Kasus Di María: Saat Pemain Tak Lagi Punya Kuasa  

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Kasus Di María: Saat Pemain Tak Lagi Punya Kuasa   

Sama seperti pemain Amerika Selatan lainnya, Angel Di Maria memulai karir sepakbolanya di Eropa dengan berkostum Benfica yang berkompetisi di Liga Portugal.  Benfica menjadi batu loncatan setelah pada 2010 Real Madrid merekrutnya.

Kemampuan Di Maria sempat terhambat dengan menterengnya penampilan Mesut Oezil. Meskipun didatangkan pada masa yang sama, Oezil lebih terlihat karakternya sebagai penyuplai bola bagi lini serang Madrid. Pada musim pertamanya di Santiago Bernabeu, Oezil mencatatkan 25 assist yang merupakan rekor terbanyak dalam satu musim kompetisi di Eropa.

Kepergian Oezil ke Arsenal pada musim 2013/2014 memberikan ruang yang luas bagi Di Maria untuk berkreasi. Hal tersebut terbukti dengan 17 assist yang ia berikan sepanjang musim tersebut.

Dengan penampilannya yang kian menanjak, wajar rasanya jika Di Maria begitu kerasan tinggal di Madrid. Hal ini pun dirasakan oleh rekannya di lini serang, Cristiano Ronaldo. Awalnya, Ronaldo mengaku marah saat manajemen melepas Oezil. Ia menyatakan bahwa cuma Oezil-lah yang mengetahui pergerakannya di depan gawang lawan.

Semusim berselang, Ronaldo sadar betul kalau Di Maria sudah secara tepat mengisi pos yang ditinggalkan Oezil. Ia bahkan meminta Di Maria untuk menolak tawaran dari Manchester United. Selain MU, PSG sebenarnya sudah berniat meminang Di Maria. Akan tetapi ada aspek “kesepakatan personal” yang sulit dicapai dalam transfer tersebut.

Hal serupa ditegaskan Carlo Ancelotti pada 14 Agustus 2014. Ia menyatakan bahwa Angel Di Maria tidak akan kemana-mana karena ia masih menjadi pemain Madrid. 10 hari kemudian, Ancelotti kembali menyatakan bahwa ia tak percaya ada rumor yang menyatakan Di Maria telah menandatangani kontrak dengan United.

“Saya terkejut membaca berita ada perbedaan (pendapat) antara saya dan klub. Tidak ada perbedaan dan kami bersama berpikir hal yang sama. Di Maria meminta untuk pergi dan menolak segala tawaran dari klub. Ini terserah pada pemain untuk menyelesaikannya sendiri,” ucap Ancelotti seperti dilansir Marca.

Sehari kemudian Ancelotti tidak memasukkan nama Di Maria dalam pertandingan leg kedua Piala Super Spanyol menghadapi Atletico Madrid. “Ini keputusan teknis. Kami tidak membutuhkan Di Maria pada hari ini,” kata pelatih kelahiran 1959 tersebut.

Benar saja pada hari tersebut Di Maria sudah berada di Manchester untuk penandatanganan kontrak. Hal tersebut disambut kecewa oleh Ronaldo yang kabarnya sempat menghadap Presiden Real Madrid, Florentino Perez, untuk meminta agar Di Maria tak dijual. “Secara personal saya kecewa karena saya menyukai (gaya bermain) Di Maria. Dia adalah pemain penting bagi kami,” aku Ronaldo.

Sulit Berkembang

Di Manchester, Di Maria tetap tampil dengan umpan-umpannya yang terukur dan akurat. Namun, siapapun yang melihatnya bermain akan dengan yakin menyatakan bahwa itu bukanlah penampilan terbaik Di Maria.

Sebenarnya keanehan itu sudah terlihat dari keinginan Di Maria untuk pindah ke Manchester. Sebagai pemain dengan performa yang tengah menanjak, bukankah lebih aman untuk tinggal di kesebelasan yang membuatnya nyaman?

Perbedaan gaya bermain pun membuat Di Maria sulit mengembangkan permainannya. Bersama United, Di Maria terlalu sering berhadapan dengan bek lawan, ketimbang melihat rekannya sendiri mendapatkan ruang untuk menerima bola.

Van Gaal yang memang tidak terbiasa menyaksikan penampilan pemain yang tidak dalam performa terbaik, seringkali mesti menariknya ke bangku cadangan lebih cepat. Malah, posisinya kerap tergeser dengan penampilan Juan Mata yang bergerak ke sayap.

Pada Februari tahun ini, kejadian tak menyenangkan menimpa Di Maria di mana rumahnya hampir dibobol maling. Kejadian-kejadian tak menyenangkan ini diakhiri dengan tidak ikut sertanya Di Maria dalam rombongan tim yang berangkat ke Amerika Serikat guna mengikuti pertandingan pra-musim.

Van Gaal sampai-sampai memberi pengumuman bahwa dirinya sama sekali tak mengetahui di mana keberadaan Di Maria. Hingga akhirnya kabar mengejutkan itu muncul. Di Maria resmi pindah ke PSG dengan nilai transfer 44 juta pounds.

Surat Terbuka

Kepindahannya ke Paris diiringi dengan sepucuk surat terbuka bagi keluarga besar Manchester United. Ia berterimakasih atas dukungan yang besar dari segala pihak yang menyertainya selama ini.

Para penggemar United sempat marah atas kepergian pemain yang mengawali karir profesionalnya di Rosario Central ini. Menghilangnya Di Maria seperti tidak menghargai usaha yang dilakukan penggemar selama ini.

Namun, dalam surat terbuka tersebut Di Maria mencurahkan isi hatinya. Dengan pemilihan kata yang tidak berbelit-belit dan langsung pada tujuan pokok, ia menyatakan bahwa, “Aku mencoba yang terbaik tapi sepakbola bukan matematika: seringkali ada banyak hal yang di luar kuasamu yang memengaruhi segala hal.”

Di Maria meminta maaf karena ia tak bisa menunjukkan yang terbaik selama di United, “Aku menyadari semuanya tidak berjalan sesuai yang diharapkan, dan percayalah aku  benar-benar menyesal tentang itu. Bagaimanapu karir pesepakbola terkadang sulit untuk diduga dan hal-hal yang tak diinginkan bisa saja terjadi.”

Seperti dikutip Daily Mail, sebelum menandantangani surat tersebut, Di Maria sempat berkata seperti ini, “Aku tak akan ada di sini kalau mereka (MU) tak menjualku.”

Ditentukan Agen (?)

Saat ditransfer ke Benfica, Di Maria adalah bagian dari praktik kepemilikan pemain oleh pihak ketiga (Third Party Ownership/TPO). Kepindahannya ke Real Madrid nyatanya tidak bernilai 25 juta euro, karena Madrid harus membayar 11 juta euro yang kabarnya digunakan untuk “insentif”.

Kepindahan tersebut masih terbilang wajar karena siapa yang bisa menolak pinangan Real Madrid?

Baca juga: Kepemilikan Pemain Pihak Ketiga Tak Membuat Klub Kaya Raya

Kepemilikan Pemain Pihak Ketiga Memang Bikin Ruwet


Proses kepindahan Di Maria ke Manchester United terbilang terburu-buru. Seperti yang sudah dipaparkan pada bagian di atas, Di Maria telah memasukizona nyamannya bersama Madrid. Meskipun demikian, ia belum mencapai puncak penampilannya yang mungkin bisa dicapai dalam waktu satu atau dua musim lagi di Madrid.

Kepindahan tersebut diawali dengan kehadiran Kepala Eksekutif MU, Ed Woodward, pada pertandingan Piala Super Eropa yang dihelat di Cardiff. Kehadiran Woodward dikabarkan untuk menjalai penjajakan dengan pemain kelahiran 1988 tersebut.

Kalaupun ingin pindah, Di Maria sejatinya bisa memilih PSG sebagai pelabuhan selanjutnya ketimbang bermain di Liga Primer. Di sana, ia akan bertemu dengan rekan senegaranya seperti Ezequiel Lavezzi dan Javier Pastore. PSG beralasan kalau mereka tak mampu mencapai kesepakatan dalam hal “kesepakatan personal”. Artinya, PSG sudah sempat bicara langsung dengan Di Maria atau agennya, tapi yang bersangkutan memasang tarif tinggi atau menolak secara halus.

Kepindahan Di Maria ke Inggris seperti membenarkan pola transfer pemain Amerika Latin yang terjadi selama ini. Kasus ini mirip dengan apa yang terjadi pada Jackson Martinez. Para pemain dari Amerika Latin berlabuh di Portugal dengan tujuan selanjutnya adalah Spanyol. Kepindahan mereka ke Spanyol didasarkan agar bisa berkarir di Liga Primer Inggris.

Transfer pemain tak akan terjadi andai klub atau pemain yang bersangkutan tak setuju. Jika klub tak setuju, berarti pemain tak akan pindah, pun sebaliknya.

Hal yang sama pun terjadi dalam proses kepindahan Di Maria ke Paris. Tidak mungkin rasanya Van Gaal tak mengetahui masa depan Di Maria, karena PSG tak asal begitu saja “menculik” Di Maria dari Manchester. Pasti telah terjadi kesepakatan antara kedua klub, yang kemudian di-iya-kan oleh pemain (atau perwakilan pemain).

Dalam kasus Di Maria kita bisa melihat betapa kerasnya lingkungan di sekitar pesepakbola. Mereka terkadang tak bisa bermain di tim yang membuatnya nyaman karena tuntutan agen untuk pindah ke tim yang lebih besar, yang menawarkan nilai transfer tinggi. Seorang pemain bahkan sulit untuk menunjuk tim mana yang akan ia bela selanjutnya, karena kepindahan tersebut bergantung pada kesepakatan antara tim lamanya dengan tim baru.

Belum lagi kalau ada tangan-tangan berkuasa di luar sepakbola yang membuat seorang pemain harus berpindah-pindah kesebelasan setiap musimnya.

Intinya jangan terlalu menyalahkan pemain andai ia secara mengejutkan pindah ke klub rival, karena mungkin saja itu bukan kemauannya.

Komentar