Di Mana Letak Kesalahan Puntung Rokok untuk Messi dan Ronaldo?

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Di Mana Letak Kesalahan Puntung Rokok untuk Messi dan Ronaldo?

Belakangan di media sosial beredar sebuah foto tempat pembuangan puntung rokok di London yang menggunakan nama Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi – memanfaatkan debat paling ramai – untuk mengajak para perokok membuang puntung rokok mereka pada tempatnya. Ini kreatif, namun di saat yang bersamaan, ini salah.

Tempat Buang Puntung Rokok

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, penting rasanya saya menjelaskan di mana saya berdiri. Saya tidak anti rokok. Ayah dan banyak kawan saya adalah perokok. Walau perokok pasif katanya menerima lebih banyak dampak negatif rokok ketimbang perokok aktif, saya tidak pernah menghindar agar tidak harus menghisap udara yang bercampur asap rokok. Biasa saja.

Saya juga tidak setuju dengan anggapan bahwa perokok adalah orang-orang yang tidak baik. Tidak pernah seumur hidup saya melihat seorang perokok yang menolak memberi rokoknya ketika diminta, walau yang tersisa di tangannya hanya tinggal satu batang. Pernah pula di bus kota seseorang yang tidak saya kenal menawakan rokok dalam bahasa Sunda yang sangat halus, yang terakhir kali saya dengar waktu saya belum lulus SD. Anggapan bahwa merokok sama sekali tidak ada manfaatnya juga terasa berlebihan.

Dalam On Writing, Stephen King mengaku menyesali kebiasaannya mengosumsi minuman beralkohol. Namun King tidak menyesali kebiasaannya merokok. Nikotin dalam rokok membantu proses kreatifnya sehingga King, walau akhirnya berhenti merokok karena alasan kesehatan, tetap menyesali setiap batang rokok yang tidak ia hisap.

“Dulu saya (menulis) lebih cepat dari sekarang; salah satu buku saya (The Running Man) ditulis dalam satu minggu, sebuah pencapaian yang mungkin akan dihargai oleh John Creasey (walau saya pernah membaca bahwa Creasey menulis beberapa tulisan misterinya dalam dua hari),” tulis King. “Saya rasa berhenti merokok yang membuat saya menjadi lambat; nikotin adalah peningkat sinapsis. Persoalannya, tentu saja, adalah bahwa merokok membunuh dan membantu proses kreatifmu di saat bersamaan.”

Bagus jika Anda tidak merokok, namun merokok pun tak apa. Yang jadi persoalan bukanlah merokok atau tidak, namun membuang puntung rokok sembarangan atau pada tempatnya. Puntung rokok harus dibuang pada tempatnya.

Untuk mengurangi dampak negatif rokok terhadap kesehatan, pada 1950an diciptakanlah filter rokok yang bahan utamanya adalah selulosa asetat. Terlepas dari efektif atau tidaknya filter ini menyaring efek negatif rokok, filter rokok (untuk selanjutnya, setiap frasa “puntung rokok” merujuk kepada filter sisa rokok yang sudah dihisap walau tidak semua puntung rokok adalah filter rokok) menghadirkan masalah tersendiri.

Dalam jurnal “Cigarettes Butts and the Case for an Environmental Policy on Hazardous Cigarette Waste” disebutkan bahwa selulosa asetat adalah bahan yang photodegradable namun tidak bio-degradable. Artinya, sinar matahari akan menghancurkan filter rokok menjadi banyak bagian kecil namun tetap tidak akan terurai. Puntung rokok, yang mengandung racun, mencemari tanah dan air. Terutama air.

Masih dalam jurnal yang sama, disebutkan bahwa puntung rokok adalah jenis sampah yang paling banyak ditemukan di daerah pantai. Puntung-puntung rokok yang ditemukan di pantai ini bukan hanya sisa-sisa rokok yang dihisap di pantai yang bersangkutan. Puntung-puntung rokok yang dibuang sembarangan, jika menemukan jalannya menuju saluran air, akan terbawa hingga ke muara.

Larangan merokok di tempat-tempat tertentu dan minimnya ruang khusus merokok membuat para perokok menggunakan ruang terbuka untuk merokok. Persoalannya, di tempat terbuka seperti taman dan pantai tidak selalu mudah menjumpai tempat sampah. Para perokok yang merasa puntung rokok bukan masalah besar lebih memilih untuk membuang puntung rokok mereka sembarangan. Ini jelas salah karena walau kecil, puntung rokok tetap menyimpan bahaya.

Dalam jurnal yang sama disebutkan: “sebuah penelitian laboratorium tahun 2006 mengungkap bahwa puntung rokok beracun bagi organisme Cladocera air tawar dan bakteri air asin (microtox) dan seumber utama racunnya adalah nikotin dan ethylphenol pada puntung rokok ... Bahkan jika diuraikan dengan sebaik mungkin, puntung rokok tetap merupakan limbah padat yang beracun.”

Orang-orang yang begitu saja membuang puntung rokok mereka di area terbuka boleh berargumen bahwa mereka tidak menemukan tempat sampah atau tempat khusus untuk membuang puntung rokok. Namun semua tergantung niat. Seperti sampah yang dapat dikantungi hingga menemukan tempat pembuangannya, puntung rokok juga dapat disimpan dulu. Tak perlu dibuang sembarangan.

Persoalan lain, ada saja perokok yang mengabaikan bahaya membuang puntung rokok sembarangan karena kepercayaannya terkikis. Tidak sedikit pihak penentang rokok yang secara sembarangan membeberkan dampak negatif rokok dan puntung rokok. Sebuah situs yang berisi kampanye anti rokok membeberkan hasil “penelitian” yang menyebutkan bahwa bahkan sebuah filter rokok baru (bukan dari rokok yang sudah dihisap) yang dipisahkan dari tembakaunya dapat membunuh separuh populasi ikan dalam sebuah wadah berisi satu liter air. “Penelitian” ini menyebutkan jenis ikan yang digunakan, namun tidak menyebutkan jumlah ikan yang terdapat dalam wadah. Ini jelas permainan kata-kata untuk mencapai tujuan. Sumber yang lebih terpercaya menyebutkan bahwa belum ada data resmi mengenai besaran minimal racun puntung rokok yang membahayakan satwa laut.

Persoalan yang ada dalam tempat pembuangan rokok yang menggunakan nama Ronaldo dan Messi, sementara itu, adalah hanya menyediakan dua pilihan. Tempat pembuangan puntung rokok tersebut telah merampas hak perokok yang merasa bahwa pemain terbaik dunia adalah Zlatan Ibrahimovi?.

Komentar