Mesin Pencetak Gol Baru Celtic Penerus Henrik Larsson

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Mesin Pencetak Gol Baru Celtic Penerus Henrik Larsson

Februari lalu, persepakbolaan Skotlandia dikejutkan oleh berita penahanan bocah 15 tahun. Bocah ini ditahan karena terbukti melakukan komentar kasar kepada striker Celtic, Leigh Griffiths usai mencetak gol ke gawang East Kilbridepada di Piala Skotlandia. Griffiths sendiri tak terlalu menanggapi kasus tersebut, ia lebih memilih untuk fokus pada pertandingan melawan Ross County.

Tak sekali dua kali Griffiths diteror oleh pendukung lawan. Pemain Timnas Skotlandia tersebut bahkan sangat akrab dengan teror. Beberapa kali pendukung lawan bahkan mendoakan agar empat anak Griffiths meninggal.

Memangnya, apa yang telah dilakukan Griffiths hingga diperlakukan seperti itu? Dosa apa ygn telah dilakukannya sehingga begitu dibenci pendukung lawang? Ternyata jawabannya adalah karena Griffiths tak berhenti mencetak gol.

Raihan gol yang diciptakan Griffiths memang terbilang fenomenal sejauh ini. 26 golnya di Liga Primer Skotlandia dicetak dari 27 penampilan bersama The Hoops. Hasil itu pun membuatnya masuk ke dalam daftar 10 pencetak gol terbanyak sementara di Eropa. Bahkan ia menjadi pemain termuda dan satu-satunya pemain asli Inggris Raya yang mengisi daftar tersebut.

Namun, melihat latar belakang Griffiths, tak ada yang bakal menyangka ia bakal sesukses ini. Orang tuanya cerai ketika ia belum mengerti apa-apa. Ia tumbuh bersama sang ayah hingga ia diberi kesempatan membela Livingston 2006 lalu.

Perkenalan Griffiths dengan sepakbola sendiri terjadi sejak ia masih berusia enam tahun. Orang tua Griffiths bahkan mendaftarkannya ke Leith Links, komunitas khusus membantu anak-anak tidak mampu atau berkebutuhan khusus lewat Hibernian, klub peserta Liga Primer Skotlandia.

“Ayahku pernah mengajakku menonton pertandingan Hibernian karena kami terdaftar sebagai anggota Leith Links. Namun, aku mulai sedikit banyak paham mengenai sepakbola karena kami selalu menonton tim sepakbola Leith Links U12 dan U13 setiap Sabtu dan Minggu,” ujar Griffiths kepada Daily Record.

Seringnya ia menonton Leith Links bermain membuatnya secara tidak langsung mengenal orang-orang di belakang komunitas tersebut, terutama pelatih. Hingga suatu hari, pelatih Leith Links, Tam Currie, diberitahu pegawai Leith Links, bahwa ada anak yang bisa bermain sepakbola.

Baiknya performa Griffiths membuat Currie mengenalkannya ke banyak orang. Currie beralasan bahwa potensi Griffiths akan mencapai puncak apabila ia berada di tim profesional. Currie pun memberi tahu John Hughes, Pelatih Falkirk saat itu. Hughes bahkan memuji Griffiths saat pertama melihatnya.

Pada akhirnya, Griffiths tak jadi memperkuat Falkirk lantaran ayahnya memintanya fokus untuk menyelesaikan sekolahnya. “Setiap hari saya berlatih sepakbola, saya selalu sampai di rumah pukul 11.30 malam dan pagi harinya harus berangkat ke sekolah. Rutinitas tersebut membuat ayah saya menginginkan untuk fokus terhadap sekolah.”

Semakin dewasanya Griffiths berbeda dengan karier sepakbola profesional yang tampak semakin jauh. Ia bahkan lebih memilih bergabung tim amatir demi memuaskan nafsu bermain sepakbolanya di akhir pekan.

“Banyak yang menyuruh saya bermain untuk Hutchinson Vale. Selain mereka adalah tim amatir yang terbilang terbaik di Skotlandia, pertandingan mereka juga selalu dipenuhi penonton,” ungkap Griffiths. “Mereka juga dikenal sebagai tim penghasil pemain potensial, seperti Darren Fletcher, John Collins, Paul Hanlon, Jason Cummings, dan masih banyak lagi.”

Memperkuat Hutchinson Vale di level amatir membuat karier Griffiths melejit. Ia pun mencatatkan debut profesional pertamanya bersama Livingston pada musim 2006/07 di usia 16 tahun. Setelah itu, tak ada yang tahu kemana uang membawanya pergi. Dundee United 2009/10, Wolverhampton 2011/12, hingga Glasgow Celtic 2014/15.

Bersama Celtic yang diasuh oleh Ronny Delia, Griffiths mulai belajar menjadi problem lini pertahanan lawan, sama seperti Charlie Nicholas, Brian McClair, Henrik Larsson, dan Jan Vennegor of Hesselink. Kini ia pun telah mencetak 35 gol di semua kompetisi, berbeda 18 gol dari Larsson dan 13 gol dari Nicholas.

“Saya membuat catatan gol mereka sebagai target saya musim ini. Catatan Nicholas sebisa mungkin akan saya kejar, sementara catatan Larsson adalah suatu hal yang sulit buat saya. Saya masih memiliki sembilan pertandingan tersisa di liga dan mungkin saja partai final,” ujar Griffiths.

“Saya ingin mengejar rekor mereka bukan karena saya ingin tenar. Tapi karena saya ingin dikenang seperti Larsson, Nicholas, McClair, John Hartson dan Chris Sutton. Mereka semua adalah striker hebat dan saya ingin nama saya diingat seperti halnya mereka,” ucapnya.

Melihat semangat Griffiths untuk terus mencetak gol rasanya akan sangat wajar namanya akan diingat seperti  halnya striker tersebut. Namun, di satu sisi Celtic juga harus waspada karena Griffiths bisa saja bermain untuk tim besar di musim depan.

Komentar