Jonas Hector: Anak Desa Solusi Masalah Negara

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Jonas Hector: Anak Desa Solusi Masalah Negara

Masuk ke tim nasional senior tanpa pernah satu kali pun bertanding di level junior adalah cukup alasan untuk menyombongkan diri. Jonas Hector, jika ia mau, bisa memandang dirinya lebih tinggi dari pemain-pemain lain. Apalagi ia adalah solusi untuk masalah yang lama dihadapi negaranya. Namun ia tetap rendah hati.

Harus saya akui saya terkejut melihat nama Jonas Hector dalam daftar pemain-pemain Tim Nasional Jerman untuk pertandingan melawan Perancis dan Belanda pada jeda internasional kali ini. Saya terkejut karena saya baru pertama kali mendengar namanya namun ia tidak masuk ke daftar debutan seperti Kevin Trapp dan Leroy Sané yang saya tahu baru kali ini dipanggil ke tim senior.

Saya pun kemudian melakukan apa yang dilakukan orang-orang ketika pertama kali melihat nama Hector di daftar pemain Tim Nasional Jerman, pada November 2014: memasukkan namanya dalam kotak pencarian Google.

Pengalaman Hector di divisi pertama Bundesliga ternyata tidak banyak. Hingga saat ini ia baru 45 kali bermain membela FC Köln di divisi tertinggi sepakbola Jerman tersebut. Jumlah tersebut sedikit, namun jelas jauh lebih banyak dari jumlah pertandingan yang sudah ia jalani saat pertama kali dipanggil membela tim nasional: sepuluh kali.

“Kami ingin mengenal Jonas Hector dengan lebih baik,” ujar Joachim Löw, pelatih kepala Tim Nasional Jerman, mengenai dipanggilnya Hector ke tim senior saat itu. “Ia sedang dalam performa yang baik bersama Köln.”

Hector menjalani debutnya dalam kemenangan 4-0 atas Gibraltar pada pertandingan kualifikasi Piala Eropa, 14 November tahun lalu. Ia masuk di menit ke-72 menggantikan Erik Durm, bek kiri cadangan Jerman di Piala Dunia 2014. Setelah debutnya yang hanya berlangsung selama 18 menit (tidak termasuk injury time) tersebut, Hector tidak pernah lagi mengenal bangku cadangan.

Tidak salah memang jika dikatakan krisis bek kiri Jerman mempermudah Hector memasuki tim senior. Hector sendiri, ketika dimintai keterangan mengenai terpilihnya ia membela tim nasional, berkata bahwa ia hanya beruntung. Jelas ia hanya merendah. Masuk ke tim senior adalah satu hal, bertahan di sana adalah lain soal.

“Secara taktik ia sangat cerdas,” ujar Löw mengenai Hector sebagaimana dikutip dari situs resmi Deutscher Fußball-Bund. “Kemampuannya mengenali situasi yang berkembang dan memaksimalkan ruang dengan menggunakan kaki kiri adalah kualitas-kualitas yang baik. Ia telah membuktikan kemampuannya dan terus berkembang. Ia dapat menjadi aset yang sangat berharga bagi kami.”

Kemampuan Hector di lever tertinggi terus terasah hingga pada akhirnya ia mendapat penghargaan sebagai pemain terbaik pada pertandingan melawan Polandia, 4 September 2015. Hector mencetak dua assist untuk Thomas Müller dan Mario Götze pada pertandingan tersebut; dua assist yang olehnya sendiri tidak terbayangkan sebelumnya.

Hector tidak seperti kebanyakan pemain sepakbola yang sudah memiliki tujuan yang jelas sejak masih sangat muda. Menjadi pemain sepakbola profesional bukan pilihan karirnya bahkan ketika ia sudah memasuki usia remaja. Jangankan menjadi pemain sepakbola profesional, meninggalkan kampung halaman yang terletak di dekat perbatasan Jerman-Perancis (sangat dekat, malah, sehingga dalam keterangan Google Maps, Auersmacher adalah sebuah kota di Perancis, bukan Jerman) dan memiliki jumlah penduduk kurang dari 2.600 orang saja tidak terbayang olehnya.

“Awalnya menjadi pemain sepakbola profesional sama sekali bukan tujuanku,” ujar Hector sebagaimana dikutip dari situs resmi Bundesliga. “Jika ada orang yang lima tahun lalu mengatakan bahwa aku akan menjadi pemain utama di sepakbola profesional, aku akan berkata mereka gila.”

Mungkin mereka gila, namun bisa jadi Hector yang salah; tidak mungkin Hector tidak mengenali kemampuannya sendiri. Randall Hauk, dalam tulisannya mengenai Hector untuk Bundesliga Fanatic, berpendapat: beberapa penjelasan untuk terlambatnya Hector mendapat perhatian kesebelasan-kesebelasan besar berhubungan dengan sang pemain sendiri. Opini Hauk senada dengan keterangan dari Nils Mitrenga, eks wakil chairman SV Auersmacher, kesebelasan pertama Hector.

“Ia memiliki ikatan yang sangat kuat dengan kota kelahirannya,” ujar Mitrenga. “Transfer (ke kesebelasan yang lebih besar) bukan pilihan baginya. Ia memiliki bakat; semua orang tahu itu. Namun semua temannya bermain di sini, di Auersmacher. Ia tidak pernah berencana pergi. Kesebelasan kami adalah sebuah keluarga besar. Sulit baginya untuk meninggalkan keluarganya.”

Mengenai kesetiaan terhadap kesebelasan, baca juga: Ketahuilah, Kesetiaan Belum Sepenuhnya Punah dari Industri Sepakbola

Hector sendiri sempat mengaku tidak ingin pergi sebelum bermain setidaknya satu musim di Oberliga (divisi kelima). “Waktu itu aku hanya tidak ingin pergi saja,” ujarnya. “Aku sudah bermain untuk SV Auersmacher sejak masih sangat muda dan ingin bermain setidaknya satu musim Oberliga.” Hector tidak tergoda walau banyak tawaran menghampirinya. Seiring dengan semakin dekatnya Auersmacher kepada promosi di akhir musim 2008/09, semakin banyak kesebelasan yang tertarik kepada Hector. Termasuk di antaranya adalah Kaiserslautern dan VfL Bochum.

Hector terus bertahan di Auersmacher, namun tidak menolak undangan trial. Pada November 2009 ia dan kakaknya, Lukas, berlatih bersama kesebelasan kedua Bayern München yang saat itu dilatih Mehmet Scholl. Hector tidak mendapat tawaran kontrak, namun mendapat undangan yang sama dari TSG Hoffenheim. Kaiserslautern masih tetap tertarik sementara VfB Stuttgart ikut terlibat.

“Scholl memberiku saran untuk bermain di divisi regional sebagai awalan, karena melompat dari divisi kelima bersama SV Auersmacher ke divisi ketiga bersama Bayern (München II) terlalu jauh,” ujarnya berkisah mengenai trial yang tidak berhasil kepada situs resmi Bundesliga.

Pada akhirnya, setelah memenuhi impiannya bermain di Oberliga bersama Auersmacher (Oberliga Südwest musim 2009/10), Hector menerima kenyataan bahwa dirinya memang harus meninggalkan kampung halamannya untuk berkembang menjadi pemain yang lebih baik. Pilihannya: FC Köln. Salah satu alasannya: Köln secara geografis tidak jauh dari Auersmacher. Menggunakan mobil, Auersmacher ke Köln tidak memakan waktu perjalanan lebih dari tiga jam.

Alasan lain: ia merasa cocok dengan kebijakan Köln yang tidak langsung membawanya ke kesebelasan utama. Dua musim penuh ia bermain bersama kesebelasan U-21 di Regionalliga West (divisi keempat). Barulah di musim ketiganya Hector menjalani debut di kesebelasan senior, dalam sebuah pertandingan DFB-Pokal melawan SpVgg Unterhaching pada 18 Agustus 2012. Masih dalam bulan yang sama ia menjalani debutnya di divisi kedua Bundesliga.

Momen penting dalam karir Hector, bagaimanapun, terjadi pada 9 November 2012. Pada pekan ke-13 divisi kedua Bundesliga musim 2012/13 tersebut ia dipindahkan dari posisi gelandang bertahan ke bek kiri oleh Holger Stanislawski, pelatih kepala Köln saat itu. Sejak saat itu Hector terus bermain di posisi bek kiri. Selebihnya kita ketahui bersama.

Mengingat Hector sendiri pada awalnya bermain sebagai gelandang bertahan, secara teori Jerman belum menemukan seorang bek kiri. Namun Hector jelas berbeda dengan Benedikt Höwedes dan Erik Durm, dua bek kiri Jerman lainnya. Höwedes, bek kiri utama Jerman di Piala Dunia 2014, bermain sebagai bek tengah di Schalke 04. Durm, sementara itu, adalah penyerang sayap di Borussia Dortmund. Hanya ketika membela tim nasional mereka bermain sebagai bek kiri. Hector berbeda dengan keduanya karena di Köln maupun di Tim Nasional Jerman ia bermain di posisi yang sama.

Ah, apapun Hector sekarang ini, ia akan tetap menjadi anak desa (frasa “anak desa” ini digunakan oleh Stephan Strichertz, walikota Auersmacher) yang sering pulang ke kampung halamannya untuk menyaksikan bekas kesebelasannya bermain. Tidak banyak yang berudah dalam diri Hector walau kini ia sudah menjadi solusi masalah negara.

Komentar