DPMM, Klub Milik Pangeran Brunei yang Mengaum di S-League

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

DPMM, Klub Milik Pangeran Brunei yang Mengaum di S-League

Imbas dari negara dengan wilayah yang tidak terlalu luas adalah pada jumlah kontestan liga sepakbola yang terbatas. Kompetisi lokal pun menjadi tidak terlalu ketat persaingannya. Fenomena ini menyebabkan beberapa kesebelasan memilih bermain di liga yang diselenggarakan negara lain.

Ada pula kasus seperti Federasi Sepakbola Malaysia (FAM) dan Federasi Sepakbola Singapura (FAS)  yang menjalin kerja sama. Sejak 2011, FAS mengirim Lions XII ke Liga Super Malaysia sementara FAM mengirimkan Harimau Muda yang merupakan preposisi dari tim nasional Malaysia U-22 ke Liga Singapura.

Kerja sama tersebut bertujuan untuk pengembangan bakat-bakat muda dari kedua negara. Kontrak ini berlangsung selama empat musim yang berakhir pada edisi terakhir kompetisi di kedua negara. Selain kesebelasan-kesebelasan di atas, ada pula kesebelasan yang bermain di luar negara domisili mereka yakni Duli Pangeran Muda Mahkota Football Club yang lebih dikenal sebagai DPMM.

Publik sepakbola Indonesia mungkin mengenal DPMM ketika kesebelasan tersebut bermain di ASEAN Club Championship yang diadakan pada 2003 dan 2005. Ketika itu DPMM sempat berhadapan dengan perwakilan Indonesia yaitu Petrokimia Putra (Saat ini Gresik United) dan Persita Tangerang.

DPMM saat ini merupakan salah satu peserta dari kompetisi Singaporean League atau S-League, yang merupakan divisi tertinggi dalam piramida kompetisi sepakbola di Singapura. Kesebelasan yang berasal dari Brunei Darussalam dan dimiliki secara penuh oleh putra mahkota kesultanan Brunei, yaitu HRH Pangeran Al-Muhtadee Billah ini awalnya bermain di Malaysia Premier League sejak 2005. Di Malaysia DPMM mencatatkan hasil positif dengan menempati peringkat ketiga pada musim perdananya.

Pada musim kedua, terdapat penurunan performa dengan DPMM yang berada di peringkat kesepuluh pada musim berikutnya. Karena permasalahan registrasi dari asosiasi sepakbola amatir Brunei, pada 2009 DPMM keluar dari kompetisi tingkat kedua Malaysia tersebut dan bergabung ke S-League.

Dalam perkembanganya S-League memang diikuti oleh kesebelasan franchise dari negara lain. Super Reds yang berasal dari Korea Selatan, lalu Sinchi FC dan Liaoning Guangyuan dari Tiongkok, Etoile asal Perancis, dan Sporting Afrique yang berisikan pemain-pemain asal benua Afrika. Pada musim ini terdapat Albirex Niigata asal Jepang dan Harimau Muda dari Malaysia.

DPMM sebelumnya sempat keluar dari S-League karena terjegal oleh sanksi FIFA yang dikenakan kepada Brunei Darussalam pada 2009. Lalu, 20 bulan kemudian setelah sanksi dicabut, tepatnya pada musim 2011/2012 DPMM kembali ke S-League dan terus mendominasi di musim kompetisi selanjutnya.

Perjalanan Menjadi Juara S-League Musim Ini

Usai sanski FIFA dicabut, DPMM langsung tampil menggigit. Kesebelasan yang identik dengan kostum kuning-hitam ini berhasil menjadi runner-up pada akhir musim. Sempat turun peringkat ke peringkat ke delapan pada musim kompetisi 2013/2014, pada musim selanjutnya mereka hampir saja meraih gelar juara andai tak kehilangan poin di hari terakhir dan harus merelakan gelar juara jatuh ke tangan Warriors FC.

Setelah enam tahun berlaga di S-League, termasuk dua tahun masa sanksi FIFA, kesebelasan yang bermarkas di Stadion Hassanal Bolkiah  ini akhirnya berhasil merengkuh gelar juara pada Sabtu (21/11) lalu dengan keunggulan empat poin dari pesaing terdekat mereka, Tampines Rovers yang diperkuat duo mantan pemain Arema, Noh Alam Shah dan Ridhuan Muhammad.

sumber. S-League.com
Sumber: S-League.com

Skuat yang kini diasuh oleh mantan pelatih Liga Primer Inggris, Steve Kean, memulai musim dengan kemenangan beruntun termasuk mengalahkan Hougang United di kandangnya sendiri dengan skor tipis 2-3. DPMM melaju kencang hingga pertengahan musim, meskipun akhirnya tren positif tersebut terhenti pada bulan Mei, setelah mereka dikalahkan oleh Albirex di Jurong East Stadium.

Setelah bermain imbang 1-1 dengan pesaing terdekat Tampines Rovers, DPMM terus memenangi laga. Peluang juara hampir saja pupus saat mereka ditahan imbang oleh Home United, sehingga jarak poin antara DPMM dan Tampines menjadi semakin sedikit. Petaka terjadi ketika mereka mengalami kekalahan atas Geylang International (Dulu bernama Geylang United).

Sumber bt.bn.com
Sumber: bt.bn.com

Sisa dua pertandingan menjadi sangat menentukan. Di hari terakhir kompetisi, saat Tampines hanya bermain imbang 1-1 dengan Harimau Muda, DPMM justru menang besar dengan skor telak 4-0 atas Balestier. Hasil tersebut sekaligus memastikan trofi juara S-League dibawa pulang ke Istana Hassanal Bolkiah.


sumber soccerways.com

Awalnya regulasi menyebutkan bahwa DPMM hanya boleh memainkan para pemain berkewarganegaraan Brunei Darussalam saja, namun sejak 2011 mereka diperkenankan untuk memakai pemain asing. Musim ini tim kesultanan Brunei tersebut menggunakan jasa lima pemain asing.

Di antara legiun asing yang dikontrak, duet Rafael Ramazotti dari Brasil dan Paulo Sergio yang berasal dari Portugal menjadi duet yang paling dominan di lini serang DPMM. Dalam gelaran S-League musim  lalu Ramazotti berhasil mencetak 21 gol sekaligus membuatnya menjadi  pencetak gol terbanyak liga. Ia pun sempat menciptakan hattrick saat DPMM berjumpa dengan Harimau Muda pada 1 Maret 2015.

Sementara itu Paulo Sergio banyak berperan dalam terciptanya gol Ramazotti sekaligus menjadi metronom di lini tengah DPMM. Keduanya saling berkerja sama dengan bintang kesebelasan nasional Brunei seperti Adi Mohammad Said dan Fakharrazzi Hassan.

Apa yang dilakukan oleh DPMM ini memang pencapaian hebat. Karena bukanlah sesuatu yang mudah untuk menjadi juara di negeri orang, meskipun Lion XII sudah pernah terlebih dahulu memenangi Malaysian Super League.

Komentar