Laporan dari Jakarta: AS Roma Pun Bete....

Cerita

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng!

Laporan dari Jakarta: AS Roma Pun Bete....

Petang menjelang malam itu (24/7) menjadi waktu yang mendebarkan bagi para Romanisti, sebutan penggemar AS Roma di Indonesia. Sebagian besar dari mereka sudah berkumpul di depan lobi Hotel Shangri-La, Jakarta. Bahkan tidak sedikit yang berkeliaran di jalan Sudirman tak jauh dari sekitaran hotel karena sulit mendapatkan akses masuk ke lokasi kedatangan skuat AS Roma.

Dari halaman hotel, yel-yel Romanisti Indonesia yang menunggu kedatangan kesebelasan besutan Rudi Garcia terus mengalun. Pada awalnya mereka mengira jika Roma bakal tiba di tempat menginap sekitar pukul 18.00, tapi rupanya mereka harus menunggu lebih lama. Sampai sekitar pukul 19.00 bus yang ditumpangi Francesco Totti dkk., masih belum muncul. Perlahan para Romanisti yang hadir pun terdiam. Yel-yel sempat meredup.

Kesebelasan berjuluk Si Serigala (I Lupi) memang sudah tiba di bandara Soekarno Hatta pada pukul 17.00 WIB. Namun Roma tidak bisa langsung berangkat ke hotel karena ketika itu beredar kabar meeka tertahan di imigrasi terkait visa. Tentu saja kabar itu membuat Romanisti gelisah.

Mereka baru tiba di hotel sekitar pukul 20:45. Para Romanisti yang hadir kembali bersemangat menyanyikan yel-yel menyambut kedatangan para pujaannya.

Tapi sayangnya usaha penyambutan mereka sedikit tidak mengenakan. Para pemain Si Serigala tampak cemberut ketika turun dari bus. Senyuman dan sapaan mereka cuma berlaku sedikit dan sebentar selama berjalan menuju eskalator hotel. Bahkan Totti sampai harus dikawal tiga orang penjaga berbadan besar walau berada dalam rombongan.

Rupanya Roma merasa kecewa akibat tertahan sekitar dua jam di ruangan Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta karena urusan visa on arrival lima pemainnya yakni Seydou Doumbia dan Gervinho yang bewarganegaraan Pantai Gading, Antonio Sanabria dari Paraguay (Ralat), Adem Ljajic asal Serbia dan Victor Ibarbo dari Kolombia.

Bayangkan, setelah menjalani perjalanan sekitar tujuh jam Australia-Indonesia, mereka harus tertahan di ruangan imigrasi selama dua jam. Otomatis skuat Roma merasakan kelelahan diiringi rasa kecewa. Perasaan kecewa tentu semakin kuat karena akhirnya lima pemain pentingnya itu terpaksa dipulangkan ke Kota Roma, Italia. Mereka tidak bisa masuk ke Indonesia karena negara asal mereka tidak memiliki perjanjian visa on arrival dengan Indonesia.

“Saya gak mau terlibat lebih panjang lagi. Pastinya mereka (lima pemain) balik. Kalau mengurangi (antusias) pasti. Sebenarnya visa sudah diurus dari jauh-jauh hari,” terang Arif Putra Wicaksono, CEO Ninesports, usai konferensi pers di Hotel Shangri-La.

Bahkan sempat dicurigai jika Roma bisa saja membatalkan seluruh rangkaian acaranya di Indonesia karena lebih memilih pulang ke ibu kota Italia sebagai bentuk solidaritas kepada lima rekan lainnya. Tapi bujukan pihak promotor, dibantu kedubes Italia di Indonesia, akhirnya mereka mau melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Tapi tetap saja dampaknya kegiatan Roma di Indonesia tidak berjalan mulus. Kendati sudah tiba di Hotel Shangri-La mereka sempat mengurungkan niat melakukan konferesi pers karena ingin istirahat lebih cepat, "Pers conference AS Roma ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Kabar selanjutnya akan dikabarkan paling lambat besok siang, Sabtu (25/7)," terang MC konferensi Pers AS Roma Day Jumat (24/7) malam itu.

Tapi selang beberapa menit MC menarik kembali perkataannya dengan memberikan keterangan Roma akhirnya bersedia hadir pada konferensi pers yang diwakili salah satu pemainnya, Radja Nainggolan, dan Italo Zanzi, CEO AS Roma. Beberapa perwakilan dari suporter pun diizinkan masuk dengan mata yang terlihat sembab karena menangis haru.

IMG_2976


Konferensi pers pun berhasil digelar walau Nainggolan maupun Zanzi cuma memberikan sedikit pernyataan tanpa adanya sesi tanya jawab. Maka translator yang sempat diperkenalkan oleh MC pun hanya menjadi pajangan di atas panggung konferensi pers.

"Cukup membuat frustasi karena lima pemain kami dilarang masuk ke negara ini. Benar-benar menjadi kekecewaan karena kami telah berusaha untuk berada di sini terlepas dari masalah sepakbola lokal. Kami mengupayakan bisa ada di sini dengan pemain lengkap," imbuh Zanzi ketika konferensi pers dalam waktu singkat saat itu.

Kendati demikian Zanzi pun mengatakan senang bisa berada di Indonesia memberikan hal positif bagi Roma dan para penggemar di Indonesia. Begitu juga dengan Nainggolan untuk kedua kalinya datang ke negara asal ayahnya untuk kedua kali sebagai pesepakbola profesional.

"Senang kembali berada di sini setelah dua tahun lalu. Para penggemar di sini sangat luar biasa," ujarnya. Kemudian ia menutup konfrensi pers dengan mengatakan "Terima Kasih" menggunakan bahasa Indonesia.

Waktu singkat pun mengakhiri konfrensi pers saat itu dan Nainggolan serta Zanzi menyusul skuat lainnya bersiap melaksanakan jadwal berikutnya yakni coaching clinic, meet and greet, closing training, pertandingan eksebishi, konferensi pers setelah pertandingan dan jumpa fans.

Pagi dan Siang yang Mengejutkan

Kelelahan dan kekecewaan pihak Roma tidak cuma berdampak kurang kondusifnya konferensi pers saja, namun mendadak mereka membatalkan agenda coaching clinic serta meet and greet. Pihak promotor pun mengembalikan uang seharga Rp 5 juta kepada para penggemar yang sudah memesan acara meet and greet bersama Totti dkk.

"Mereka ada rasa kecewa, mereka kelelahan, jadi mereka membatalkan agenda-agenda yang menurut mereka bukan prioritas," ungkap Arif.

Kendati demikian sesi latihan tertutup Roma di GBK tetap berjalan pada pukul 10.00 WIB. Kekecewaan para Romanisti bisa sedikit terobati karena kegiatan tersebut bisa disaksikan penonton secara langsung tanpa biaya.

IMG_3038


Tapi usai latihan skuat Roma tidak menyambangi para penggemar di tribun selatan GBK. Hanya beberapa media, kru dan Zanzi yang sempat mendatangi ratusan penggemar sambil membagi-bagikan merchandise. Satu-satunya pemain Si Serigala yang menghampiri para penggemar cuma Kevin Strootman sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah tribun, sedangkan yanbg lainnya keluar dari lorong GBK dan langsung menaiki bus menuju hotel mereka menginap.

Maka para penggemar harus menunggu waktu lagi sampai sore untuk kembali bertemu dengan skuat besutan Rudi Garcia tersebut.

Kelelahan skuat Roma seolah menjadi dampak dari kedatangan yang dipaksakan dari lawatan mereka sebelumnya di Australia ditambah situasi sepakbola Indonesia tengah kisruh. Walau begitu kedatangan pasukan Si Serigala di tengah pembekuan sepakbola nasional merupakan persembahan dari pihak Ninesports untuk olahraga termahsyur di Indonesia ini.

“Yang pasti kita tahu masalah itu terjadi tapi kami ingin mengembalikan sepakbola karena sepakbola Indonesia tidak boleh mati,” ujar Gery Aloysius Yesayas, Project Manajer AS Roma Day 2015.

Persembahan itu Hanya untuk Fans

Situasi di luar GBK tambah ramai oleh para penggemar AS Roma dengan mayoritas memakai atribut bewarna merah marun. Gerbang stadion pun mulai dibuka sekitar pukul 16.00.

Kemudian satu setengah jam berikutnya, bus yang ditumpangi Totti dkk., mulai masuk ke dalam GBK dan tentu saja disambut keriuhan. Para suporter yang utamanya memadati tribun selatan sudah siap menyambut dengan tepuk tangan, yel-yel, bendera rakasasa (giant flag), spanduk dan lainnya.

Tepat sekitar pukul 18.15 Roma melakukan pemanasan sambil sesekali melambaikan tangan ke arah para suporter. Kemudian persiapan pertandingan dimulai dari dipanggilnya setiap pemain yang dibagi dua dalam regu AS Roma Red versus AS Roma White. Laga pun dimulai dengan didukung perangkat pertandingan yang dibawa pihak Roma karena sepakbola Indonesia masih menjalani hukuman dari FIFA.

Wasit dan hakim garis cuma mengenakan rompi tanpa seragam FIFA yang biasa dikenakan. Begitu juga dengan bendera hakim garis juga memakai sehelai rompi. Peluit kick-off pun dibunyikan seiring dengan dikumandangkannya lagu "Roma Anthem" yang juga dinyanyikan secara kompak oleh para suporter di tribun selatan, baik kategori I maupun II.

Kondisi semakin terang dengan ikut dinyalakannya suar (red flare), bom asap (smoke bomb), kibaran bendera raksasa, serta koreografi dua warna yakni merah dan emas di tribun selatan. Maka cita rasa Stadion Olimpico Roma sedikit khidmat terasa di GBK malam itu.

Pertandingan terus berlangsung dan berkesudahan dengan skor 2-1 bagi kemenangan AS Roma Red. Sayangnya hal yang ditunggu-tunggu oleh para penggemar tidak terjadi. Ketika Totti mencetak gol melalui titik putih, ia tidak terlalu merayakan gol dengan antusias, hanya "hand toast" saja kepada rekan-rekannya, bukan perayaan seperti biasanya ketika mencetak gol ke gawang lawan pada pertandingan resmi.

Tapi kendati demikian, gol yang dilesatkan Mapou Yanga-Mbiwa disambut dengan perayaannya berlari menghadap para suporter sambil membentangkan kedua tangannya. Pertandingan pun berakhir namun penyampaian gestur salam mereka tidak terlalu dekat sampai tribun penonton, hanya di dalam lapangan saja.

Konferensi pers dan agenda jumpa fans pun dibatalkan karena Roma ingin segera pulang ke Italia setelah menjalani pertandingan 35 x 2 menit. Kekesalan, kekecewaan dan kelelahan mereka masih berlanjut.

Ribuan Romanisti seolah masih belum puas. Mereka pun menunggu skuat besutan Rudi Garcia itu di gerbang keluar bus yang ditumpangi. Saat itu kondisi lebih baik karena Totti dkk., lebih ramah dengan melambaikan tangan dan melempat senyum mereka kepada para penggemar yang rela menunggu mereka sampai keluar dari area GBK.

Kekecewaan mungkin bisa terlihat dari para pilar Roma. Namun melihat Totti dkk., berlaga langsung di depan mata membuat para penggemar mereka di Indonesia merasa sudah sangat luar biasa.

"Atmosfer malam ini sungguh luar biasa, sangat indah. Kami tahu punya banyak fans di sini (Indonesia) tapi apa yang kami lihat lebih dari yang dibayangkan. Rasa cinta dan hasrat dari fans Roma sangat hebat," tutur Garcia dikutip laman resmi AS Roma.

Foto : Frasetya Vady Aditya & Randy Aprialdi S

Komentar