Apa Menariknya Menonton Piala Perisai 2016?

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Apa Menariknya Menonton Piala Perisai 2016?

Awalnya Piala Perisai diadakan sebagai ajang yang mempertemukan Persib Bandung yang kala itu baru saja meraih gelar juara Piala Presiden, dengan PSMS Medan yang sebulan sebelumnya berhasil menjuarai Piala Kemerdekan. Apabila mengambil istilah dari olahraga tinju, Piala Perisai ini bisa dikatakan sebagai ‘pertarungan kelas berat’.

Setelah mengalami pengunduran beberapa kali, turnamen yang diusung oleh Palawa Sportainment dipastikan akan digelar pada Januari 2016 nanti. Format turnamen masih akan sama dengan yang sudah ditentukan di awal. Baik Persib maupun PSMS nantinya akan bergiliran menjadi tuan rumah untuk menjamu lawannya dalam sistem kandang-tandang.

Memang menjadi menarik dinantikan apakah dalam turnamen nanti tim asuhan Suharto AD akan memakai nama PSMS Medan ataukah PS TNI. Faktanya dengan nama PSMS Medan mereka berhasil meraih gelar juara Piala Kemerdekaan. Akan tetapi PS TNI yang menjadi sensasi di Piala Jenderal Sudirman (PJS) lalu sudah memiliki tempat tersendiri di hati publik sepakbola Indonesia.

Mulai dari permainan menyerang yang sporadis hingga perayaan gol penghormatan kepada Panglima TNI, membuat PS TNI terlihat sebagai tim baru. Kebanyakan orang bahkan tidak mengingat kalau tim yang sedang bertanding itu adalah PSMS Medan yang tersohor dengan permainan drap – rapnya itu.

Di sisi lain, patut dinantikan perubahan apa yang sudah dilakukan oleh sang lawan Persib Bandung, pasca hancur lebur di PJS lalu. Hengkangnya beberapa pemain langsung ditanggulangi dengan menyeleksi beberapa pemain baru. Mulai dari bintang muda Gavin Kwan Adsit hingga penyerang asing Osas Saha, semuanya pernah menjalani masa trial bersama juara Liga Indonesia tahun 2014 tersebut.

Namun bisa jadi turnamen yang mempertemukan dua tim yang memiliki rivalitas hitoris dalam lingkup sepakbola nasional bahkan mendapatkan julukan sebagai ‘Partai Klasik’ ini tidak akan berjalan terlalu menarik. Pasalnya euforia yang diangkat sebagai tema turnamen sudah terhitung kadarluarsa. Piala Kemerdekaan dan Piala Presiden sudah rampung lebih dari dua bulan yang lalu.

Secara sederhana bagi para penikmat sepakbola, untuk apa menyaksikan Piala Perisai sementara PJS sedang memasuki fase yang sangat menegangkan yaitu semifinal dan partai puncak.  PJS menawarkan laga yang lebih kompetitif dibandingkan Piala Perisai yang ‘hanya’ mempertandingkan dua tim yang tidak berhasil melaju di kompetisi yang berada dibawah pengawasan TNI tersebut.

Seharusnya turnamen bisa diselenggarakan lebih cepat, bahkan semestinya hanya berselang sebentar setelah Persib Bandung berhasil menjadi kampiun Piala Presiden. Tidak ada jaminan bahwa hype yang terjadi pada bulan Agustus hingga Oktober lalu akan terjadi kembali di Januari 2016 nanti.

Apalagi kekuatan kedua tim sudah jauh berbeda dibandingkan saat mereka meraih gelar baik Piala Kemerdekaan maupun PJS. Apalagi Persib yang sudah banyak ditinggal oleh pemain-pemain terbaiknya. Bisa jadi laga nanti akan berakhir sama dengan yang terjadi di PJS, dimana kala itu Persib bertekuk lutut dengan skor 0-2.

***

Hal lain yang membuat Piala Perisai bisa jadi tidak terlalu menarik untuk dinikmati adalah dari segi pemasaran. Turnamen yang mengusung nama Piala Perisai sendiri, menurut penulis pribadi bukan sebuah pilihan kata yang catchy dan mudah diingat. Tentunya nama yang yang mudah diingat akan membuat pemasaran akan lebih mudah dilakukan dan lebih jauh akan berpengaruh kepada pundi-pundi pemasukan.

Bandingkan dengan Piala Presiden, Piala Kemerdekaan, dan yang saat ini sedang berjalan, Piala Jenderal Sudirman. Semua turnamen tersebut memberikan kesan yang lebih prestise dibandingkan dengan Piala Perisai, yang jelas 'sedikit' mengambil nama (Shield : Perisai) dari kompetisi pra-musim Inggris, Community Shield.

Ditambah lagi bisa saja publik sepakbola Indonesia merasakan kebosanan dengan kompetisi berbentuk turnamen. Dimana kompetisi berbentuk turnamen euforia dan ketegangannya hanya terjadi sebentar saja, tergantung lama atau tidaknya kompetisi dijalankan.

Foto : Tribun Jabar

Komentar