Slaven Bili? Langsung Menggebrak Inggris dengan Arogansi

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Slaven Bili? Langsung Menggebrak Inggris dengan Arogansi

Kedatangan Slaven Bilic kembali ke West Ham membuatnya mendapatkan sorotan. Ini juga karena perubahan yang dilakukan manajemen West Ham yang membuat media mengantisipasi apa yang akan terjadi dengan mereka pada musim depan.

Musim  ini West Ham mulai megorbitkan para pemain dari akademi. Sebelumnya, West Ham terkenal dengan menghasilkan para pemain hebat seperti Rio Ferdinand, Frank Lampard, Michael Carrick, Joe Cole, hingga Glen Johnson.

Ini pula yang membuatnya memberikan tugas pada pelatih tim akademi, Terry Westley, untuk memimpin The Hammers kala menjamu kesebelasan Andorra, Lusitans, dalam lanjutan babak kualifikasi Europa League 2015/2016.

Media Inggris seperti Daily Mail menyebut Bilic sebagai sosok yang arogan karena tidak menemani anak asuhnya bertanding. Bilic malah menyaksikan di tribun penonton dan mendelegasikan tugas—bahkan bukan ke asisten pelatih—ke pelatih tim akademi.

Pelatih Lusitans, Xavi Roura, meradang. Ia menyebut Bilic sebagai “Special One”. “Slaven Bilic menunjukkan kurangnya rasa hormat dengan tidak berada di bangku cadangan,” kata Roura, “Ini membuat saya sedih, di negara di mana fair play ditemukan, sesuatu seperti ini malah terjadi.”

Roura menganggap Bilic arogan karena menganggap kesebelasannya bukan sesuatu yang penting. “Saya membayangkan bahwa dia telah memenangkan banyak gelar dan mungkin dia pikir dia adalah The Special One,” tutur Roura.

Pembelaan pun datang dari pelatih tim akademi West Ham, Terry Westley. Kepada wartawan, ia menyatakan bahwa sebenarnya Bilic hadir sebelum dan setelah pertandingan untuk memberikan arahan. Westley pun menyatakan bahwa Bilic amat menghormati dan menghargai pertandingan tersebut.

“Ia memberikan team talk sebelum pertandingan, dan memperkenalkan Reece Oxford dan Lewis Page, pemain muda yang melakukan debutnya dengan kostum merekat,” ujar Westley pada Dailymail, “Ia mengatakan pada mereka bahwa inilah waktunya untuk membuat warisan mereka sendiri dalam kostum yang sama yang digunakan Bobby Moore, Geogg Hurst, Frank Lampard, dan Rio Ferdinand.”

Baca juga:

Slaven Bili?: pengacara yang lancar empat bahasa, gitaris band rock yang suka memakai anting dan rajah, sekaligus manajer West Ham United.


Dalam pertandingan leg pertama tersebut, West Ham unggul 3-0 lewat dua gol Diafra Sakho dan satu gol James Tomkins.

Bagian dari Rencana Besar West Ham

Penurunan performa pada paruh kedua musim 2014/2015 membuat West Ham United hanya mampu menempati peringkat ke-12 dalam klasemen akhir Liga Inggris. Manajemen The Hammers, julukan West Ham, pun berbenah. Mereka mengubah sejumlah komponen dalam tim dengan harapan bisa mengarungi musim depan dengan lebih stabil.

Perubahan yang paling signifikan tentu mengganti manajer SamAllardyce dengan manajer kelahiran Yugoslavia, Slaven Bilic. Pada musim 1996/1997, Bilic pernah berkostum merah-marun milik West Ham. Ia pun sempat membela Everton pada 1997 hingga 1999 meskipun penampilannya kurang memuaskan.

Bilic sendiri jauh lebih dikenal bersama Hadjuk Split. Ia memulai sepakbola di tim muda Hadjuk. Debut profesionalnya pun ia lakukan di kesebelasan yang telah berdiri sejak 1911 tersebut. Awal karir kepelatihan Bilic juga dilakukan di Hadjuk Split.

Kesetiaan pada West Ham

Ada yang menarik dari kisah Bilic bersama West Ham. Meskipun hanya membela kesebelasan yang berbasis di London itu selama semusim, tapi Bilic memiliki kesetiaan yang begitu tinggi pada The Hammers.

Dikutip dari situs resmi Everton, Bilic sebenarnya sudah berkostum Everton sejak Maret 1997. Namun, ia tak kunjung datang ke tempat latihan, padahal manajemen Everton sudah membayarnya dengan nilai tinggi: 4,5 juta pounds. Ternyata Bilic sempat membuka komunikasi dengan manajer Everton kala itu, Joe Royle. Ia baru mau benar-benar pindah ke Everton pada akhir musim.

Ini dilakukan Bilic karena ia merasa memiliki utang budi terhadap West Ham. Ia tak mau meninggalkan kesebelasan yang berdiri pada 1895 tersebut dalam kondisi yang tidak mengenakan. Kala itu, West Ham tengah berjuang menghindari jurang degradasi.

Pada akhirnya, Bilic turut serta mengamankan West Ham untuk terus berlaga di Premier League. Pada peringkat akhir klasemen, West Ham berada di peringkat ke-14 terpaut dua poin dari jurang degradasi.

Namun, penampilan Bilic di Everton tidaklah mulus. Selain karena pergantian manajer, ia pun menderita sejumlah cedera yang membuatnya tidak bisa tampil pada sejumlah pertandingan. Total ia bermain 32 kali dan tidak mencetak satupun gol.

Menjadi “Dia yang Spesial”

Apa yang ditunjukkan Bilic pada pertandingan resmi pertamanya memang “mengesankan”. Ia menugaskan pelatih tim akademi dan hanya menyaksikan para pemainnnya dari tribun penonton. Padahal, Bilic memiliki citra sebagai pelatih yang peduli terhadap pemain muda.

Sejumlah pemain seperti Andy Carroll mengaku sudah tak sabar untuk dilatih oleh Bilic. Carroll menganggap bahwa Bilic adalah orang yang tepat untuk menukangi West Ham.

Alumnus akademi West Ham, Frank Lampard, pun sempat menyatakan kekagumannya pada Bilic. Lampard yang kala itu masih berusia 19, sempat satu tim bersama Bilic. Lampard terkesan dengan kemampuan Bilic yang mampu mengenal para pemain muda dengan baik.

Meskipun co-chairman West Ham, David Gold, mengumbar keyakinan pada publik bahwa mereka akan merekrut para pemain hebat, tapi agaknya tidak sedikit juga para pemain muda yang nantinya melakukan debut di bawah asuhan Bilic.

Kehadiran Bilic seperti menambah khazanah para pelatih “unik” di Premier League. Ia mirip Arsene Wenger yang mampu mengoptimalkan pemain muda, tapi bisa juga bergaya nyeleneh seperti Jose Mourinho.

Mungkinkah Bilic memiliki prestasi yang sama seperti Wenger dan Mourinho? Atau ia sekadar pelatih biasa-biasa saja macam para pendahulunya di West Ham?

Komentar