Sorak-sorai di Tengah Tragedi Paris

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Sorak-sorai di Tengah Tragedi Paris

Didier Deschamps dan Joachim Loew menanggung keputusan berat. Saat memasuki ruang ganti, pikiran mereka berkecamuk saat aparat Perancis memberi tahu bahwa telah terjadi krisis terkait kekerasan di sekitar stadion. Mereka pun diberi tahu bahwa Presiden Perancis, Francois Hollande, telah beranjak dari kursinya sejak ledakan pertama terdengar.

“Pelatih harus memutuskan apakah mereka harus menginformasikannya ke pemain terkait kondisi yang sebenarnya atau tidak?” tulis Sam Borden dari The New York Times dalam artikelnya As Paris Attacks Unfolded, Players and Fans at Soccer Stadium Remained Unaware.

Pada akhirnya keduanya tetap menjaga informasi tersebut untuk tak disebarkan kepada para pemain. Deschamps awalnya ingin memberi tahu kepada para pemain. Namun, ia tetap menyimpannya karena ia tak tahu tingkat kekerasan seperti apa yang ada di luar sana. Loew pun berbuat hal yang sama.

Babak kedua pun dimulai dan para pemain serta penonton masih belum memahami hal mengerikan apa yang terjadi di luar sana. Pertandingan berjalan dengan normal sementara para penonton masih dengan semangat memberikan dukungan. Terlebih Perancis unggul lewat gol Olivier Giroud dan Andre-Pierre Gignac. Saat itu, cuma sekumpulan pelatih dan jurnalis—yang mengakses internet—saja yang mengetahui apa yang sebenarnya tengah menimpa Paris malam itu.

Jurnalis L’Equipe, Cyril Olives-Berthet, menyatakan keanehannya karena para pemain dan penonton seperti tak mengetahui apa-apa. “Para pemain berlari seperti biasa dan penggemar meneriakkan chant normal ‘Aux Armes, Aux Armes’, chant khas tentang prajurit yang tengah berangkat perang. Saat Perancis mencetak gol kedua, mereka melambaikan bendera dan pemain merayakan gol seperti yang mereka biasa lakukan,” tutur Cyril dikutip dari The New York Times.

Segera setelah pertandingan berakhir, sekitar pukul 22.50, segalanya menjadi jelas. Sejumlah pemain Jerman berkumpul di lorong, di depan televisi yang menyiarkan tragedi yang terjadi di Perancis. Sementara itu di ruang ganti Perancis, Sekretaris Kementerian Olahraga, Thierry Braillard, memberi tahu para pemain tentang apa yang terjadi.

Pemain seperti Antoine Griezmann pun mulai mencari kabar saudara perempuannya yang kala itu kebetulan menghadairi konser di Bataclan. Gedung konser Bataclan menjadi salah satu ladang pembantaian para teroris di mana mereka sempat menyandera ratusan warga. Griezmann mengetahui kalau saudaranya bisa kabur dari kejadian keji tersebut.

Penggemar yang memenuhi Stade de France pun diarahkan keluar dari dua pintu keluar yang menghasilkan kemacetan. Namun, tiba-tiba saja penonton berbalik arah dan berkumpul di lapangan. Jurnalis Funke Mediengruppe, Andreas Berten, menyatakan kalau awalnya ia menyangka ada teroris yang masuk stadion sembari membawa senjata api. Rupanya polisi mengubah protokol dengan meminta para penonton berkumpul di lapangan hingga situasi terkendali.

Atas kejadian tersebut tidak ada konferensi pers ataupun wawancara dengan pelatih dan pemain. Mereka pun mengganti baju dan bertahan di stadion karena pihak kepolisian tidak bisa menjamin keamanan bus yang mereka tumpangi. Istri dan anak pemain yang dibawa ke stadion pun diijinkan untuk bergabung.

Sebelum pukul tiga pagi, tim Perancis dijemput dengan bus yang membawa mereka ke tempat latihan dengan jarak 65 kilometer di barat daya Paris. Jerman sendiri tak menginginkan pergi dengan bus karena tak ingin mempertaruhkan keselamatan mereka. Bus tim bisa menjadi sasaran yang potensial karena memiliki identifikasi khusus sehingga teroris tahu kalau itu adalah bus tim Jerman.

Baca juga: Pelaku Peledakan Ternyata Punya Tiket!

Baru pada pukul tujuh pagi keesokan harinya, tim Jerman meninggalkan stadion dalam konvoi mini van yang langsung membawa Manuel Neuer dan kolega ke bandara. Jerman tiba di Frankfurt dengan selamat sekitar pukul 10 pagi.

Sejumlah kegiatan maupun tempat-tempat tertentu di Perancis ditunda, termasuk sejumlah pusat kebudayaan Perancis. Kompetisi figure skating Trophee Eric Bompard pun dibatalkan karena kejadian tersebut. Sementara itu, pertandingan sepakbola antara Inggris menghadapi Perancis diputuskan untuk tetap dilangsungkan sesuai jadwal.

Konfederasi Sepakbola Eropa, UEFA, telah mengeluarkan pernyataan yang mendukung Perancis dengan melakukan moment of silence sebelum semua pertandingan di kompetisi Eropa, termasuk babak play off kualifikasi Piala Eropa 2016. Para pemain pun akan menggunakan ban hitam.

Apa yang dilakukan kedua pelatih dan juga panitia pelaksana dengan tidak memberi tahu pemain dan penonton bisa jadi adalah hal yang tepat. Memang, menjadi ironis karena saat di luar sana warga Perancis tengah berduka, kondisi di dalam stadion justru terjadi sebaliknya. Namun setidaknya terdapat dua hal yang membuat keputusan pelatih dan panitia pelaksana adalah sesuatu yang tepat. Pertama, hal tersebut membuat pertandingan berlangsung normal dan penonton tidak panik karena tidak tahu apa yang terjadi. Kedua, bisa saja penonton berhamburan keluar di mana situasi belum kondusif dan para teroris masih berkeliaran dan menyasar massa yang lebih banyak.

foto: dailymail.co.uk

Komentar