Gemerlap Media yang Menghancurkan Karier Sonny Pike

Cerita

by redaksi 70137

Gemerlap Media yang Menghancurkan Karier Sonny Pike

Di suatu masa, Inggris pernah digegerkan dengan pemberitaan bocah berumur tujuh tahun yang mahir bermain sepakbola. Saking berbakatnya, ia dijuluki sebagai the next George Best, bahkan next Maradona.

Bocah tersebut adalah Sonny Pike, yang lahir dengan nama Luke Pike. Sekitar 20 tahun lalu ketika arus informasi sepakbola dari luar negeri belum sederas ini ke Indonesia, maka mungkin kita sudah pernah mendengar nama yang satu ini. Sonny, pada masanya adalah salahsatu ‘prodigy’ dalam sepakbola.

Prodigy menurut Oxford dictionary adalah -A young person with exceptional qualities or abilities- atau bisa diartikan sebagai anak muda yang dianugerahi kemampuan luar biasa dalam suatu bidang. Bila Anda mengikuti berita akhir-akhir ini tentang bocah Indonesia berumur 12 tahun yang mendapat nominasi di Grammy Awards, Joey Alexander, seperti itulah kira-kira anak prodigy.

Sonny bergabung dengan Ajax Amsterdam sejak umur tujuh tahun. Saat itulah media Inggris mulai menyematkan embel-embel 'the next' pada dirinya.

Stasiun televisi dan radio BBC kala itu sampai membuat serial khusus berjudul Touched With Fire, yang berisi tentang kehidupan Sonny Pike. Acara tersebut menayangkan kehidupan Sonny yang berusia 13 tahun menjalani kehidupan sehari-hari dengan berlatih bersama akademi Ajax.

Selain mendapat peliputan dari BBC, Sonny Pike juga pernah menjadi bintang tamu dalam acara talkshow televisi Sky yang dipandu bintang sepakbola Inggris, Ian Wright.

Ironisnya, pemberitaan luar biasa yang diberikan kepada Sonny tidak memberi dampak yang baik di sekolahnya. Bahkan anehnya, teman-teman di sekolahnya kala itu berujar kalau Sonny tidak jago-jago amat, dan tidak lebih jago daripada teman-teman lain di sekolahnya.

Fakta menarik yang tidak diketahui orang banyak adalah, sekitar 90 persen anak Inggris yang bergabung dengan akademi sepakbola klub profesional diputus kontraknya sebelum mendapat kontrak profesional pada usia 16 tahun. Dan Sonny adalah salah satu yang mengalaminya.

Sonny harus menerima kenyataan bahwa dirinya tidak menjadi pemain sepakbola profesional atau bahkan ‘next Maradona’ seperti yang diberitakan oleh media-media di Inggris kala itu. Tanpa kekayaan, tanpa status, tanpa kenalan-kenalan terkenal disekelilingnya.

Mantan pelatihnya di tim cadangan London Colney memberikan kesaksian tentang Sonny Pike. Menurutnya Sonny memiliki skill yang baik, juga kemampuan operan yang baik, namun tidak memiliki kecepatan dan kelincahan yang cukup untuk bermain di sepakbola profesional.

Ayahnya yang terlalu ambisius dan yakin Sonny akan menjadi pemain hebat juga diperkirakan menjadi salah satu kehancuran diri karier Sonny Pike. Mickey Pike, memperlihatkan bagaimana skill anaknya mengolah si kulit bundar kepada pemandu bakat terkenal. Saking ambisusnya, ia rela rumah tangganya hancur berantakan. Inilah yang diduga menjadi penyebab kuat Sonny Pike depresi dan tidak tertarik mengasah kemampuannya lagi di sepakbola.

Ekspos berlebihan yang diterimanya ternyata tak hanya itu saja. Di usia 14 tahun, ia menjadi bintang iklan McDonalds di Inggris. Sonny juga pernah menunjukkan skillnya mengolah bola di pembukaan final League Cup 1996 di Wembley antara Aston Villa dan Leeds United.

Tekanan besar yang diberikan padanya menjadi alasan utamanya berhenti berlatih dan menjauh dari sepakbola, bahkan saat dirinya masih berada di tim junior Ajax Amsterdam. Tekanan besar sponsor, agen, media, bahkan klubnya sendiri membuat mentalnya tertekan hingga menderita gangguan jiwa pada Oktober 2000, saat itu usianya 16 tahun.

”Saya tidak bisa menerima semuanya, saya menjadi sakit, dan semuanya kacau. Saya berhenti berlatih dan sebagainya karna saya benar-benar kacau dan saya tidak bisa mengatasinya. Melihat kembali ke belakang, betapa saya ada di titik terendah. Ajax benar-benar lupa tentang saya,mereka tidak ingin tahu, tapi begitu (keadaan) saya membaik, mereka bertindak seperti mereka ada untuk saya. Saya menyadari betapa rendah (keadaan) waktu itu," ujarnya saat itu.

Sonny bercerita kepada Guardian, saat ia masih muda dan bermain sepakbola, dalam semusim ia bisa mencetak sekitar 150 gol, atau mungkin sekitar 300 gol jika dihitung dengan turnamen lain yang diikutinya. Sonny kala itu mulai meraih perhatian pemandu bakat saat mengikuti turnamen “Mini World Cup” bersama David Bentley dan Ashley Young di Denmark.

“Berapa scout yang kamu temui hari ini?” menjadi pertanyaan yang lumrah ia bincangkan bersama David Bentley kala itu. Bentley adalah pemain yang namanya sempat melambung bersama Tottenham Hotspur sebelum kariernya berakhir dini di West Ham United tahun 2010 karena cedera.

Sonny menduga ayahnya, Mickey Pike, yang haus perhatian publik berperan dalam membahayakan potensi kariernya. Ia bercerita bahwa di usianya yang berumur 14-15 tahun, dirinya mendapat perlakuan layaknya pesepakbola pro, bahkan lebih. Saat itu ia mendapat sponsor dari apparel Mizuno, produk fashion Paul Smith, iklan Coca-cola, M Donalds, dan yang paling gila: asuransi kaki senilai 1 juta poundsterling.

Popularitas yang ia terima bahkan menyulitkan dirinya. Ia bercerita bagaimana dirinya berusaha mengubah imej agar tidak dikenali orang-orang. “Saya melakukan semuanya secara sengaja, saya tidak ingin terlihat seperti diri saya. Saya ingat suatu hari mengikuti trial di Grimsby, saya menyetir, dan tidak ingin orang-orang mengenali saya. Sebelum saya masuk mobil, saya mengambil gunting dan menggunduli diri saya – hal yang belum pernah saya lakukan. Saya tidak mau orang bertanya ‘Bukankah kamu anak yang bermain untuk Ajax itu?’. Saya hanya ingin diperlakukan sama seperti orang lain,” ujarnya bercerita.

Kemudian keponakan dari eks-striker Tottenham Hotspur, Mark Falco ini memutuskan untuk pulang lebih awal dua hari sebelum dirinya dijadwalkan bermain di pertandingan uji coba. Ia merasa kariernya sudah berakhir.

Setelah keluar dari akademi Ajax, Sonny Pike sempat bermain dan mencoba trial di beberapa klub non-league Inggris seperti Stevenage Borough, Barnet, Enfield, dan Dryborough Saints.

Sonny Pike kemudian menghilang. Ia menghilang dari hiruk pikuk dunia sepakbola. Setelah itu banyak rumor mengatakan bahwa ia bermain di sejumlah klub non-league dengan identitas palsu demi menyamarkan jati dirinya atau ia menjadi mahasiswa Psikologi di salah satu universitas di Skotlandia. Namun, kabar tersebut semuanya tidak benar.

“Ketika saya muda, hanya saya yang mendapat sorotan seperti itu,” ujarnya. “Tapi sekarang, ada ratusan yang mendapat perlakuan seperti ini,” tambahnya dan menyarankan supaya pemain muda menjauh dari hal-hal yang bersifat pemberitaan semata dan fokus meningkatkan kemampuan mereka.

Ia kini senang berbicara dengan para orangtua dan anak, akademisi, dan memberi mereka masukan bagaimana seharusnya seseorang tidak harus ditekan dan menderita dengan apa yang mereka tekuni.

Dengan mengumpulkan uang hasil sponsor dan lain-lain saat ia masih muda, ia belajar menjadi tukang kayu untuk menghidupi anak istrinya. Ia kini menjadi supir taksi enam hari dalam seminggu. Ia kini memiliki 2 anak, Freya dan Beau, yang salah satunya menunjukkan bakat dalam bidang yang membuat dirinya hancur, sepakbola.

Di usianya yang tak lagi muda, Ia kini menjalani hidupnya seperti orang kebanyakan. Tidak ada lagi sorotan media, atau tekanan dari orang-orang. Bahkan ia tidak mengikuti sepakbola, hanya sesekali menonton timnas Inggris bermain di televisi. Ia berharap para pemain muda dan orangtua bisa belajar dari kisahnya. Dan juga pada akhirnya, Inggris tidak (akan) pernah memiliki ‘next Diego Maradona atau George Best’.

[tr]

Disadur dari The Guardian

Foto: Action images

Komentar