Subsidi untuk Klub dan Salary Cap ISC 2016 Bukan Jaminan Liga yang Lebih Profesional?

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Subsidi untuk Klub dan Salary Cap ISC 2016 Bukan Jaminan Liga yang Lebih Profesional?

Kejelasan mengenai masa depan sepakbola Indonesia akhirnya sedikit menemui titik terang. Indonesia Soccer Championship (ISC) akan digelar sebagai kompetisi reguler sepakbola Indonesia setelah Liga terhenti tahun 2015 lalu. Kompetisi yang awalnya bernama Indonesia Super Championship ini kemudian berganti nama menjadi Indonesia Soccer Championship terkait alasan pemasaran dan bergantinya nama operator kompetisi dari PT Liga Indonesia menjadi PT Gelora Trisula Semesta (GTS).

Kompetisi ini sendiri direncanakan akan melakukan kick-off pertandingan perdana mereka pada 15 April 2016 dan akan berakhir pada bulan Desember. ISC sendiri akan terbagi dua yaitu ISC-A yang akan diikuti oleh 18 klub Liga Super, dan ISC-B yang akan diikuti oleh 59 klub perserta yang berasal dari level divisi utama.

Pertandingan sendiri akan diselenggarakan pada akhir pekan mengikuti kebanyakan liga di benua Eropa. Kemungkinan besar akan ada tiga partai dalam satu hari. Dengan pertandingan pertama dimulai pada pukul 15.30 dan akan dilanjutkan dengan partai kedua dan ketiga pada pukul 19.00 dan 21.00.

ISC akan menjadi awalan untuk kompetisi-kompetisi lanjutan yang akan diselenggarakan PT Gelora Trisula Semesta untuk tahun 2016 ini. Mereka berencana akan juga melaksanakan empat agenda lain yaitu Piala Presiden (akan menjadi turnamen selingan selama kompetisi seperti Copa Indonesia) kemudian Turnamen untuk tim U-21, Piala Soeratin, dan kompetisi untuk tim amatir, Liga Nusantara.

Bukan masalah keabsahan klub peserta yang kali ini dibahas. Tetapi masalah finansial terkait kompetisi reguler pengganti liga ini. Setidaknya ada dua hal yang menarik perhatian, yaitu terkait subsidi dari operator liga, dan terkait sistem gaji para pemain di kompetisi ini.

Bantuan Keuangan Kepada Klub dan Salary Cap

Dalam gelaran ISC nanti setiap klub akan diberikan dana bantuan untuk operasional mereka sebesar Rp. 5 Miliar. Kemudian sang juara kompetisi akan mendapatkan hadiah sebesar Rp.3 Miliar sementara runner up akan dihadiahi satu miliar lebih sedikit dibandingkan tim yang menjadi kampiun kompetisi. Gelontoran rupiah tersebut belum termasuk pembagian hak siar dan pemasukan bagi klub yang memiliki rating tertinggi.

Gembar-gembor hadiah ini jelas terdengar sangat menggiurkan bahkan untuk manajer Persib Bandung, Umuh Muchtar, yang jelas-jelas timnya merupakan salah satu tim kaya di sepakbola Indonesia.

�"Ini jelas ada peningkatan dana bagi klub. Pada kompetisi sebelum berhenti (LSI 2014), bantuan untuk klub Rp 2,5 miliar. Sekarang ini menggiurkan karena klub akan terbantu. Jika operator turnamen ada keuntungan, klub mendapat potensi tambahan pemasukan. Semua klub akan senang yah, dan Insya Allah turnamen akan bergulir sesuai rencana. Hadiah juga naik dari sebelumnya,�" ujar Umuh, Sabtu (27/2/2016) kepada harian Pikiran Rakyat.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah operator kompetisi akan berkomitmen dengan hal tersebut. Apakah benar pembagian subsidi dan hak siar akan diterima secara adil kepada seluruh klub yang mengikuti kompetisi. Karena liga termutakhir saja menyisakan polemik dimana dikabarkan bahwa Persib Bandung yang keluar sebagai juara belum sama sekali menerima hadiah kemenangan dari operator kompetisi.

Yang kedua adalah terkait salary cap, atau pembatasan terkait jumlah uang yang dikeluarkan oleh suatu klub untuk membayar gaji pemain. Sistem seperti ini sudah lama berkembang dalam dunia olahraga di Amerika Serikat.

Sistem salary cap sendiri ditujukan bukan saja agar keuangan klub lebih stabil tetapi juga menciptakan iklim yang lebih kompetitif karena dengan pembatasan nilai kontrak pada suatu klub, kekuatan tim akan merata karena tidak ada lagi tim yang semua pemainnya adalah pemain bintang bergaji tinggi.

Operator kompetisi sendiri meregulasikan bahwa untuk ISC A pembatasan nilai kontrak yang berlaku untuk semua klub adalah Rp 10 miliar, dengan rataaan minimal untuk semua klub ada di angka Rp 5 miliar.

Kemudian terobosan lain yang dibuat oleh operator kompetisi adalah adanya pengurangan poin di kompetisi bagi tim-tim yang tidak membayar gaji pemainnya tepat waktu. Apabila telat satu bulan maka akan dipotong satu poin, apabila terlambat dua bulan akan dikurangi dua poin.

Dua regulasi yang diharapkan akan menstabilkan keuangan klub dan kedepannya tidak ada lagi permasalahan terkait tunggakan pembayaran gaji pemain. Tetapi melihat kasus-kasus sebelumnya, apakah ini akan menjadi solusi?

Rasanya klub akan lebih memilih untuk menerima pengurangan dibandingkan harus membayarkan gaji para pemainnya. Pada masa kompetisi terhenti tahun lalu bahkan klub-klub di kancah sepakbola nasional tidak segan untuk membubarkan diri karena tidak bisa membayar gaji para pemainnya.

Urusan gaji dan nilai kontrak ini sendiri semestinya bukan diatur melalui regulasi kompetisi semata. Bahkan seharusnya kontrak antara pemain dan klub diatur melalu level hukum pidana yang sesuai dengan hukum kontrak kerja atau perjanjian kerja menurut Undang-Undang No.13/2003 tentang ketenagakerjaan. Dengan cara ini, apabila nantinya ada pihak yang melanggar, kasusnya bisa dibawa ke meja hijau.

***

ISC memang adalah awal baru bagi sepakbola Indonesia. Bahkan inilah keputusan yang terbaik bagi semua pihak terkait masa depan sepakbola Indonesia. Namun apabila tidak direncanakan dan diatur secara matang yang terjadi pada kompetisi yang lalu bisa saja kembali terjadi.



Sumber : Pikiran Rakyat, CNN

Foto : Bola.com

Komentar