Pengaruh Kanker Mata Terhadap Karier Willy Caballero

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Pengaruh Kanker Mata Terhadap Karier Willy Caballero

Keberhasilan Manchester City mengalahkan Liverpool di final Capital One Cup Inggris 2015/16, tak bisa dilepaskan dari kontribusi Willy Caballero. Dan keberhasilan Caballero sampai ke titik ini tidak lepas dari kanker mata yang sempat menghambat kariernya.

Meski telah bermain sejak musim 2014/15 untuk City, Caballero bukan termasuk pemain reguler di tim berjuluk The Citizens tersebut. Keberadaan Joe Hart di pos penjaga gawang bukan hal yang mudah untuk direbut oleh pemain 34 tahun ini. Penampilannya di final pun bisa ia dapatkan “hanya” karena janji Manuel Pellegrini untuk memainkan Caballero di Capital One Cup.

“Saya lebih baik kehilangan gelar (Capital One Cup) ketimbang kata-kata saya. Banyak media yang menunggu untuk mengkritik saya jika Willy Caballero membuat kesalahan,” kata Pellegrini seusai pertandingan.

Melihat penampilan Caballero di laga tersebut pun membuat banyak orang beranggapan, bahwa masa depan kiper berkebangsaan Argentina ini akan lebih baik di City. Tapi, sebelum melihat masa depan, siapa sangka karier Caballero tak semulus yang dibayangkan. Bahkan, bisa dibilang, kariernya sebagai pemain cenderung lambat, lantaran baru memperkuat klub “besar” Eropa di usia 30 tahun.

Caballero memulai karier profesionalnya bersama klub besar Argentina, Boca Juniors, sejak musim 2001. Meski ia digadang-gadang sebagai calon pemain hebat, ia tak banyak mendapatkan menit bermain lantaran kiper senior Roberto Abbondanzieri masih bermain. Ia bahkan hanya mencatat 15 caps bersama Boca selama empat tahunnya di sana.

Melihat bakat Caballero, klub Segunda Divison, Elche, mendatangkannya di awal musim 2004/05, untuk memperbaiki lini belakang mereka yang tampil buruk di musim sebelumnya. Pada akhirnya, ia hijrah ke Spanyol. Caballero meninggalkan istrinya, Lucia, dan anak perempuannya, Guillermina, di Argentina.

Perubahan dalam kariernya terjadi kala Guillermina divonis terkena kanker mata di tahun 2006. Keadaan ini bahkan membuat anaknya sempat tak bisa melihat dalam waktu yang cukup lama. Hal itu membuat konsentrasi Caballero terganggu. Ia tak fokus saat bermain untuk Elche. Beberapa kali ia bahkan memilih izin untuk pulang ke Argentina. Ketidakfokusan Caballero membuat Elche terganggu. Caballero pun meminta untuk pulang ke Argentina demi menemani anak perempuannya. Akhirnya, ia bergabung ke klub Argentina, Arsenal de Sarandi, agar ia terus bermain dan membiayai pengobatan putrinya, serta dapat menemani putrinya menjalani masa penyembuhan.

“Penyakit yang dialami Guillermina jarang terjadi di Argentina. Sulit dipercaya bahwa seseorang yang Anda cintai mengalami penyakit seberat itu di usia yang begitu muda. Saya dan keluarga bahkan melakukan semuanya untuk membuatnya sembuh,” ujarnya kepada Mirror pada 2014 lalu.

Pengorbanan Caballero untuk kesembuhan putrinya memang begitu besar. Masih menurut wawancaranya dengan Mirror, ia mengatakan bahwa ia sempat tak bermain selama beberapa laga di Arsenal, hanya demi menemani putrinya melakukan penyembuhan.

“Sangat berat rasanya meninggalkan ia (Guillermina) ketika melakukan proses penyembuhan di rumah sakit. Jika ada pilihan antara menemeni Guillermina atau bermain, jelas saya memilih untuk menemaninya,” ungkapnya. “Kejadian itu membuat saya sebagai sosok yang lebih kuat karena jika Guillermina bisa bertahan dari kanker dan sembuh, mengapa saya tidak bisa untuk bermain lebih baik di lapangan.”

Caballero, Guillermina, Lucia
Caballero, Guillermina, Lucia. Sumber: Instagram

Kesembuhan Guillermina berjalan beriringan dengan karier Caballero yang semakin menanjak di Elche. Catatan kebobolannya pun semakin baik dari musim ke musim. Ia bahkan dianggap sebagai salah satu legenda di klub tersebut, saat  ia berhasil membuat 186 penampilan bersama Elche.

Sukses di Elche membuatnya menarik perhatian Malaga di musim 2010/11 yang saat itu tengah dalam tren baik setelah dimiliki oleh pengusaha kaya asal Qatar, Sheikh Abdullah Al Thani. Ia pun menjadi bagian dari satu skuat Malaga di musim 2011/12 yang berhasil membawa tim tersebut melaju ke Liga Champions untuk kali pertama. Pencapaian  Caballero semakin baik di musim selanjutnya, setelah ia menjadi kiper terbaik ketiga di La Liga, setelah Thibaut Courtois dan Víctor Valdés.

Kursi kepelatihan Manchester City yang diambil alih Manuel Pellegrini per 2013, membuat Caballero terbang ke Etihad untuk menjadi pengganti Costel Pantilimon yang hijrah ke Sunderland. Kedatangan Caballero pun tak lepas dari cibiran suporter City, mengingat ia adalah anak asuh Pellegrini di Malaga.

Meski demikian, ia tak mau menyerah. Responnya yang cenderung lambat untuk ukuran kiper, membuatnya terus mengasah kemampuan saat berada di tempat latihan.

“Guillermina selalu jadi motivasiku untuk semangat berlatih. Apa yang telah ia perjuangkan, membuatku memiliki semangat untuk tak cepat menyerah,” ujarnya kepada Canchallena.

Melihat kegigihannya dalam berjuang membuatnya semakin dipercaya oleh Pellegrini. Dan keputusan pelatih asal Cile tersebut untuk memasang Caballero di partai final Capital One Cup berbuah manis: gelar untuk Pellegrini di musim terakhirnya bersama City.

Komentar