggak salah saya masih kelas tiga SD,” ungkap Terens mengenang kisah bagaimana keduanya bisa berjumpa.

SSB Numbay Star. Ada yang bisa temukan Yanto atau Terens?

“Dari dulu dia [Yanto] sudah tinggi besar hahaha... bahkan untuk ukuran anak-anak. Makanya waktu itu pelatih memang langsung tempatin dia jadi stopper. Saya, sih, dulu waktu zaman SSB lebih sering jadi penyerang atau second striker. Baru waktu main di pro aja saya akhirnya main di sayap,” lanjut Terens.

Terens dan Yanto menjadi kunci sukses Numbay Star menembus babak semifinal kejuaraan usia-12, Liga Danone pada tahun 2008. Kala itu Terens menjadi pencetak gol terbanyak dan dianugerahi gelar pemain terbaik.

Sedari masih kecil keduanya sudah sangat dekat. Layaknya kebanyakan anak Jayapura, mereka juga menghabiskan banyak waktu mereka bermain di pantai yang tentunya tak lepas dari bermain sepakbola. Keduanya memiliki versi masing-masing terkait kenangan lucu yang paling diingat ketika mereka masih berada di Jayapura.

“Karena daerah rumah kami dekat dengan pantai, yang paling saya ingat adalah waktu saya sama dia dan anak-anak yang lain main di pantai. Berenang sampai petang dan main bola di pasir pantai. Waktu itu lagi zaman smackdown, saya ingat saya sama dia (Yanto) pernah main smackdown. Karena badan saya kecil terang saja saya yang kalah hehehe...,” kenang Terens.

Aduh apa, ya..? Mungkin ini, sih, seperti yang Terens bilang rumah kami dekat pantai. Waktu itu biasanya kami mengumpulkan kaleng-kaleng bekas buat dijual ke tukang loak. Sembari bermain di pantai, kami juga kumpulkan kaleng. Nanti sewaktu pulang bisa ditukarkan. Bedanya, hasil uang dari jual kaleng, saya pakai buat main PS (Playstation), sementara Terens memang pakai uang itu buat beli sepatu bola,” kata Yanto Basna.

Keduanya memang terkenal sangat senang main PS. Bila mendapat kesempatan bertemu sedikit saja, keduanya selalu menyempatkan untuk bertanding game sepakbola di konsol paling populer di dunia tersebut.

Saat bermain PS, Terens begitu antusias bahkan sampai mengganggu rekan sekamarnya, seperti Boaz Solossa. Simak ceritanya di halaman berikutnya.

Komentar