Ketika Carrasco Menuju Atlético dengan (Tidak) Sabar

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Ketika Carrasco Menuju Atlético dengan (Tidak) Sabar

Yannick Ferreira Carrasco adalah bukti bahwa AS Monaco tidak membutuhkan pemain bintang berharga mahal untuk berprestasi. Direkrut dari kesebelasan Belgia Racing Genk ketika masih remaja, Carrasco tumbuh menjadi andalan Monaco sehingga di usia yang masih muda – 21 tahun – ia cukup matang untuk meninggalkan kesebelasan kaya tersebut dan belajar menjadi pemain yang lebih baik di Madrid.

Bukan tanpa alasan Carrasco meninggalkan negara kelahirannya di usia 16 tahun. Ia direkrut untuk bergabung dengan kesebelasan U-19 Monaco. Dua musim saja ia menghabiskan waktu di kesebelasan muda. Musim 2012/13, Carrasco naik kelas.

Dan ia tidak membuang peluang yang ia dapatkan untuk membuktikan diri. Pada pertandingan profesional pertamanya untuk Monaco, Carrasco meninggalkan kesan mendalam lewat sebuah gol indah. Begitu dalam sehingga Monaco merasa perlu mengisahkan hal itu, bukan yang lain, dalam profil Carrasco di situs resmi mereka: “Talenta muda Belgia keturunan Spanyol dan Portugal, ia memahsyurkan dirinya dengan eksekusi tendangan bebas mewah di pertandingan profesional pertamanya melawan Tours pada hari pertama musim 2012/13.”

Setelah pertandingan melawan Tours, Carrasco terlibat dalam 26 laga lain di Ligue 2 musim itu. Carrasco menyumbang enam gol dan enam assist untuk keberhasilan Monaco meraih promosi. Musim pertamanya di Ligue 1, secara tidak mengejutkan, tidak semenyenangkan musim pertamanya di kesebelasan utama.

Awalnya Carrasco tetap menjadi andalan sang pelatih kepala, Claudio Ranieri. Namun ketika Carrasco menderita cedera, Ranieri meninggalkan formasi 4-2-3-1 dan meminta para pemainnya tampil dalam formasi 4-4-2 berlian. Ketika Carrasco sembuh dan siap kembali bermain, ia menemukan posisi favoritnya di pos penyerang sayap kiri telah hilang. Secara keseluruhan, Carrasco hanya ambil bagian dalam 18 pertandingan Ligue 1 2013/14.

Kepergian Ranieri dan kedatangan Leonardo Jardim di awal musim 2014/15 menjadi titik balik karir Carrasco. Peran pemain utama kembali padanya karena Jardim mengandalkan kecepatan Carrasco dalam taktik serangan balik yang ia terapkan di Monaco. Dengannya, Monaco berhasil merebut satu tempat di zona Champions League di belakang Paris Saint-Germain dan Olympique Lyonnais dan Carrasco benar-benar menjadi bintang.

Gol pertama Carrasco di Champions League, yang menyingkirkan Arsenal dari Champions League 2014/15, adalah satu contoh yang mampu merangkum taktik menyerang Monaco dan arti penting Carrasco di dalamnya.



Keberadaan Carrasco begitu penting sehingga ia menjadi pemain Monaco pemilik jam terbang terbanyak – di luar tiga pemain “elite” yang tampil lebih dari tiga ribu menit: penjaga gawang Danijel Subasic, gelandang bintang João Moutinho, dan Fabinho – di ligue 1 2014/15 dengan catatan 2.791 menit; melebihi para pemain senior dan/atau berharga mahal seperti Jérémy Toulalan, Dimitar Berbatov, gelandang baru Inter Milan Geoffrey Kondogbia, dan para pemain Monaco lainnya.

Namun musim depan tidak akan Carrasco berhasil melewati jam terbang Ligue 1-nya musim ini. Ia sudah memilih untuk meninggalkan Monaco dan menjadi pemain Atlético Madrid untuk lima tahun kedepan. Carrasco mungkin terlalu cepat meninggalkan Ligue 1. Namun apa mau dikata, kepindahan sudah terjadi. Ia mungkin kurang sabar, namun di Madrid ia akan dipaksa belajar.

“Ia adalah pemain yang memiliki kecepatan tinggi, olah bola istimewa, dan tendangan yang baik,” ujar Sporting Director Atlético, José Luis Pérez Caminero. “Ia akan berkontribusi dengan sempurna terhadap tujuan kami meningkatkan level dan sifat kompetitif kesebelasan. Saya yakin ia akan memberi kami keuntungan besar.”

Caminero sangat mungkin mendapatkan apa yang ia inginkan dari Carrasco. Namun Carrasco, jika ia mengincar tempat utama di musim pertamanya bersama Atlético, kemungkinan akan kecewa. Kelemahan-kelemahan yang ia miliki membuatnya tak akan mampu bersaing dengan pemain-pemain sayap utama Atlético saat ini seperti Koke dan Raúl García.

Pertama, serangan balik bukanlah senjata utama Atlético sementara memaksimalkan kecepatan dalam serangan balik adalah keunggulan Carrasco. Kedua, para sayap utama Atlético pada praktiknya adalah gelandang serang yang tidak pernah berada jauh dari para gelandang tengah dan membiarkan area dekat garis tepi menjadi wilayah kekuasaan para bek sayap. Carrasco, sementara itu, bermain melebar. Kondisi yang ada semakin sulit bagi Carrasco karena secara taktik ia belum matang.

“Ia terlalu banyak berfikir secara individu,” keluh Ranieri. “Ia harus berpikir secara kolektif. Ketika kami menyerang, kadang ia lupa kembali dan itu tidak boleh terjadi. Ia harus belajar memahami itu.”

Carrasco, dengan kata lain, hanya tahu cara menyerang. Ia tidak mengerti cara bertahan dan baginya satu-satunya arah gerak bola adalah menuju gawang lawan. Jika ia tidak mampu memperbaiki pemahaman taktinya, Carrasco akan menemukan dirinya sendiri terasing ketika Atlético memainkan bola di daerah lawan, berusaha dengan sabar membongkar pertahanan musuh.

Sulit membayangkan Carrasco berhasil masuk ke kesebelasan utama Atlético dalam waktu dekat. Musim 2015/16 lebih cocok untuk menjadi musim pembelajaran baginya. Kunci keberhasilan Carrasco, karenanya, terletak dalam kesabaran.

Bukan rencana yang buruk untuk satu tahun ke depan. Sembari memperbaiki pemahaman taktik, Carrasco dapat belajar untuk lebih sering melibatkan kaki kirinya dalam permainan.

Komentar