Akhirnya Kiper Muda Malaysia itu Menyerah Kepada Kematian

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Akhirnya Kiper Muda Malaysia itu Menyerah Kepada Kematian

Masalah mengenai umur manusia itu murni rahasia Tuhan. Tidak ada yang tahu kapan dan dimana seseorang akan meninggal, dan dengan cara apa seseorang akan meninggal. Ada orang yang meninggal dengan cara yang wajar, namun tak jarang juga ada orang yang meninggal dengan cara yang "unik". Saya tidak bisa mengatakan "aneh" karena kesannya akan seperti kasus kematian yang seringkali kita muncul di majalah-majalah Hidayah.

Marco Stefan Petrovski adalah salah satu dari sekian banyak manusia, yang juga bisa kita jadikan contoh tentang betapa kematian iu tidak dapat diprediksi oleh siapapun. Siapa sangka, bahwa dirinya, dalam usia yang masih sangat muda (18 tahun) sudah meninggal dunia karena sebuah sebab yang mungkin cukup ditakuti oleh sebagian banyak orang; tersambar petir. Jika saya menjadi Petrovski, mungkin saya juga tidak ingin meninggal dengan cara seperti ini.

Tapi, apa daya, garis takdir Tuhan memang tidak bisa untuk dilawan. Semua berawal pada 5 April 2016. Ketika itu Petrovski dan rekan-rekannya sesama anggota tim Malaka United sedang berlatih. Keadaan cuaca di lapangan cukup mendung usai hujan yang mengguyur Malaysia. Tiada hujan yang melanda. Namun, siapa sangka cuaca seperti ini, seperti juga halnya yang terjadi di beberapa negara yang pernah mengalami kasus sambaran petir yang sama, menjadi awal dari petaka yang terjadi untuk Malaka United dan juga Marco Petrovski.

Petir pun menyambar lapangan latihan klub Malaka United. Petrovski dan satu rekannya yang lain, Muhammad Afiq Azuan (21 tahun) tersambar oleh petir. Keadaan berubah menjadi gempar. Petrovski dan Afiq pun langsung dibawa ke Malacca General Hospital untuk mendapatkan pertolongan pertama sekaligus perawatan yang lebih lanjut.

Keesokan harinya lepas insiden tersebut, Afiq Azuan langsung keluar dari rumah sakit karena ia sudah sadar dan sembuh seperti sediakala. Namun, hal yang berbeda terjadi kepada Petrovski. Kiper kelahiran Australia yang juga memiliki kewarganegaraan Malaysia ini, sampai beberapa hari setelah kejadian tersebut, belum sadar dan masih berada dalam keadaan koma. Diagnosa dokter menunjukkan bahwa Petrovski terkena Hypoxic-Ischemia yang disebabkan oleh distribusi oksigen yang kurang kepada otak saat jantung Petrovksi terganggu akibat sambaran petir.

"Meskipun menurut dokter hal ini tidak terlalu parah, kami sepenuhnya belum tahu sejauh apa efek yang ditimbulkan dari sambaran petir ini kepada anak kami. Kami juga belum tahu akan seperti apa keadaan Petrovski nantinya, apakah ia akan langsung sembuh atau menjalani sebuah proses rehabilitasi yang panjang," ujar orang tua Petrovski seperti dilansir oleh ESPN FC.

Benar seperti yang diujarkan oleh orang tua Petrovski, keadaan setelah itu menjadi tidak menentu. Petrovski tetap berada di rumah sakit, terbaring lemah dalam keadaan koma. Melihat keadaan Petrovski yang tak kunjung membaik, dukungan pun datang bertebaran untuk dirinya di Twitter dengan hashtag #PrayforStefan. Salah satu dukungan diberikan oleh rekan satu timnya, yaitu mantan pemain Persib yang kini bermain untuk Malaka United, Ilija Spasojevic.





Bukan hanya oleh Spaso, dukungan juga diberikan oleh semua elemen Malaka United. Pada pertandingan antara Malaka United melawan Kuantan dalam lanjutan Liga Super Malaysia, para pemain dan ofisial klub Malaka mengacungkan jersey no. 25 milik Petrovski ke atas sebagai bentuk dukungan solidaritas. Spanduk besar yang berisikan gambar Petrovski pun dibentangkan sebelum pertandingan dimulai, yang mengundang sambutan hangat dan tepuk tangan meriah dari para penonton di Stadion Hang Jebat.

Namun, dukungan solidaritas, meski memang terdengar sedikit kejam, takkan mampu mengubah keadaan secara signifikan. Petrovski masih saja tetap terbaring di rumah sakit, dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera sadar. Sampai akhirnya, Petrovski menyerah kepada kematian setelah sempat bertarung dengan keras melawan kematian ketika ia masih dalam keadaan koma. Minggu (1/5), Petrovski akhirnya meninggal dunia.




Duka dan Kesedihan pun melanda. Kiper muda harapan Malaysia ini akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Sontak, kematian Petrovski ini langsung mengundang ucapan belasungkawa dari berbagai pihak, seperti dari pihak klub, FAM (Federasi Sepakbola Malaysia), dan juga FFA (Federasi Sepakbola Australia).

"Ia (Petrovski) adalah kiper yang berdedikasi. Ia bahkan berujar ingin menjadi kiper terbaik se-Malaysia. Anak yang baik dan menyenangkan itu akhirnya meninggal dunia. Saya turut berduka cita atas meninggalnya Petrovski," ujar wakil ketua klub Malaka United, Khairi Anuar Ahmad.

"Australia turut berduka cita atas meninggalnya Petrovski. Semoga pihak keluarga tabah dalam menghadapi cobaan ini," ujar FFA seperti dilansir oleh ESPN FC.

***

Yah, seperti yang diujarkan oleh penyair asal Prancis, Jean Cocteau, "kematian sudah berjalan mendekatiku saat aku dilahirkan, dan ia berjalan kepadaku perlahan, tanpa terburu-buru", kematian akan selalu mengintai diri kita, dimanapun dan kapanpun kita berada. Bagi Petrovski, kematian itu terjadi di tempat yang begitu dekat dengan dirinya.

Petrovski meninggal di tempat dimana ia memainkan olahraga yang ia sukai, dan tempat dimana ia sering menghabiskan waktu, yaitu lapangan sepakbola. Bagi kita, kematian mungkin masih terlihat samar, tapi, seperti yang diujarkan Cocteau di atas, ia mendekat dengan pasti, dan kapanpun ia memeluk kita, kita harus siap untuk memeluknya kembali.

Selamat jalan, Marco Stefan Petrovski. Semoga bahagia dan tenang di alam sana


foto: huffingtonpost.com

Komentar