Natal, Pep, dan Mourinho

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Natal, Pep, dan Mourinho

Jose Mourinho mendapat kepastian mengenai masa depannya setelah jamuan makan siang pada acara perayaan Natal staf Chelsea. Pep Guardiola mengakhiri spekulasi mengenai masa depannya sebelum pulang ke Barcelona untuk merayakan Natal bersama kawan-kawan dan keluarga.

Khusus Mourinho, ia terbebas dari kesibukan Boxing Day dan dapat merayakan Natal tanpa harus memikirkan pekerjaan; sama seperti Pep. Bedanya, Pep berada dalam situasi yang lebih membahagiakan. Dan ini mungkin akan membuat rasa benci Mourinho kepada Pep semakin besar.

"Menurut saya, saya bukan pria paling cerdas dalam hal memilih negara dan klub," ujar Mourinho setelah Chelsea memenangi Premier League musim lalu yang seolah menyindir Pep. "Saya bisa saja memilih kesebelasan lain di negara lain yang menyajikan peluang lebih besar untuk menjadi juara. Saya mengambil risiko. Saya sangat, sangat bahagia karena saya memenangi gelar Premier League lain, sepuluh tahun setelah gelar pertama saya, dalam masa kerja kedua saya di kesebelasan ini. "

"Saya juara di tiap kesebelasan yang saya latih. Saya datang ke Inter Milan, Real Madrid, dan Chelsea. Setiap gelar penting artinya. Memenangi gelar di Spanyol dengan meraih 100 poin dalam persaingan dengan kesebelasan terbaik Barcelona sepanjang masa adalah pencapaian besar yang sangat saya nikmati. Mungkin di masa depan saya harus lebih pintar dan memilih kesebelasan lain di negara lain di mana setiap pemain dalam kesebelasan tersebut adalah juara. Mungkin saya akan pergi kesebuah negara di mana kitman-nya bisa melatih dan menjadi juara. Mungkin saya harus lebih pintar namun saya masih menikmati semua kesulitan ini," tambahnya.

Mourinho, entah untuk alasan apa, memanfaatkan momen juara Premier League untuk menyerang Pep Guardiola, yang ia rasa bisa meraih banyak gelar juara karena melatih kesebelasan yang pada dasarnya sudah hebat. Per Jonathan Wilson dalam tulisan berjudul "The devil and Jose Mourinho" yang dimuat di majalah The Blizzard, semua kebencian ini dimulai pada 2008 ketika Barcelona lebih memilih Pep ketimbang Mourinho yang jauh lebih bergelimang gelar untuk jabatan pelatih kepala Barcelona. Walau menempuh jalan berbeda, Mourinho sempat menjadi bagian dari Barcelona. Penolakan Barcelona membuatnya merasa terhina.

Semuanya bermula ketika Sir Bobby Robson menjadi pelatih kepala Sporting Clube de Portugal dan membutuhkan seorang pelatih yang juga dapat bertindak sebagai penerjemah. Mourinho mengambil kesempatan tersebut dan menjadi kepercayaan Robson. Mourinho pindah ke Porto dan Barcelona pun karena Robson. Ketika kursi pelatih kepala Barcelona berpindah dari tangan Robson ke Louis van Gaal pada 1997, Robson memberi saran kepada Van Gaal untuk mengangkat Mourinho sebagai asisten ketiganya.Van Gaal pun melakukan apa yang Robson sarankan.

"(Mourinho adalah) seorang pemuda arogan yang tidak menghormati kewenangan, namun saya menyukai sifat itu darinya," ujar Van Gaal mengenai Mourinho muda sebagaimana dikutip dari tulisan berjudul "Coaching`s greatest seminar: how Louis van Gaal shaped five top managers" karya Jonathan Wilson. "Ia tidak penurut, ia suka menentang saya jika ia rasa saya salah. Pada akhirnya saya lebih suka mendengarkan pendapatnya ketimbang mendengarkan saran-saran dari para asisten saya yang lain. "Di saat yang bersamaan, Van Gaal mengangkat Pep menjadi kapten Barcelona.

"Saya menjadikan Guardiola kapten," ujar Van Gaal kepada Guillem Balague. "Saat itu pun bahkan dapat jelas terlihat bahwa ia adalah pemain yang sangat taktis. Bahkan saat itu ia sudah dapat berbicara seperti seorang pelatihÃ?â??" tidak banyak pemain yang bisa melakukan itu. Posisi terbaik Guardiola adalah nomor 4, di pusat lini tengah, karena di sana ia dapat melihat permainan dengan jelas dan ia memiliki kepribadian untuk mendominasi permainan."

Bukan hanya Pep dan Mourinho yang mencuri ilmu dari masa kepelatihan Van Gaal di Barcelona. Luis Enrique, Albert Ferrer, Hristo Stoichkov, Alberado, Oscar Garcia, Ronald Koeman, Patrick Kluivert, Frank De Boer, dan Philip Cocu menjadi juru taktik setelah pensiun sebagai pemain. Sebagai yang paling sukses (dan termasuk yang paling awal di antara nama-nama lainnya), Mourinho mendapat paling banyak sorotan. Mungkin karenanya juga ia merasa paling pantas menangani Barcelona ketika peluang muncul pada 2008. Namun ia kalah oleh Pep, sosok baru di dunia kepelatihan yang pengalamannya tidak lebih dari menangani Barcelona B, kesebelasan yang Mourinho tangani ketika masih belajar menjadi pelatih.

"Awal tahun 2008. Barcelona sedang mencari pengganti Frank Rijkaard. Mereka hanya punya satu kandidat kuat: Jose Mourinho," tulis Yusuf Arifin dalam tulisan berjudul "Ego Seluas Lapangan Bola". "Terbanglah Wakil Presiden Barcelona, Marc Ingla, ke Lisabon untuk bertemu Mourinho yang sudah tiga bulan menganggur karena dipecat Chelsea."

Presentasi Mourinho mengenai apa yang salah dengan Barcelona dan bagaimana cara memperbaikinya begitu rinci. Ingla terkesan dan merekomendasi Direktur Olahraga, Txiki Begiristain, untuk bertemu secara terpisah dengan Mourinho. Mourinho bertemu dengan Begiristain namun pertemuan ini pun tidak membuat Begiristain puas.

Mourinho kemudian kembali menjalani pertemuan, kali ini dengan Ingla dan Begiristain secara bersamaan. Pada pertemuan ini keduanya sama-sama yakin Mourinho dapat membawa Barcelona sukses. Namun Mourinho menyimpan satu kekurangan: Mourinho banyak menggunakan kata "saya". Kesuksesan yang ia incar adalah kesuksesan pribadi, bukan Barcelona. Setelah berdiskusi dengan CEO Barcelona, Ferran Soriano, diambil keputusan bahwa Mourinho bukan pelatih kepala yang tepat untuk Barcelona. Kemudian dipilihlah Pep Guardiola.

Mourinho merasa ditolak Barcelona, tempatnya dulu pernah berada. Sejak saat itu ia bersumpah untuk tidak bermain dengan cara Barcelona. Ia bersumpah untuk membuktikan bahwa Barcelona salah, bahwa kemenangan lebih penting dari permainan indah dan kemenangan dapat diraih dengan berbagai cara di luar cara Barcelona.

Menyoal Pep, Mourinho melihatnya sebagai representasi Barcelona yang dapat ia serang dan hadapi secara langsung. Pep adalah Barcelona. Gaya main Pep adalah ajaran-ajaran yang ia dapatkan selama di Barcelona. Kapan pun dan di mana pun serta dalam kesempatan apa pun, karenanya, Mourinho tidak melewatkan kesempatan untuk menyerang Pep.

Komentar