Markus Weinzierl: Sensasi Terbaru Dunia Kepelatihan Jerman

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Markus Weinzierl: Sensasi Terbaru Dunia Kepelatihan Jerman

“Ia muda, namun hasil kerjanya luar biasa,” ujar Pep Guardiola mengenai Markus Weinzierl. “Ia adalah salah satu pelatih kepala terbaik di Bundesliga. Kesebelasannya agresif, dan menyerang dengan sangat cepat.”

Untuk ukuran kesebelasan promosi yang baru tahu rasanya bermain di divisi tertinggi Bundesliga, pencapaian FC Augsburg di akhir musim 2011/12 tidak begitu buruk; peringkat ke-14, tujuh angka di atas zona degradasi dan dua poin lebih baik dari Hamburger SV – kesebelasan yang selalu ada dalam setiap gelaran divisi tertinggi Bundesliga.

Kejamnya Bundesliga baru terasa di musim kedua. Sepanjang Hinrunde (putaran pertama; 17 pertandingan) Augsburg hanya mampu mengumpulkan sembilan angka. Usaha memperbaiki nasib dengan mempercayakan kursi pelatih kepala yang sebelumnya diduduki Jos Luhukay kepada Markus Weinzierl yang saat itu baru berusia 37 tahun malah membawa Augsburg ke zona degradasi.

Weinzierl mendapat lisensi kepelatihannya dari Hennes-Weisweiler-Academy dengan nilai A minus. Pelatih yang lahir di Straubing ini berada di angkatan yang sama – angkatan 57 – dengan pelatih kepala Bayer Leverkusen Roger Schmidt, pelatih kepala TSG Hoffenheim Markus Gisdol, dan asisten pelatih Tim Nasional Jerman Thomas Schneider. Pengalaman kerja nyata Weinzierl dapatkan selama satu tahun menjadi asisten pelatih dan empat tahun menjadi pelatih kepala SSV Jahn Regensburg.

Setelah tujuh belas pertandingan pertama Bundesliga yang tidak begitu menyenangkan – hanya satu kali Weinzierl meraih kemenangan selama rentang waktu tersebut – Weinzierl kemudian membawa kesebelasannya menghabiskan jeda musim dingin dengan menjalani pemusatan latihan di Turki. Ia memperbaiki semua yang salah dan hasil kerjanya terlihat di putaran kedua.

Sepanjang Rückrunde musim 2012/13, Weinzierl behasil membawa Augsburg meraih 24 angka. Tidak banyak, namun cukup untuk membawa Augsburg keluar dari zona degradasi. Augsburg bertahan di Bundesliga karena dengan 33 angka, mereka menduduki peringkat ke-15; dua angka di atas Hoffenheim dan tiga poin lebih baik dari Fortuna Düsseldorf. Augsburg selamat dan kembali menatap musim berikutnya sebagai peserta divisi pertama Bundesliga.

Di musim keduanya di Bundesliga Weinzierl membawa Augsburg mengakhiri musim di peringkat kedelapan; jauh lebih baik dari musim pertamanya dan dua musim pertama kesebelasan berjuluk Fuggerstädter tersebut. Perlahan tapi pasti, Augsburg semakin dikenal. Ada kesebelasan lain asal Negara Bagian Bayern, ternyata, selain Bayern München.

Augsburg pula yang mengakhiri rangkaian 53 pertandingan tak terkalahkan di Bundesliga milik Bayern München berakhir. Satu gol Sascha Mölders di SGL-Arena pada 5 April 2014 terbukti cukup untuk menumbangkan Bayern München dan menghadiahi sang penguasa hasil negatif pertama mereka dalam 53 pertandingan terbarunya di Bundesliga.

Memasuki musim baru, tidak ada yang percaya Augsburg mampu melampaui pencapaian terbaik mereka. Namun di akhir musim 2014/15, Weinzierl membungkam semua nada pesimis tersebut. Tanpa omong besar dan ambisi berapi-api, Weinzierl tetap mampu menorehkan sejarah.

“Saya rasa penting untuk bersikap realistis,” ujar Weinzierl kepada FourFourTwo. “Bekerja saja dengan apa yang kita punya dan kesebelasan yang memiliki karakter tepat di dalam dan di luar lapangan.”

Weinzierl membuktikan bahwa rendah hati dan apa adanya juga cukup untuk membawa kesebelasan kecil ke papan atas. Patut dicatat bahwa Augsburg hanya memiliki dana sebesar 20 juta euro untuk gaji dan biaya transfer pemain – kedua paling sedikit di antara semua peserta Bundesliga; hanya lebih banyak dari SC Paderborn – namun mampu mengakhiri musim 2014/15 di peringkat kelima dan lolos ke otomatis ke fase grup Europa League sementara Borussia Dortmund, finalis Champions League 2013 dan satu-satunya kesebelasan yang mampu mengganggu dominasi Bayern Munchen dalam enam tahun terakhir, harus menjalani putaran kualifikasi.

Dana minim bukan halangan bagi Weinzierl. Ia memaksimalkan potensi para pemain yang ia miliki. Jan-Ingwer Callsen-Bracker dulunya seorang penyerang namun bersinar sebagai bek tengah di Augsburg. Halil Alt?ntop sudah tidak laku di pasaran namun bersama Weinzierl, ia kembali berguna. Daniel Baier gemilang di peran barunya sebagai pengatur serangan dari kedalaman dan Abdul Rahman Baba, sang pemain muda, kini kabarnya diminati Chelsea.

Dengan semua pencapaian yang sudah ia torehkan, Weinzierl semakin dekat dengan impiannya melatih di kota Liverpool, Valencia, atau Roma. Namun sebelum meraihnya, ia harus memimpin Augsburg di debut mereka di tingkat Eropa. Seperti tawaran Schalke yang pernah ditolak olehnya, tawaran dari kesebelasan asal kota-kota di atas tampaknya akan Weinzierl tampik jika datang sekarang.

Komentar