Mengenang Trio Lini Serang Terbaik Liga Indonesia 2000-an

Cerita

by Aun Rahman 28274

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Mengenang Trio Lini Serang Terbaik Liga Indonesia 2000-an

Trio lini serang Barcelona; Lionel Messi, Luis Suarez, dan Neymar, bisa dibilang merupakan trio lini serang terbaik dalam dua tahun ke belakang. Ketiganya memilki julukan ‘MSN’ yang diambil dari huruf pertama nama masing-masing. Prestasi terbesar ketiganya adalah dengan membawa Barcelona menjadi juara Liga Champions Eropa pada tahun 2015 lalu.

Berbicara mengenai trio terbaik, sebenarnya sepakbola Indonesia pun pernah memiliki trio maut yang menjadi momok bagi lini pertahanan lawan, yang cukup diingat di era awal 2000-an. Memang komparasinya akan jauh sekali apabila dibandingkan dengan trio MSN, tetapi tridente lini serang sepakbola indonesia merupakan sesuatu yang menggambarkan keunikan tersendiri dalam lingkup nasional. Berikut diantaranya :

Christian Gonzales, Ronald Fagundez, Danilo Fernando (Persik Kediri)

Bisa jadi ini adalah trio lini serang yang paling diingat oleh sebagian besar pecinta sepakbola Indonesia. Baik Christian Gonzales, Ronald Fagundez dan Danilo Fernando menjadi simbol superioritas Persik Kediri ketika berhasil menjadi juara Liga Indonesia pada tahun 2006. Kala itu, setiap tim selalu gentar apabila akan berhadapan dengan tim berjuluk Macan Putih tersebut.

">March 8, 2016
Kedatangan ketiga pemain ini bermula dari ketidak puasan manajemen terhadap kinerja tim karena gagal lolos dari babak delapan besar Liga Indonesia tahun 2005. Danilo Fernando yang dua tahun sebelumnya berhasil membawa Persebaya Surabaya menjadi kampiun, didatangkan manajemen untuk bersanding dengan Gonzales dan Fagundez yang sudah mendarat semusim sebelumnya.

Sepanjang musim tersebut ketiganya tampil luar biasa, trio ini mencetak 42 dari 61 gol Persik Kediri pada musim tersebut. Yang paling sensasional tentunya adalah ketika Christian Gonzales mencetak lima gol dalam kemenangan 7-1 Persik atas Persegi Gianyar pada 10 Mei 2005. Dan ya, musim tersebut Gonzales dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak kompetisi yang juga melengkapi gelar juara yang diraih oleh Persik.

RALAT : Rondal Fagundez baru bergabung dengan Persik Kediri pasca kemenangan final Liga Indonesia di Stadion Manahan, Solo, pada tahun 2006. Kala itu trio lini serangnya adalah Chrsitian Gonzales, Danilo Fernando, dan Ebi Sukore atau Budi Sudarsono. Mohon maaf atas kekeliruannya.


Anoure Obiora, Kayamba Gumbs, Zah Rahan (Sriwijaya FC)

Tidak puas dengan trio lini serang yang dihuni oleh Christian Lenglolo, Anoure Obiora, dan Zah Rahan, Sriwijaya FC (SFC) kemudian mendatangkan Keith Kayamba Gumbs yang sebelumnya bermain di Liga Hong Kong bersama Kitchee SC. Gumbs didatangkan untuk menggantikan peran Lenglolo.

Namun hasil yang diberikan Gumbs yang berpartner bersama Obiora dan Zah Rahan tidak main-main. Ketiganya berhasil membawa SFC menjadi juara di edisi terakhir Liga Indonesia sebelum kemudian bertransformasi menjadi Liga Super. Gol yang dicetak ketiganya di partai final pada 10 Febuari 2008 seakan menandakan peran besar tiga pemain tersebut dalam kesuksesan SFC menjadi kampiun.

Ernest Jeremiah, Alberto Goncalves, Boaz Solossa (Persipura Jayapura)

Meskipun terhenti di babak semifinal pada edisi sebelumnya, Persipura Jayapura tidak banyak mengubah komposisi pemain mereka ketika menghadapi Liga Super Indonesia edisi pertama pada tahun 2008. Ernest Jeremiah, Alberto Goncalves, plus satu penyerang lokal yaitu Boaz Solossa menjadi tridente maut yang mencetak banyak ke gawan lawan.

Luar biasanya dua diantara tiga pemain tersebut masuk dalam daftar tiga besar pencetak gol terbanyak kompetisi. Boaz Solossa yang kemudian menjadi pencetak gol turnamen berhasil mencetak 28 gol, sementara Alberto ‘Beto' Goncalves berhasil menyarangkan 23 gol. Tak hanya itu, Ernest Jeremiah pun mengoleksi dua digit dengan 17 gol.

Roman Chmelo, Noh Alam Shah, Ridhuan Muhammad (Arema FC)

Salah satu tridente favorit penulis adalah trio lini serang Arema, Roman Chmelo, Noh Alam Shah dan Ridhuan Muhammad. Roman, Along, dan Ridhuan menjadi kunci sukses Arema ketika berhasil menjuarai Liga Super Indonesia tahun 2010.

Alam Shah, Ridhuan dan Roman ketika merayakan gol di Derby Malang tahun 2010
Alam Shah, Ridhuan dan Roman ketika merayakan gol di Derby Malang tahun 2010

Ketiganya langsung membawa Arema tancap gas di awal-awal kompetisi dan sempat membuat jarak 10 poin dengan Persipura Jayapura yang berada di peringkat kedua. Penampilan paling sensasional trio lini serang ini adalah ketika memenangi Derby Malang melawan Persema Malang dengan skor 3-1 pada 10 Januari 2010.

Selain ketiga pemain ini, secara keseluruhan skuat Arema musim tersebut memang mumpuni di segala sektor. Di lini belakang ada Pierre Njanka, kemudian Esteban Guillen menjadi jenderal lapangan tengah. Belum lagi penggawa-penggawa lokal yang bermain cemerlang seperti Fachrudin, Benny Wahyudi dan Ahmad Bustomi.

***

Nama-nama di atas dipilih berdasarkan kontribusi tridente tersebut terhadap tim secara keseluruhan. Dalam arti lain, bukan saja terkait jumlah gol tetapi juga kontribusi terhadap tim untuk meraih gelar juara.

Selain nama-nama diatas ada tridente lain yang juga cukup menyita perhatian di masa lalu. Di antaranya, Gonzales-Hilton-Airlangga (Persib Bandung), Dzumafo-Nzekou-Khaddafi (PSPS Pekanbaru), kemudian Fatheca-Roger Batoum-Cabanas (Persija Jakarta), hingga trio lini serang lokal yang dimiliki Persita Tangerang yaitu Ilham Jayakesuma, Zaenal Arief dan Firman Utina.

Sumber : rsssf.com

foto : detiksports, ongisnade, twitter.com

Komentar