Olok-olok buat Pirlo

Cerita

by Marini Saragih

Marini Saragih

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Olok-olok buat Pirlo

Di Italia Pirlo dipuja-puja, di Amerika Pirlo diolok-olok.

Senin (10/8’2015) digelar pertandingan antara New York Red Bulls dan New York City FC di Red Bulls Stadium, yang sekaligus menjadi derbi New York terakhir di musim ini. Laiknya derbi, laga ini juga jadi ajang buat kedua suporter untuk mencurahkan kecintaan terhadap klub yang didukung sekaligus memuntahkan kebencian buat klub lawan.

Di laga tersebut, Andrea Pirlo jadi salah satu pemain yang menjadi bulan-bulanan. Suporter Red Bulls membentang spanduk persegi raksasa yang bertuliskan “City Retirement Home”, lengkap dengan karikatur dia dan Frank Lampard dalam versi renta. Agaknya, lewat olok-olok di pertandingan tersebut, si tua bangka Pirlo, diingatkan kembali apa artinya menjadi tua di New York.

Jauh sebelum suporter Red Bulls melemparkan olok-oloknya buat Pirlo, Amerika Serikat sudah lebih dulu menjadi karib dengan olok-olok. Adalah Mark Twain, yang melalui karya-karyanya mendekatkan orang-orang Amerika tentang menyenangkannya hidup bersama olok-olok.

Konon, sebagai penulis, Twain hadir saat Amerika gandrung meniru gaya kepenulisan Eropa. Akibatnya, ada banyak tulisan yang tawar, terlalu memaksakan diri dengan gaya penulisan berbunga-bunga ataupun materi berat di era sebelum kedatangan Twain. Waktu itu, Twain datang dan membawa perihal baru, yang tadinya dianggap murahan oleh sebagian besar pegiat sastra Amerika.

Dalam sebuah esai berjudul “Humor”, dijelaskan kalau salah satu aspek penting yang ada dalam literasi khas Twain adalah humor. Twain yang bernama asli Samuel Langhorne Clemens ini memang lekat dengan semangat pemberontakan. Tapi pemberontakan Twain adalah pemberontakan yang berbeda. Baginya, humor dan olok-olok adalah senjata terampuh jika seseorang ingin menjadi seorang pemberontak. Humor dan olok-olok memang sering menjadi perihal yang tak sedap didengar, namun tak jarang pula, ia jauh lebih efektif daripada nasehat macam apapun.

Penikmat sepakbola harus akrab dengan olok-olok. Setidaknya, setiap minggu, kesebelasan yang dia gilai harus diejek-ejek oleh suporter kesebelasan lain. Begitu pula dengan pemain-pemainnya. Apalagi jika kesebelasan tersebut menanggung kekalahan atau kedapatan melakukan hal yang kurang pantas, jelas olok-oloknya semakin parah.

Zaman sekarang, olok-olok, termasuk dalam sepakbola, semakin kreatif. Ia tak lagi hanya berupa ejekan verbal, bentuknya bermetamorfis menjadi banyak. Setiap hanya, kita akan dengan mudahnya menemukan olok-olok yang disulap dalam bentuk kreatif; entah komik-komik konyol, karikatur sindiran, spanduk-spanduk seperti yang dibuat oleh suporter Red Bulls –atau jika kita pengguna aktif media sosial, rasanya kita tak asing dengan berbagai tagar dan meme menggelikan.

Sewaktu-waktu, sepakbola bisa membuat kita bosan. Namun, rasanya kita tak akan bosan jika membicarakan olok-olok lucu yang ada dalam sepakbola.

Herbert Spencer dalam dukungannya terhadap teori pelepasan (release theory) pernah menjelaskan kalau tawa sebagai upaya untuk melepaskan energi psikis yang terlanjur digerakkan oleh ekspektasi yang salah. Apa yang dimaksud oleh Spencer sebenarnya sangat sederhana. Kalau mau jujur, ada banyak humor dalam bentuk meme, karikatur atau apapun yang lahir karena ekspektasi yang salah. Misalnya, dulu sekitar Oktober 2014, beredar entah berapa banyak meme yang menertawakan kegagalan Balotelli mencetak gol walaupun sudah dalam posisi satu lawan satu dengan penjaga gawang QPR.

Balotelli dikenal sebagai salah satu penyerang kelas atas. Segala kontroversi yang dibuatnya membikin banyak orang berharap kalau ia bisa menciptakan hal-hal magis di atas lapangan. Apalagi belakangan, ada begitu banyak orang yang mulai menyukai sosok bengal. Di pikiran banyak orang, sosok-sosok seperti ini paling gemar membikin kejutan. Kelakuan boleh berandal, performa di lapangan tetap handal.

Lantas, kegagalan Balotelli mencetak gol walau sudah satu lawan satu dengan penjaga gawang sukses merusak ekspektasi-ekspektasi macam itu. Apa boleh bikin, daripada sakit hati atau marah-marah tak jelas, lebih baik membikin humor dan menertawakannya. Humor berisi olok-olok seperti ini juga bisa dilihat dari kasus-kasus lainnya. Misalnya, sebelum kedatangan Mr. Bee, Milan terkenal begitu enggan untuk menggelontorkan uang di bursa transfer. Padahal jelas-jelas kondisi skuat begitu butut. Biasanya sang CEO, Galliani, yang sering dijadikan sasaran olok-olok.

Semakin banyak meme, karikatur sarkas, atau spanduk-spanduk sindirian, artinya, semakin banyak penikmat sepakbola yang sadar kalau mereka keliru dalam berekspektasi.

Jika mengacu kepada olok-olok suporter Red Bulls, ia akan terlihat sebagai bentuk rivalitas klub belaka. Apalagi, pemain yang diolok-olok adalah pemain klub lawan. Namun, bagaimana jika olok-olok tersebut juga merupakan bentuk kesadaran mereka terhadap ekspektasi yang salah?

Belakangan, tepatnya setelah kedatangan Beckham ke LA Galaxy, MLS kebanjiran pemain tua yang sedang mempersiapkan masa pensiunnya. Daripada tak kuat bersaing atau tak bersepakbola sama sekali di klub-klub Eropa, lebih baik hijrah ke negeri Paman Sam. Di satu sisi, kedatangan para pemain tua tapi bernama besar ini memang kembali menghidupkan MLS. Pasca kedatangan Beckham, MLS kembali menggeliat. Penjualan kostum seluruh kesebelasan MLS meningkat hingga 700%. LA Galaxy sendiri mendapatkan keuntungan dengan peningkatan penjualan kostum LA Galaxy hingga 5.210%. Pada musim kedatangan Beckham, pihak manajemen Galaxy bahkan harus menambah jumlah penjualan tiket terusan satu musim hingga 11.000 tiket. Dan secara keseluruhan, setelah kedatangan Beckham, rata-rata pengunjung stadion saat pertandingan MLS meningkat hingga 2.000 orang per pertandingannya.

Simak tulisan kami tentang The Beckham Effect dan ambisi MLS untuk jadi liga terbaik di dunia

Kapitalisasi sejumlah pesepakbola top tapi tua yang dilakukan MLS sekilas memang berdampak positif terhadap kondisi keuangan liga dan klub. Namun yang menjadi pertanyaan, bisakah kapitalisasi gila-gilaan ini juga menjamin pemain-pemain lokal dan talenta muda ranah sepakbola Amerika Serikat? Bagaimanapun juga, di tengah-tengah gairah sepakbola yang menjadi-jadi di Amerika Serikat saat ini, pemain-pemain lokal dan muda yang bersepakbola di MLS mau tak mau membutuhkan waktu setidaknya setahun untuk mendapatkan apa yang diperoleh oleh pemain-pemain tua dalam seminggu. Mengutip omongan Gavin Cleaver, merek pula lah yang harus bekerja keras, melakukan apa-apa yang tak lagi bisa dilakukan oleh kaki-kaki tua sang superstar.

Makanya, bukannya tak mungkin kalau spanduk jahil yang dialamatkan oleh suporter Red Bulls kepada Pirlo tersebut merupakan bentuk kesadaran mereka atas kesalahan ekspektasi terhadap MLS. Tadinya, mereka berpikir kalau lewat menggeliatnya sepakbola Amerika Serikat, mereka bakal disuguhi performa apik yang ditampilkan oleh pemain-pemain muda ataupun lokal. Barangkali, awalnya mereka berpikir kalau MLS adalah tempat yang aman buat talenta muda Amerika Serikat untuk menjalani karirnya sebagai pesepakbola.

Memang, New York terkenal dengan keterbukaannya terhadap hal-hal baru. Ratusan tahun sebelum MLS digelar, sastrawan besar Amerika Serikat, Walt Whitman sudah menuliskannya dalam sajak "Mannahatta". Dan jika keberadaan imigran-imigran tua tersebut merupakan fenomena baru di ranah sepakbola, tentu kedatangan mereka juga bakal disambut dengan keriaan khas New York. Namun lagi-lagi yang menjadi pertanyaan, bagaimana jika kedatangan mereka yang sebenarnya tak buruk-buruk amat, malahan punya dampak yang positif terhadap perkembangan sepakbola Amerika, justru tak jauh berbeda dengan upaya merebut lahan pesepakbola-pesepakbola lokal?

Akumulasi nama besar sepuluh orang pemain lokal New York FC jelas tak ada apa-apanya jika dibandingkan nama besar Pirlo ataupun Lampard seorang diri. Mau tidak mau, diakui atau disangkal, kedatangan pemain-pemain gaek seperti ini dalam jumlah besar bakal membikin pemain-pemain muda tersebut bersepakbola di balik bayang-bayang nama besar mereka. Apalagi karena berada di ambang pensiun, menjadikan pesohor-pesohor ini tak bisa bermain untuk jangka panjang. Jika ketidaksanggupan mereka untuk bermain dalam jangka panjang ditanggapi dengan usaha manajemen untuk memantapkan pembinaan pemain lokal dan muda, maka akan berdampak (terutama jangka panjang) baik. Namun, jika umur bermain yang singkat justru menjadikan manajemen mengulang pola yang sama dalam jumlah masif, agaknya cerita bakal berbeda. Jangan heran, jika ke depannya, akan semakin banyak spanduk dengan olok-olokan yang lebih kejam dibentangkan di tribun-tribun stadion. Saat ini, Pirlo masih bisa menertawai (walau getir, semacam berlagak tegar) ular suporter rival melalui akun jejaring sosialnya, belum tentu Pirlo-Pirlo yang lain di masa depan dapat membalas olok-olok mereka dengan tertawa.

Namun siapa tahu, olok-olok suporter Red Bulls itu bukan untuk manajemen New York City FC semata. Siapa tahu, olok-olok itu juga buat manajemen klub yang mereka gilai, agar tak lagi menambah Shaun Wright-Phillips yang lain. Toh, mengutip kata Twain, tak ada satu pun yang bisa berdiri saat menahan serangan tawa. Dan rasanya, spanduk olok-olok yang dibentangkan di tribun itu, menjadi bukti kalau para suporter sudah melawan dengan humor yang berani.

Sumber foto: https://www.dailymail.co.uk/

Komentar