Didier Drogba, Pemantik Panasnya Persaingan Akhir Musim MLS

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Didier Drogba, Pemantik Panasnya Persaingan Akhir Musim MLS

Major League Soccer atau MLS sering dianggap sebagai kuburannya pemain-pemain yang kariernya meredup di Eropa. Anggapan yang tak salah, tapi juga tak sepenuhnya benar. Karena kedatangan Didier Drogba ke kompetisi liga di Amerika Serikat itu beberapa waktu lalu membuat persaingan MLS semakin menarik di penghujung musim.

Drogba bergabung dengan Montreal Impact pasca kontraknya dengan Chelsea tak diperpanjang pada bursa transfer musim panas lalu. Dan ternyata penyerang asal Pantai Gading itu menunjukkan ketajamannya dengan berhasil mencetak 12 gol dari 12 pertandingan yang telah dijalaninya sejauh ini.

Lebih dari itu, Drogba berhasil mengatrol posisi Montreal Impact dalam 10 pertandingan saja (dua laga play-off). Sebelum Drogba bergabung, Montreal berada dalam bayang-bayang Orlando City yang berada di peringkat ke-7. Meski selisih pertandingan Montreal lebih unggul tiga pertandingan, defisit satu poin dengan Orlando yang diperkuat oleh eks pemain Real Madrid dan AC Milan, Ricardo Kaka, jelas bukan angka yang aman untuk tetap berada di peringkat enam agar bisa melaju ke babak play-off.

Sebelum Drogba bergabung, selisih poin dengan DC United yag menjadi pemuncak klasemen pun cukup jauh, 15 poin. Memang, saat itu DC United sudah melakoni 25 pertandingan sedangkan Montreal baru 23 kali, tapi dari sini terlihat bahwa Montreal cukup tertatih untuk merangsek ke papan atas atau bahkan untuk mengamankan tiket babak play-off.

Namun semuanya berbeda setelah Drogba secara reguler menjadi andalan di lini depan Montreal. Dengan gol-gol yang ia ciptakan, Montreal meraih delapan kemenangan, satu hasil seri serta tiga kekalahan dari 12 pertandingan bersama Drogba. Dan pada akhir klasemen, Montreal berada di peringkat tiga, menyalip Toronto FC, New England Revolution, dan DC United yang sebelum kedatangan Drogba berada di puncak klasemen.

Pengaruh hadirnya Drogba di lini depan Montreal memang sangat berdampak signifikan. Pada pertandingan kedua Drogba, ia mencetak hat-trick untuk mengalahkan Chicago Fire dengan skor 4-3. Saat melawan DC United yang berakhir dengan skor 2-0 untuk Montreal, penyerang berusia 37 tahun ini memborong kedua gol tersebut. Dan yang terakhir, dua gol Montreal saat mengalahkan Toronto FC, kesebelasan yang dibela Sebastian Giovinco, dengan skor 2-1, Drogba kembali memborong dua gol tersebut.

Kekalahan yang dialami Montreal ketika Drogba bermain pun ketika penyerang kelahiran kota Abidjan ini tak bermain penuh, 31 menit saat dikalahkan Orlando City dan 31 menit lainnya saat menjalani debutnya yang berakhir kekalahan atas Philadelphia Union. Satu-satunya pertandingan yang berujung kekalahan saat ia bermain penuh 90 menit hanya ketika melawan New York Red Bulls, di mana ia sempat memperkecil ketinggalan lewat sepakan penaltinya.

Ketajaman Drogba semakin terlihat jika dibandingkan dengan penyerang-penyerang yang sebelumnya diandalkan Montreal. Jika dalam 11 pertandingan ia mencatatkan rataan 4,3 kali tembakan per laga, Dominic Oduro yang mencetak delapan gol dari 28 pertandingan hanya memiliki rata-rata tembakan 1,8 per laga.

Hal ini yang membuat Ignacio Piatti, gelandang serang asal Argentina, harus berjuang lebih keras dalam setiap pertandingannya. Kehadiran Drogba memudahkan Piatti yang sejauh ini telah mencetak sembilan gol dan tujuh assist.

Sejak Drogba menghuni lini depan Montreal, dalam seketika Montreal menjadi kesebelasan yang diunggulkan menjadi juara. Selain itu juga angka penonton di Stadion Saputo, markas Montreal, meningkat dengan rata-rata 17.750 penonton, lebih bayak 200 penonton dari musim lalu.

Pada babak play-off, Montreal kembali bertemu dengan Toronto. Dan pertandingan kembali dimenangi Montreal Impact dengan skor 3-0, di mana Drogba turut mencetak satu gol. Tangga juara memang masih panjang, karena baru memasuki babak play-off. Tapi jika pun Drogba pada akhirnya gagal membawa Montreal meraih juara, kehadiran Drogba setidaknya menjadikan persaingan liga dengan pendekatan bisnis ini menjadi lebih kompetitif menjelang berakhirnya MLS musim 2015.

foto: givemesport.com

Komentar