Pemain-Satu-Menit Chelsea yang Akhirnya Pergi

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Pemain-Satu-Menit Chelsea yang Akhirnya Pergi

Anda tahu Papy Djilobodji? Atau setidaknya pernah mendengar namanya diperbincangkan di media sepakbola? Jika Anda tak tahu, tak usah malu untuk mengakuinya, karena saya juga baru mengetahuinya kala namanya masuk dalam berita pemain baru Chelsea musim 2015/16, yang kini dipinjamkan ke Werder Bremen hingga akhir musim.

Kalau Anda tahu, bisa Anda sebutkan nama lengkapnya? Saya yakin Anda tidak hafal, sebab nama lengkapnya adalah Papiss Mison Mbouba Mbwiwa Abu Fuongo Baba Djilobodji. Cukup panjang bukan?

Kedatangan Djibolodji di Chelsea sempat menuai kritik. Sebab tak ada yang tahu asal usulnya. Jose Mourinho bahkan mengatakan ia tak berkeinginan mendatangkan pemain ini.

“Itu bukan keinginan saya. Dia merupakan keinginan seseorang yang saya percaya sepenuhnya,” ujar Jose Mourinho beberapa hari setelah kedatangan Djilobodji kepada Daily Mail.

Meski demikian,  Chelsea harus merogoh kocek untuk mendatangkannya dari Nantes, klub Prancis yang memang dikenal melahirkan nama-nama besar dalam industri sepakbola, seperti Didier Deschamps, Eric Djemba-Djemba, Claude Makelele, Christian Karembeu, dan Marcel Desailly. Yang mana nama terakhir memang merupakan pemain yang sangat diidolakan Djilobdji sejak ia kecil (dan keduanya sama-sama masuk skuat Nantes dan Chelsea, meski berbeda nasib).

Djilobodji mengawali karier sepakbolanya bersama ASC Saloum, klub lokal Kaolack, kota kelahirannya yang bermain di level kedua kompetisi profesional Senegal.  Bermain dua tahun di sana, penampilannya sempat memukau beberapa klub Eropa seperti Lazio dan Lille, yang mana keduanya sempat memberi Djilobodji kesempatan mengikuti trial dan ternyata ia gagal.

Keputusan akhirnya ia buat, dengan memilih US Senart-Moissy, klub level kelima dalam piramida kompetisi Prancis. Menurut Foot National, permainannya terbilang terlalu istimewa untuk klub level amatir di Prancis, seketika Djilobodji yang saat itu berusia 21 tahun dilirik oleh Jean-Marc Furlan, pelatih Nantes, klub peserta kompetisi Ligue 2.

Kepindahan Djilobodji pada paruh musim 2009/10 sempat menimbulkan pertanyaan di kalangan suporter Nantes, sebab tak ada yang tahu asal-usulnya, Foot National bahkan mengatakan bahwa Djilobodji "ditemukan Furlan dalam kotak keberuntungan yang tiba-tiba datang".

Petualangan karier profesionalnya dimulai di klub dari bagian barat Prancis ini. Ia hanya butuh setengah musim untuk menjadi pemain reguler di Nantes yang kala itu difavoritkan juara karena banyaknya pemain bintang yang mereka miliki, di antaranya adalah Bruno Cheyrou (eks Liverpool), Filip Djordjevic (kini Lazio), Jordan Veretout (kini Aston Villa), dan Christian Bekamenga (eks Persib). Tapi di akhir musim, penampilan Nantes justru tak memuaskan, yang juga membuat pemain pilar mereka pergi.

Waktu yang dinanti Djilobodji untuk membawa Nantes naik kelas akhirnya tiba pada musim 2012/13, Nantes naik ke kelas teratas kompetisi Prancis setelah berhasil duduk di peringkat ketiga Ligue 2. Kesuksesan Nantes naik ke kompetisi teratas bahkan tak bisa dijauhkan dari kontribusi Djilobodji, pasalnya ia mencatatkan 37 pertandingan di musim tersebut.

Musim pertama Djilobodji di Ligue 1 terbilang cukup apik. Bermain 28 kali sebagai pemain inti, ia sukses membuat tiga gol. Fisiknya yang menjulang membuatnya memenangi 2,8 duel udara, 9,1 sapuan bola, dan 2,6 intersep per pertandingannya. Catatan baiknya tersebut membuatnya dipanggil untuk bermain bersama kesebelasan negara Senegal dalam kualifikasi Piala Afrika 2015.

Permainan baik Djilobodji berlanjut di musim keduanya berseragam Nantes, yang mana ia berhasil membuat 3,3 intersep, 8,3 sapuan bola, dan 3, 1 duel per laganya. Penampilan di musim 2014/15  membuat WhoScored memberinya rating tertinggi di Nantes dalam musim 2014/15.

Keberhasilan menunjukkan konsistensi penampilan membuat nama Djilobodji diisukan hengkang. Beberapa klub lokal maupun Eropa seperti, Glasgow Celtic, Trabszonspor, dan Olympique Marseille dikabarkan tertarik mendatangkannya. Namun, Nantes berusaha menahannya dan berharap Djilobdji tetap bermain untuk klub yang bermarkas di Stade de la Beaujoire ini.

Djilobodji yang bersikeras berkeinginan untuk pindah pada akhirnya diberi sanksi oleh Franck Kita, Direktur Nantes, dengan tidak menyertakannya dalam daftar nama yang diikutkan dalam pemusatan latihan.

Melihat posisi Djilobodji yang tertekan dan mengingat kontraknya di Nantes yang habis akhir musim 2015/16, perwakilan Chelsea, yang diyakini sejumlah media Inggris, Michael Emenalo memberi penawaran untuk transfer Djilobodji, dan Kita setuju.

Mimpi Djilobodji bermain di Chelsea, seperti idolanya, Marcel Desailly, akhirnya terjadi.

Mimpi yang tak selamanya indah akhirnya berlaku untuk Djilobodji. Kariernya seakan tak berjalan mulus, meski kursi kepelatihan Chelsea berganti dari Mourinho ke Guus Hiddink, hingga para bek tengah Chelsea yang sempat menunjukkan performa tak memuaskan, ia tak juga mendapatkan kesempatan bermain. Kesempatan unjuk giginya pun hanya sekali, kala Chelsea menghadapi Walsall pada putaran ketiga Piala Carling September tahun lalu dan hanya selama satu menit lebih dua detik.

Kini khayalan Djilobodji untuk berkarier seperti Desailly tampaknya harus tertunda dan cenderung menjadi buram. Yang ada baginya kini mungkin hanya bermain.

Sumber: Foot National, France Football, ESPNFC, Daily Mail, BBC

Komentar