Impian Guardiola dalam Sosok Douglas Costa

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Impian Guardiola dalam Sosok Douglas Costa

Sedari awal Douglas Costa memang tidak pernah berniat bertahan lama di Ukraina. Setelah bertahun-tahun berusaha pergi dan terus menerus menemui kegagalan, jalan terbuka baginya saat ia (mungkin) sudah menyerah. Tantangan baru menanti seiring belum sembuhnya Franck Ribéry.

Douglas bergabung dengan Shakhtar Donetsk pada 2010 dan di tahun yang sama ia berujar: “Aku tidak akan bertahan di Shakhtar selamanya, tapi hanya untuk satu atau dua tahun.” Douglas menandatangani perpanjangan kontrak berdurasi lima tahun pada 2013, namun hal tersebut tidak serta merta menandai hilang atau memudarnya keinginan untuk pergi.

Kemauan Douglas untuk pergi semakin kuat ketika pada 2014, kota Donetsk jatuh ke tangan kelompok pro Rusia dan menjadi medan tempur antara para pemberontak dan angkatan bersenjata Ukraina. Shakhtar terpaksa meninggalkan Donetsk dan bermarkas di Kiev. Pertandingan kandang sendiri mereka jalani di Lviv.

Douglas bersama lima pemain lain – Fred, Dentinho, Alex Teixiera, Ismaily, dan Facundo Ferreyra – menolak pulang ke Ukraina setelah menjalani pertandingan persahabatan melawan kesebelasan Perancis, Olympique Lyonnais, pada Juli tahun lalu.

“Aku suka kesebelasan, orang-orang, dan kotanya namun aku takut,” ujar Douglas ketika itu. “Kami ingin bertahan di kesebelasan, namun kami harus memiliki kondisi kerja bebas risiko.”

Douglas juga berujar bahwa keputusannya untuk tidak pulang ke Ukraina hanya didasari keinginan mencari rasa aman, bukan karena meminta dilepas ke kesebelasan lain. Pihak Shakhtar menolak. Rinat Akhmetov, sang pemilik kesebelasan, malah secara terang-terangan mengancam para pemain. “Jika mereka tidak pulang maka mereka akan menderita,” ujarnya lewat situs resmi kesebelasan.

Sementara itu Mircea Lucescu, pelatih kepala Shakhtar, menuding agen pemain Kia Joorabchian sebagai otak di balik tindakan keenam pemainnya. “Ini skandal nyata,” ujar Lucescu sebagaimana diwartakan L’Equipe. “Ia mengambil keuntungan dari situasi (Ukraina) untuk menculik para pemain ... Tujuannya adalah untuk membuat para pemain bebas kontrak, hanya untuk mengeruk keuntungan. Ini salah. Ini alibinya. Ia ingin memanfaatkan situasi di negeri ini dan mendapatkan pemain secara gratis.”

Gagal di tengah tahun, Douglas kembali mencoba peruntungan di tahun baru. Januari lalu ia terang-terangan memuji José Mourinho untuk memuluskan jalannya ke Chelsea, yang telah mengajukan tawaran sebesar 20 juta pound sterling. Kesebelasan kembali menolak karena merasa tawaran Chelsea tidak cukup menguntungkan. Shakhtar kabarnya menginginkan 35 juta pound sterling untuk Douglas. Sang pemain sudah meminta pihak kesebelasan agar menurunkan harga namun usahanya kembali gagal.

Entah karena menyerah atau memang inilah usaha terbarunya, Douglas bermain angin-anginan di sisa musim 2014/15. Lucescu sangat menyadari hal ini. Dan karenanya ia lebih memilih melepas sang pemain.

“Costa sudah tidak lagi memikirkan Liga Ukraina,” ujar Lucescu. “Barangkali ini waktu yang tepat baginya untuk meninggalkan Shakhtar, karena ia tidak berkonsentrasi dan melakukan banyak kesalahan. Saya dapat mengerti dirinya. Kualitasnya tidak diragukan lagi – dribble bola yang baik, kecepatan yang baik, tembakan yang baik. Wajar jika ia ingin bermain di tingkat yang lebih tinggi.”

Sehingga pergilah Douglas pada akhirnya. Bukan ke Chelsea namun ke Bayern München, yang hanya perlu mengeluarkan biaya sebesar 1,3 juta pound sterling lebih banyak dari tawaran Chelsea untuk sang pemain. Ini menarik namun tidak mengejutkan.

Pada 2009 lalu, Sir Alex Ferguson memuji Douglas sebagai pemain muda paling berbakat di Amerika Selatan saat itu. Manchester United mengajukan tawaran untuk memboyong Douglas dari Grêmio namun usaha mereka menemui jalan buntu karena sang pemain dihargai 25 juta pound sterling. Setahun kemudian, Grêmio melepas Douglas ke Shakhtar hanya untuk 5,6 juta pound sterling saja.

Entah Bayern beruntung karena mendekat di saat yang tepat atau karena ahli negosiasi bekerja dengan sangat baik, Douglas kini sudah berhasil mewujudkan impiannya keluar dari Ukraina. Ia semakin dekat kepada impian lainnya: berprestasi di tingkat yang lebih tinggi. Namun bukan ia saja yang berada satu langkah lebih dekat kepada impian. Pep Guardiola, pelatih kepala Bayern, juga berada di situasi yang sama dengannya.

hi-res-b2ce70da812682d0538d481b2e14a5cf_crop_exact

“Impianku bukanlah pemain tertentu,” ujar Guardiola di sesi latihan pramusim pertama Bayern. “Impianku adalah skuat yang sepenuhnya bugar agar aku dapat memainkan formasiku.” Franck Ribéry boleh jadi tetap pemain utama, dan Matthias Sammer terang-terangan menegaskan kehadiran Douglas bukanlah untuk menggantikan pemain Perancis tersebut. Namun Douglas mampu menawarkan apa yang tidak dapat Ribéry berikan saat ini.

Mengingat Ribéry masih dibekap cedera dan hampir pasti akan melewatkan pekan pembuka, bukan tidak mungkin Pep akan berusaha sekuat tenaga agar Douglas langsung dapat menjadi pemain andalan. Musim lalu Pep tahu rasanya sulit berprestasi karena para pemain kunci tidak mengikuti latihan pramusim dan ia jelas tidak ingin mengalaminya lagi musim ini.

Dalam diri Douglas, Pep memiliki pemain yang masih dapat berkembang serta untuk saat ini cukup baik bagi Bayern. Namun utamanya bugar sehingga dapat berlatih dan bermain sebagai satu kesatuan bersama para pemain lain. Mampu atau tidaknya Douglas memanfaatkan keuntungan yang ia miliki tergantung kepada sang pemain sendiri.

Komentar