Gol Wendell Lira, dari 297 Penonton ke Masyarakat Seluruh Dunia

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Gol Wendell Lira, dari 297 Penonton ke Masyarakat Seluruh Dunia

Jutaan pasang mata tadi malam (12/1) terpaku pada sosok Wendell Lira. Tak ada yang tahu siapa sosok ini. Oleh karena itu banyak muncul pertanyaan mengenai latar belakangnya, namun pertanyaan paling banyak muncul di pikiran penonton Ballon d’Or Gala tadi malam mungkin adalah seberuntung apa dirinya, sehingga dia dapat memenangkan penghargaan Puskas Award 2015.

Tak ayal keberhasilannya malam tadi mungkin akan menjadi malam paling indah dalam hidupnya. Pasalnya, Lira bukan pemain dari klub besar seperti Barcelona dan AS Roma yang menempatkan pemainnya sebagai rival Lira. Ia pun hanya pemain klub Vila Nova yang bermain di Campeonato Brasileiro Serie C.

Dibesarkan di salah satu kota indah di Brasil, Goias, Lira tumbuh seperti anak kecil Brasil lainnya. Ia pun mengidolakan legenda Brasil, Pel,e dan memilih bermain sepakbola jalanan atau menghabiskan waktunya di lapangan.

Meskipun kini tengah bermain di kompetisi kasta ketiga di Brasil, karier pemuda bernama lengkap Wendell Silva Lira ini tak buruk-buruk amat. Ia sempat melakukan trial di Goias Esporte Clube, klub terbesar di wilayah Goiania, Goias. Namun cedera ligamen membuatnya harus mengubur mimpi. Istri dan keluarganya pun menjadi alasannya untuk bangkit.

“Beberapa kali keluarga dan istri saya membantu saya untuk berjuang lebih kuat. Mereka selalu ada di saat saya membutuhkan dan meminta saya untuk bersemangat. Mereka pun menjadi alasan saya untuk tetap bermain, meskipun saya sempat berkeinginan untuk pensiun akibat cedera,” imbuhnya.

Semangat dan kerja kerasnya pun berbuah hasil manis. Sampai akhirnya, ia memperkuat Goianesia, salah satu klub besar di regional Goias. Tak ada catatan istimewa saat ia bermain bersama Goianesia, hingga akhirnya ia didepak dan bergabung dengan Tombense. Tapi kariernya berubah suatu hari kala Lira mengunjungi rumah ibunya.

“Telepon genggam dan nada pesan masuk dari Whatsapp tak berhenti beberapa lama. Lalu saya memutuskan untuk melihat apa yang terjadi. Dan saya kaget karena banyak orang mengucapkan selamat kepada saya,” jelas Lira kepada Daily Mail.

“Hal tersebut sangat mengejutkan saya. Tak lama, saya memutuskan keluar rumah, namun saya dihalangi beberapa orang yang saya pikir akan membunuh dan mengganggu saya. Tetapi kemudian salah satu dari mereka mengeluarkan telepon genggam, meminta foto bersama, dan mengucapkan selamat karena saya telah menjadi finalis Puskas Award," tambahnya.

“Adalah sebuah kehormatan untuk berada di sini, mengenal para pemain terkenal yang hanya bisa saksikan di televisi sebelumnya. Saya berterima kasih kepada keluarga saya dan semua yang sudah memberikan suaranya untuk saya. Saya juga berterima kasih kepada istri dan anak perempuan saya,” ujar Lira.

Pemain berusia 27 tahun ini menjadi pemenang kedua asal Brasil yang memenangkan gelar Puskas Award setelah Neymar di tahun 2011. Pemenang Puskas Award sendiri ditentukan melalui voting lewat situs resmi FIFA, yang mana Lira mendapatkan 46,7 %, unggul dari Messi yang mendapatkan 33,3 %, dan Florenzi 7,1 %.

Meskipun demikian, gol yang dicetak Lira tak kalah menarik ketimbang dua gol lain yang dicetak Messi dan Florenzi. Namun, dapat dikatakan bahwa skema gol Lira berbeda dibandingkan dua gol lainnya, yang mana melalui sebuah kerjasama tim, bukan melalui aksi dan skill individu. Gol itu terjadi pada 11 Maret 2015 lalu, kala itu Lira yang masih memperkuat Goianesia melawan Atletico Goianiense pada pertandingan regional Goiano.

Keberhasilannya memenangkan Puskas Award 2015 ini secara tak langsung mengenalkan nama Lira ke masyarakat seluruh dunia. Hal ini tentu berbalik dengan gol-nya yang kabarnya hanya ditonton 297 pasang mata saja.

Sumber: Sambafoot, Daily Mail, Globo Esporte

Komentar