Jordi Cruyff, Sosok di Balik Superioritas Maccabi Tel Aviv di Israel

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Jordi Cruyff, Sosok di Balik Superioritas Maccabi Tel Aviv di Israel

Nama Maccabi Tel Aviv, lawan Chelsea di babak penyisihan Grup G Liga Champions tengah pekan lalu, tidak cukup menarik perhatian. Bukan hanya karena kesebelasan ini tidak berasal dari negara yang kuat akan sepakbolanya tetapi dari dari namanya saja kita tahu bahwa klub ini berasal dari Israel, di mana negara tersebut lebih terkenal karena tersangkut masalah kemanusiaan.

Meskipun dipastikan tidak akan lolos ke babak selanjutnya, klub berjuluk The Yellow ini menyimpan kisah yang luar biasa. Maccabi Tel Aviv sempat puasa gelar selama satu dekade, hingga akhirnya pada 2012, klub yang bermarkas di Bloomfield Stadium ini berhasil menghentikan kutukannya. Tidak berhenti sampai di situ, selanjutnya Maccabi bahkan memenangi liga tiga musim beruntun (2012/2013, 2013/2014, 2014/2015).

Maccabi Tel Aviv sejak awal milenium selalu kalah saing dengan Beitar Jerusalem, Maccabi Haifa atau bahkan tim sekota Hapoel Tel Aviv di gelaran Israel Premier League. Namun belakangan secara mengejutkan tampil luar biasa dalam tiga tahun terakhir.

Bukan pelatih hebat atau pemilik yang visioner yang memprakarsai kebangkitan Maccabi, akan tetapi peran dari direktur olahraga mereka, Jordi Cruyff yang patut menjadi sorotan.

Putra dari legenda sepakbola Belanda, Johan Cruyff, ini dikontrak sejak 2012. Pengalamannya bermain bersama kesebelasan top Eropa seperti Manchester United dan Barcelona diharapkan mampu membawa Tel Aviv ke level yang lebih tinggi.

Berawal Dari Keinginan Kuat Sang Pemilik

Meskipun raihan gelar Maccabi adalah yang terbanyak diantara kontestan liga Israel yang lain, akan tetapi kesebelasan tersebut mengalami paceklik gelar kurang lebih satu dekade. Hal itu yang menjadi ambisi dari Mitchell Goldhar, seorang pengusaha keturunan Israel yang menetap di Kanada, saat dirinya mengakuisisi Maccabi dari Alex Schneider pada 2010.

Bukan hanya masalah prestasi, kala dimiliki oleh Schneider, Maccabi terjerat banyak utang dan bahkan cukup dekat dengan jurang kebangkrutan. Hingga akhirnya Goldhar yang merupakan pengusaha properti membeli saham dan melunasi utang-utang kesebelasan yang pernah menjuarai Liga Champions Asia kala Israel masih bagian dari AFC tersebut.

Goldhar merasa kesuksesan yang dicapainya di dunia bisnis bisa ia tularkan ke sepakbola. Angin segar yang dibawa Goldhar adalah dengan membangun fasilitas latihan dan infrastruktur baru untuk klub.

Kemudian pada tahun 2012, Goldhar sangat terkesan dengan pekerjaan direktur olahraga klub asal Siprus, AEK Larnaca. Karena peran besar sang direktur olahraga lah klub tersebut tampil cukup mengesankan di babak fase grup Europa League musim 2011/2012. Sosok direktur olahraga tersebut adalah Jordi Cruyff.

Selain karena pekerjaan menakjubkan di Larnaca, alasan lain mengapa Jordi dipilih oleh Goldhar adalah disebabkan pengalaman Jordi sebagai pemain cukup baik, meskipun hanya sebentar dirinya sempat merasakan persaingan di top flight.

“Mitchell (Goldhar) ingin mendatangkan lingkungan yang profesional, sikap yang profesional, dan struktur yang profesional, sementara tugas saya sendiri adalah membawa ‘European Way’ kedalam klub, yaitu mulai dari profesionalisme, teknologi dan pengkondisian fisik,” sebut Jordi seperti yang disampaikan kepada The Guardian terkait penunjukannya pada 2012.

Lantas kesuksesan yang diraih oleh Maccabi saat ini pun tidak lepas dari kejelian Jordi dalam memilih pelatih. Bahkan langkah pertamanya ketika dikontrak adalah dengan mendatangkan Oscar Garcia yang merupakan pelatih utama Barcelona Juvenil atau tim muda raksasa catalan tersebut.

Langkah ini terbukti tepat. Di akhir musim The Yellow berhasil merengkuh gelar juara dengan keunggulan tiga belas poin dan menjadi tim paling produktif dengan 78 gol, sekaligus mengakhiri puasa gelar mereka selama sepuluih tahun.

Berturut turut Jordi mengganti pelatihnya dengan tujuan agar mendapatkan hasil terbaik.  Setelah Oscar Garcia ada nama-nama lain yang sempat menjadi juru taktik Maccabi, yaitu Paulo Sousa (yang kini melatih Fiorentina) dan Pacho Ayestaran, hingga kini Maccabi ditangani oleh Slavisa Jokanovic.

Seluruh pelatih pilihan Jordi memiliki kesamaan, yaitu sama-sama berasal dari Mediterania (bahkan Jokanovic sendiri ketika bermain menghabiskan kariernya di Spanyol). Daerah ini didominasi oleh Spanyol dan Portugal. Jordi menganggap bahwa iklim di daerah tersebut hampir sama dengan yang ada di Tel Aviv, sehingga pelatih dari daerah Mediterania bisa mempraktekan ilmunya di Maccabi.

“Bukan hanya masalah iklim saja, tetapi juga mengenai kecintaan mereka terhadap sepakbola yang hampir sama terjadi antara Spanyol dan Portugal serta di sini (Israel),” sebut Jordi seperti yang dilansir Independent.

Transfer jitu juga dilakukan oleh Jordi. Sebagai contoh, pada musim perdana di Maccabi dirinya meminjam penjaga gawang asal Nigeria, Vincent Enyeama dari Lille. Kedatangan Enyeama ini merupakan salah satu faktor yang membuat Maccabi berhasil juara kala itu karena kiper timnas Nigeria tersebut tampil gemilang di bawah mistar gawang.

Kemudian pada musim 2013/2014, Eran Zahavi didatangkan dari Palermo. Transfer yang tidak terlalu banyak memakan biaya tersebut nyatanya bernilai tinggi. Pasca didatangkan dari Italia, Zahavi terus mencetak gol bahkan mencetak rekor gol di Liga Israel, yaitu 27 gol dalam satu musim.

Perubahan lain yang dilakukan oleh Jordi adalah pemasangan GPS terhadap pemain, keterbukaan terhadap fans dan jurnalis, bahkan hingga pengaturan pola makan pemain dari mulai sarapan hingga makan malam. Hal-hal tersebut disinyalir menjadi faktor-faktor keberhasilan Maccabi Tel Aviv beberapa tahun belakangan.

***

Jordi jelas tidak terlalu sukses kala berkarier sebagai pemain. Dirinya bermain di level tertinggi pun lebih karena dampak dari nama besar sang ayah. Namun apa yang dilakukannya di Israel adalah salah satu bukti bahwa seorang pemain yang tidak terlalu cemerlang perjalanan kariernya sebagai pemain masih bisa melakukan hal luar biasa pasca pensiun.

Komentar