Wawancara Ekslusif Danilo Fernando: Arti Jawa Timur Bagi Danilo dan Pandangannya Pada (Mafia) Wasit

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Wawancara Ekslusif Danilo Fernando: Arti Jawa Timur Bagi Danilo dan Pandangannya Pada (Mafia) Wasit

Nama Danilo Fernando tak bisa dilepaskan dari perkembangan sepakbola nasional. Hampir semua klub yang dibelanya – mulai dari Petrokimia Putra, Persebaya, Persik, Deltras, Persisam, Perseba, hingga PBFC – selalu berprestasi di tiap musimnya.

Memutuskan pensiun pada 2014, suami dari eks Manajer Deltras, Ayu Sartika Virianti, ini mulai fokus melakukan banyak hal di luar lapangan. Di antaranya memulai bisnis makanan khas Brasil, Churrasco, yang berada di wilayah Surabaya, hingga memulai peran baru sebagai Manajer Pusamania Borneo FC, klub terakhir yang berhasil dibawa Danilo menjadi juara.

Pada Jumat lalu (25/3) di salah satu hotel di kawasan Ciumbuleuit, Bandung, Pandit Football Indonesia berkesempatan untuk mewawancarai pemain yang mengaku memiliki kenangan yang sangat dalam bersama Christian Gonzales dan Ronald Fagundez ini. Berikut petikan wawancara kami.

Mengapa memilih Indonesia sebagai pelabuhan karier?

Sejak memulai karier di sepakbola, saya memiliki keinginan untuk bermain di luar negeri. Pada 2002 ketika saya bermain di salah satu klub di Divisi Utama Sao Paulo, ada agen pemain menemui saya. Agen tersebut bertanya kepada saya, “Kamu mau main di Indonesia?”, “Hah, Indonesia? Di mana itu? Tidak pernah dengar itu,” jawab saya. Tapi saya merasa itu sesuai cita-cita saya, serta tawaran yang diberikan cukup bagus. Pada akhirnya saya mengiyakan tawaran tersebut, dan kemudian bergabung dengan Jacksen F. Tiago.

Anda dikenal sebagai salah satu pemain asing yang banyak menghabiskan kariernya di klub-klub Jawa Timur, mengapa?

Ketika saya bermain di Petrokimia hingga Persebaya, banyak orang mulai mengenal nama saya. Mulai dari situ, saya merasa cocok dan mampu beradaptasi dengan teman-teman Jawa Timur. Belum lagi dari makanan, suasana, dan orang-orang Jawa Timur membuat saya merasa nyaman berada di sana.

Selain itu, saya merasa saat itu prestasi yang saya buat untuk klub Jawa Timur saat itu membuat betah. Hingga pada akhirnya, saat itu saya mulai berpikir, “Ngapain saya pindah ke daerah lain, karena saya merasa semua sudah saya dapatkan di Jawa Timur.”

Menurut saya sebagai pemain sepakbola, tidak hanya suasana di dalam lapangan yang kita cari, tapi kehidupan di luar lapangan juga harus baik. Sebab, menurut saya, kedua hal tersebut harus seimbang.

Siapa pemain sepakbola memiliki gaya bermain paling cocok dengan Anda?

Saya merasa Christian Gonzales dan Ronald Fagundez ketika kami sama-sama bermain di Persik. Saya merasa gaya bermain mereka cocok dengan saya. Hal itu juga membuat saya bermain cukup kerasan berada di Kediri.

Permasalahan wasit menjadi suatu hal yang lazim di Indonesia. Sebagai orang yang sudah terlibat 13 tahun lebih dalam sepakbola Indonesia, bagaimana Anda menilai perkembangan kualitas wasit?

Sejak kedatangan saya pada 2002 lalu, sepertinya menuju ke arah yang lebih baik. Saya melihat skill individu pemain dan kualitas wasit sudah mulai berkembang. Alasan saya, 13 tahun lalu permainan sepakbola di Indonesia “luar biasa” kasar, belum lagi wasit pada saat itu yang cenderung tidak berani mengambil keputusan. Sekarang sudah lumayan, lah.

Bagaimana rasanya menjadi orang di luar lapangan setelah sekian tahun menjadi pemain?

Kalau dulu ketika masih bermain saya hanya berpikir mengenai datang di lapangan, bermain, dan beristirahat. Namun kini, banyak peran yang harus saya jalani. Mulai dari menjaga stabilitas permainan tim melalui pelatih, menjaga hubungan antara pemain, pelatih, staf, hingga manajemen agar semuanya berjalan dengan baik.

Anda termasuk dalam pemain yang memperkuat Pusamania Borneo FC yang sempat dituding melakukan jual beli penalti ketika mengikuti kompetisi Divisi Utama 2014. Bagaimana Anda menyikapi hal tersebut? 

Opini masyarakat memang tidak bisa dihindari. Kalau masyarakat bilang itu adalah mafia penalti atau mafia wasit, hal itu berdasarkan apa? Harusnya ada bukti mengenai ucapan itu. Oleh karena itu saya merasa tidak perlu menanggapi hal tersebut, karena hal tersebut hanya akan membuat panas sepakbola Indonesia.

Banyak masyarakat yang bilang bahwa Anda memiliki “kedekatan” dengan Vigit Waluyo. Belum lagi kini Anda adalah suami dari anak Vigit. Bagaimana Anda menilai hubungan Anda dengan beliau?

Saya tidak merasa memiliki hubungan khusus dengan beliau. Saya pun menganggap beliau sebagai keluarga saja. Jika berada di dalam lapangan, saya bahkan profesional terhadap beliau. Contohnya ketika beliau ada di Persebaya, saya malah bermain di Persisam Samarinda.

Ada harapan bagi persepakbolaan Indonesia?

Kita harus mulai tidak saling menyalahkan. Bahkan, alangkah lebih baiknya kita mulai mengevaluasi diri. Jika ingin sepakbola Indonesia lebih baik, mulai dari suporter, pemain, wasit, PSSI, hingga pemerintah harus mengubah pola berfikir.  

Komentar