Sepak Terjang Monchi di Bursa Transfer yang Membangkitkan Sevilla

Cerita

by Marini Saragih

Marini Saragih

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Sepak Terjang Monchi di Bursa Transfer yang Membangkitkan Sevilla

Jika Sevilla adalah panggung, maka Ramon Rodriguez Verdejo adalah orang di balik layar yang bertugas mempersiapkan panggung. Salah satu ganjaran menjadi petugas balik layar adalah tidak dibicarakan publik. Ia bertugas agar orang-orang yang mendapat tempat di atas panggung-lah yang akan menjadi pembicaraan publik.

Ramon Verdejo, atau biasa disebut Monchi, dilantik menjadi direktur olahraga pada 2000. Waktu itu Sevilla harus terdepak dari divisi Primera. Mereka menghadapi ketidakjelasan pada pada level finansial dan sepakbola itu sendiri.

Menjabat sebagai direktur olahraga berarti diserahi tanggung jawab membangun tim. Secara garis besar, ada dua tugas utama yang harus diemban Monchi. Pertama, membangun sektor pembinaan pemain muda sehingga Sevilla dapat menciptakan sendiri pemain bintang di masa depan. Yang kedua, mengimplementasikan sistem pencarian bakat yang tepat sehingga Sevilla dapat menemukan pemain-pemain potensial jauh sebelum ia diminati oleh klub-klub besar -- dengan harga yang masih sangat murah tentu saja.

Perihal pembangunan pemain muda, Monchi berhasil membuktikannya lewat keberadaan Jose Antonio Reyes, Sergio Ramos, Diego Capel, Jesus Navas, Alberto Moreno ataupun mendiang Antonio Puerta. Akademi Sevilla menjadi salah satu akademi terbaik di sepakbola Eropa. Di Spanyol, mereka bersaing dengan akademi Madrid ataupun La Masia milik Barcelona.

Dalam hal pencarian bakat, Monchi berhasil membangun (setidaknya) 700 jaringan yang berfungsi untuk membantu Sevilla dalam mencari pemain-pemain berbakat sebelum tertangkap radar klub-klub raksasa. Dengan sistem semacam ini, Sevilla tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk membeli pemain-pemain yang diyakini memiliki masa depan yang baik.

Apa yang dilakukan Monchi adalah mengamati yang tak diamati oleh orang lain.

Seandainya Monchi seorang penulis, maka ia adalah penulis yang menulis dari berbagai sudut pandang tak terduga. Lihatlah apa yang terjadi pada Dani Alves. Alves dibeli Sevilla dari kesebelasan asal Brasil, Esporte Clube Bahia, dengan harga kurang dari 1 juta euro. Di Sevilla, Alves dibentuk sebagai salah satu pemain terbaik yang ikut mengantarkan Sevilla meraih lima gelar juara. Dan pada 2008, Alves dilepas ke Barcelona seharga 35 juta euro. Artinya, 34 juta euro adalah keuntungan yang dapat dinikmati Sevilla atas penjualan aset bernama Dani Alves.

Baca juga:

Damien Comolli, Director of Football yang Menganggur


Perempuan Besi di Balik Kesuksesan Chelsea



Ivan Rakitic adalah contoh lain dari kesahihan pengamatan Monchi. Di Schalke, Rakitic adalah talenta mentah. Ia memang berbakat, namun sebagai pemain yang belum punya nama besar, tentu ia tak punya harga jual yang tinggi. Yang dibaca oleh Monchi saat itu adalah kontrak Rakitic akan berakhir dalam 6 bulan. Sebagai pemain muda, bertalenta tapi mentah, hal yang paling dibutuhkannya adalah klub yang mau menampung dan memberikannya kesempatan bermain. Barangkali, waktu itu Rakitic berada pada posisi yang membuatnya berpikir; “daripada tidak ada yang beli, lebih baik dibeli murah”. Benar saja, Sevilla hanya perlu mengeluarkan uang sebenar 2,5 juta euro untuk memboyong Rakitic.

Di Sevilla, Rakitic yang berubah peran sebagai gelandang serang, dipilih sebagai kapten sekaligus pemain terbaik pada pertandingan yang mengantarkan Sevilla meraih gelar juara Europe League pada tahun 2014 untuk ketiga kalinya. Setelahnya, ia dipinang oleh raksasa Catalan dan memberikan keuntungan kepada klub kurang lebih sebesar 22.5 juta euro.

Pada 2009, Alvaro Negredo dibeli dari Real Madrid seharga 15 juta euro. Dibandingkan dengan pembelian lainnya, uang yang dikeluarkan untuk mendatangkan Negredo memang terbilang besar. Namun, berkat 85 gol dan memenangkan Copa del Rey, penjualan Negredo kepada Manchester City berhasil melebihi kisaran 31 juta euro.

Sekali waktu, Monchi kembali mengendus yang tak terendus. Sekitar bulan Juli 2013, ia memboyong Carlos Bacca dari klub lamanya di Belgia, Bruge KV, dengan nilai transfer yang hanya mencapai 6.86 juta euro. Hanya membutuhkan waktu 2 tahun, Milan yang baru saja menerima suntikan dana besar pada akhirnya bersedia untuk membeli Bacca dengan nilai transfer sebesar 29,4 juta euro.

Sebagai bagian dari sepakbola profesional, Sevilla membutuhkan uang agar bisa bertahan. Sepakbola adalah bisnis yang menggunakan selubung fanatisme dan loyalitas. Apapun yang menjadi selubungnya, bisnis tetaplah bisnis. Siapapun yang ingin bertahan di dalamnya, mau tak mau harus bisa menghasilkan uang dalam jumlah besar. Dan agaknya, hukum alam seperti inilah yang benar-benar dipahami oleh Monchi yang memangku jabatan sebagai direktur olahraga.

Monchi memang bekerja di belakang layar. Saat pertandingan berlangsung di stadion, tak ada suporter yang mengelu-elukan namanya atau menciptakan koreo khusus untuknya. Namun pemahamannya akan hukum alam yang berlaku di ranah industri sepakbola juga menjadikannya sebagai salah satu sosok yang paling diinginkan oleh sejumlah klub raksasa seperti Real Madrid, Bayern Munchen ataupun Tottenham Hotspurs.

Akhir pekan lalu, Sevilla lewat situs resminya mengonfirmasi kalau kontrak Monchi diperpanjang hingga 30 Juni 2020. Dalam suatu sesi wawancara dijelaskan kalau selama bursa transfer musim panas ini Sevilla bakal menyelesaikan 21 keputusan transfer. Namun jika memperhatikan kembali rekam jejak Monchi sebagai pengemban jabatan direktur olahraga, bagi Sevilla, keputusan mempertahankan Monchi jauh lebih baik dibandingkan dengan keputusan transfer manapun.

Komentar