Memangnya Ada yang Bahagia Saat Dilanda Bencana?

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Memangnya Ada yang Bahagia Saat Dilanda Bencana?

Pelatih Paris Saint-Germain, Laurent Blanc, mengancam keluar dari ruang konferensi pers pada Jumat (20/11). Penyebabnya adalah ia mendengar pertanyaan yang sama terkait kondisi psikologis para pemainnya usai serangan teror yang mendera Paris.

Awalnya Blanc telah menjawab pertanyaan serupa pada awal konferensi pers. Namun, saat ada yang bertanya dengan maksud yang mirip, Blanc pun meresponnya deng nada tinggi. “Kami tidak akan membicarakan ini di sepanjang konferensi pers, karena saya menggaransi Anda, jika Anda bertanya pada saya satu pertanyaan lagi tentang konteks tersebut, saya akan pergi,” tutur Blanc dikutip dari The Guardian.

Di awal konferensi pers, Blanc sebenarnya sudah menjawab bahwa situasi saat ini menjadi amat berbeda. Ia justru menyoroti para pemain yang baru pulang dari membela kesebelasan negaranya. “Pemain yang kembali dari tugas internasional menjadi sulit buat tim, terutama tim yang memiliki banyak pemain Amerika Selatan. Pemain datang dengan kelelahan karena perjalanan dan perbedaan waktu,” tutur Blanc.

Ia pun melanjutkan pembicaraan terkait pertandingan tandang menghadapi Lorient pada Sabtu (21/11) kemarin (PSG menang 2-1). Ia menganggap kalau rumput lapangan sintetis di Stadion Moustoir, kandang Lorient, bisa saja mengganggu persiapan timnya.

Saat menjelaskan tentang persiapan tersebut, ia diinterupsi dengan pertanyaan terkait perasaan sejumlah pemain seperti Salvatore Sirigu dan Javier Pastore. Sirigu dan Pastore kehilangan dua sahabatnya dalam serangan yang menimpa Paris pada Jumat dua pekan lalu yang membunuh 130 orang dan melukai 350 orang.

Blanc lalu bertanya balik, “So what?”. Nadanya berubah jadi tinggi dan menjawab secara sarkas, “Great, great. Mereka (Sirigu dan Pastore) tengah berjoget di atas meja.”

“Anda menjelaskan sesuatu padaku. Anda menjelaskan kepadaku bagaimana kondisi mereka. Dan dengan menjelaskan bagaimana kondisi mereka Anda memberi diri Anda jawaban itu sendiri,” ujar Blanc.

Tentang Perasaan

Pinocchio.E20-END.480p.Webrip.mp4_snapshot_11.45_[2015.11.23_16.33.55]

Pertanyaan tentang “perasaan” memang kerap menjadi hal yang dilematis buat siapapun; buat penanya, pendengar/pembaca/penonton, dan narasumber itu sendiri. Saat seorang reporter mewawancarai keluarga korban pesawat jatuh dengan pertanyaan pertama, “Bagaimana perasaan Anda?”, seketika itu juga banyak yang gelisah karena kesal. Tidak perlu mengikuti mata kuliah “Jurnalisme Televisi” atau “Penulisan Berita Elektronik” buat tahu kalau pertanyaan semacam itu tidaklah efektif.

“Memangnya keluarga korban merasa bahagia saat ada anggota keluarganya celaka?” tanya Dr. Dede Mulkan, dosen mata kuliah jurnalisme televisi yang mengampu saya suatu ketika di ruang kelas. Ya, memangnya ada yang bahagia saat dilanda bencana?

Saya ingat pada akhir tahun lalu saat reporter sebuah televisi melakukan “blunder” paling mendasar tersebut. Ia menanyai seorang anggota keluarga yang masih shock atas kabar buruk tersebut. Usai bertanya, benar saja si ibu merasa terganggu mentalnya dan ia pun menangis sejadi-jadinya.

Hal semacam ini tentu amat fatal terlebih jika terjadi dalam sebuah wawancara yang disiarkan secara langsung. Hal tersebut akan membuat pewawancara dan penonton bingung serta merasa canggung.

Percayalah, buat pewawancara pemula—saya pun pernah terjebak melakukannya—ada dua pertanyaan “basa-basi” yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Pertanyaan tersebut adalah tentang “perasaan” dan “harapan”. Dua hal tersebut  menjadi sulit untuk dihindari saat pewawancara tak punya bahan pertanyaan lagi.

Namun, pertanyaan-pertanyaan semacam itu tentu semestinya tak keluar dari mulut mereka yang terbiasa mewawancara seperti yang terjadi pada Blanc. Menjadi wajar bagi Blanc untuk merasa tersinggung karena pewawancara sebenarnya sudah tahu jawaban seperti apa yang akan keluar.

Membayangkan kalau wawancara sebagai hal yang mudah adalah sebuah kesalahan. Mahasiswa jurnalistik Universitas Padjadjaran mendapatkan mata kuliah "Wawancara" dengan kredit tiga SKS. Mata kuliah tersebut menjadi prasyarat untuk bisa mengambil mata kuliah "Penulisan Berita Khas" sehingga kalau belum lulus, maka Anda tak bisa mengambil mata kuliah tertentu pada semester selanjutnya. Pengetahuan tentang wawancara (seharusnya) menjadi dasar bagi setiap calon pewawancara.

Salah satu hak asasi manusia yang bersifat universal yaitu naluri atau rasa ingin tahu dan memberitahukan. Hal ini yang juga menjadi salah satu dasar dari lahirnya sebuah media. Rasa ingin tahu masyarakat diterjemahkan lewat kehadiran wartawan sebagai pemberi informasi.

Meskipun rasa ingin tahu adalah bagian dari naluri, tentu saja hal tersebut harus dilakukan dengan cara yang tepat. Salah-salah informasi yang diinginkan justru hilang sama sekali. Saat seseorang menjadi juara dunia, tak perlulah ditanya "Bagaimana perasaan Anda?" karena dia sudah pasti bahagia. Pun dengan mereka yang tengah dilanda bencana; karena pertanyaan demikian bukanlah obat pelipur lara.

***


“Tugas kami adalah untuk bermain sepakbola. Tugas Anda (media) untuk mengajukan pertanyaan. Anda datang ke sini hari ini. Anda membawa kamera, dan mem-film-kan kami,” tutur Blanc sebelum sebuah pertanyaan terkait kondisi psikologis pemain ditujukan lagi kepadanya—yang membuatnya mengancam untuk meninggalkan tempat konferensi pers.

“Sampai hari ini, tidak ada pemain yang mengetuk pintu dan berkata ‘Coach, Saya tidak siap untuk bermain’. Saya tahu mereka semua terpengaruh. Kalau mereka tidak terpengaruh, itu berarti mereka punya masalah,” tegas Blanc.

Pun dengan para penanya. Mereka mesti memposisikan dirinya di pihak penanya. Saat narasumber tengah dilanda bencana, ia harus tahu kapan harus bertanya dan bertanya dengan konteks seperti apa. Jika penanya tidak terpengeruh—seperti kata Blanc—berarti ada masalah dengannya.

foto: cuplikan drama Pinocchio dari SBS.

Komentar