Kekurangan yang Membentuk Kelebihan ?zil

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Kekurangan yang Membentuk Kelebihan Özil

“Mesut melihat hal-hal yang bahkan tak terlihat oleh kebanyakan pemain di lapangan,” ujar Theo Walcott mengenai rekan satu timnya di Arsenal, Mesut Özil. “Ia tahu apa yang akan ia lakukan sebelum ia melakukannya. Kami hanya perlu berlari. Kami memiliki pemain istimewa di lapangan yang menciptakan momen istimewa dalam pertandingan, dan itu membuat pekerjaan kami jauh lebih mudah.”

Dalam pujian yang berbeda, Arsène Wenger menyamakan Özil dengan musisi kelas satu. Manajer yang membawa Özil ke Inggris ketika berhasil meyakinkan sang pemain untuk pindah dari Real Madrid ke Arsenal ini juga memuji kemampuan Özil meredam ego demi membuka jalan untuk permainan kolektif.

“Mesut seperti musisi yang selalu memainkan nada yang tepat, dan ia memainkannya di saat yang tepat,” ujar Wenger. “Pemilihan waktunya sempurna – ketika ia harus melepas umpan, ia melepas umpan. Ini sangat indah dipandang. Saya sangat terkesan ketika pertama kali melihatnya karena di usia yang masih sangat muda ia memiliki pemilihan waktu melepas umpan yang selalu tepat. Ia meloloskan diri dari situasi sulit. Yang juga membuat saya terkesan adalah ia tidak memaksakan diri – permainan tim didahulukan ketimbang egonya.”

Soal tidak memaksakan diri, Wenger tidak sendiri. Ada sosok lain yang sepakat dengannya mengenai hal ini, namanya Tomáš Rosický. “Hal terbaik yang aku suka mengenai Mesut adalah ia tidak memaksakan umpan-umpan kunci,” ujar Rosický. “Kami semua tahu ia memiliki kemampuan melepas umpan kunci yang sangat baik namun kita juga dapat melihat bahwa ia hanya menggunakan kemampuannya ketika ia memiliki peluang untuk melakukannya dalam pertandingan. Jika tidak, maka ia tidak memaksakan diri dan sebagai gantinya ia bertukar umpan dengan rekan satu tim. Itu yang paling aku sukai darinya.”

Tidak salah memuji Özil untuk visi dan kemampuannya melepas umpan, namun ada yang tertinggal dalam pembicaraan-pembicaraan mengenai kualitas-kualitas permainan tersebut. Untuk menjembatani apa yang ia lihat dengan pemain lain, Özil membutuhkan umpan-umpan kelas satu. Untuk melepas umpan-umpan kelas satu, Özil membutuhkan sentuhan kelas satu. Ini yang sering dilupakan dalam pembicaraan mengenai kualitas-kualitas Özil. Ia sendiri sih tak pernah lupa. Dan tak pernah lupa pula ia bersyukur mengenai kekurangan masa kecil yang membuatnya memiliki sentuhan-sentuhan yang ia butuhkan saat ini.

“Ketika aku masih kecil, jika aku melihat sesuatu tergeletak, aku akan berusaha men-juggle-nya,” ujar Özil berkisah kepada Arsenal Magazine. “Jika aku pergi tamasya dengan teman-teman, maka kami akan memainkan permainan seperti dua sentuhan menggunakan bola tenis atau bola basket yang lebih berat dari bola normal.”

Begitu terlatih sentuhan Özil hingga permen karet pun mampu dikuasainya. Tidak sekali Özil tertangkap kamera meludahkan bola permen karet dari mulutnya dan menendang permen karet yang sama kembali masuk ke dalam mulut yang mengeluarkannya. Menurut pengakuan Özil, permen karet bukan satu-satunya yang mampu ia kuasai.



“Aku tidak hanya bermain dengan permen karet atau bola tenis, kadang dengan bola basket atau bola untuk latihan kesehatan – bahkan yang beratnya mencapai 5 kg, walau itu sangat sulit. Kadang jika di lapangan dan pertandingan telah berakhir aku melihat tape bergeletakan, aku akan memungut dan bermain dengannya juga.”

“Yang membantuku berkembang,” lanjut Özil, “adalah bermain melawan orang-orang yang lebih tua. Aku biasanya bermain melawan kakakku dan teman-temannya dan mereka selalu lima atau enam tahun lebih tua dariku. Ketika aku berusia 11 tahun, mereka sudah berusia 17 atau 18 tahun. Sulit bermain melawan mereka dan lapangan di tempatku tumbuh dulu tidak begitu baik, selalu ada batunya.”

Medan yang tidak sempurna itulah, selain lawan-lawan yang lebih tua darinya, yang membentuk Özil menjadi seperti sekarang ini. Berkat lapangan yang buruk dan lawan-lawan yang sulit, Özil memiliki kemampuan membaca segalanya.

“Harus sangat fokus jika memiliki bola dala situasi demikian,” ujar Özil. “Aku rasa hal-hal seperti itulah yang lebih banyak membantuku. Juggling menggunakan bola tenis bagus namun aku rasa yang membentuk teknikku adalah lapangan di daerah tempatku tumbuh di Gelsenkirchen.”

Boleh dibilang, Özil membentuk kelebihan yang ia miliki dengan kekurangan-kekurangan yang tersaji.

ed: fva

Komentar