Cara Italia Mengakali Larangan Sistem Co-ownership

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Cara Italia Mengakali Larangan Sistem Co-ownership

Kebersamaan sepakbola Italia dengan sistem co-ownership mereka berakhir per tanggal 30 Juni 2015. Ini artinya, tak akan ada lagi pemain yang kontraknya dimiliki oleh dua kesebelasan secara bersamaan sejak musim 2015/16.

Salah satu kasus co-ownership terjadi saat Ciro Immobile pindah ke Borussia Dortmund pada 2014. Saat itu Immobile dimiliki bersama oleh Juventus dan Torino. Namun Juventus malah menjual Immobile ke Dortmund, yang membuat pihak Torino tidak terima. Pada akhirnya Juventus menjual 50% kepemilikan Immobile kepada Torino, baru kemudian Immobile resmi pindah ke Dortmund.

Oleh karena itu, saat itu sejumlah kesebelasan ramai-ramai menyelesaikan kontrak pemain mereka yang masih berstatus co-ownership. Lelang buta menjadi akhir dari kerja sama dua kesebelasan untuk menentukan masa depan pemain tersebut.

Meski begitu, kesebelasan-kesebelasan Italia tak habis akal untuk mencari cara lain agar melakukan sistem transfer yang tak jauh berbeda dengan co-ownership. Cara-cara ini pun rasanya memberikan keuntungan yang tak jauh berbeda dengan sistem co-ownership.

Pembelian Kembali

Cara pertama untuk mengakali dihapusnya co-ownership adalah dengan opsi pembelian kembali. Cara ini dilakukan dengan menjual pemain dengan adanya kesepakatan di mana kesebelasan yang menjual, masih memiliki kemungkinan untuk mendapatkan pemain tersebut di masa yang akan datang.

Untuk memahami lebih jauh dengan sistem co-ownership di Italia, simak artikel Mengenal Sistem Co-ownership di Italia.

Cara seperti ini seringkali dilakukan Juventus. Setelah melepas kepemilikan Simone Zaza pada Sassuolo, Domenico Berardi juga mendapatkan perjanjian serupa. Sassuolo harus mengeluarkan 10 juta euro untuk membeli Berardi, namun Juve diperbolehkan merekrut kembali Berardi dengan nilai transfer 18 juta euro.

Dalam perjanjian saat itu, Berardi memang milik Sassuolo, namun jika suatu saat Juve mengajukan tawaran 18 juta euro untuk Berardi, maka Sassuolo tidak boleh menolak tawaran tersebut.

Sistem ini tentunya tak jauh berbeda dengan co-ownership. Hanya saja sistem ini bisa merugikan kesebelasan yang melepas pemain tersebut. Karena kesebelasan baru sang pemain, bisa kapan saja menjual sang pemain ke kesebelasan mana pun di mana ini menggugurkan komitmen kedua kesebelasan.

Sebagai contoh, misalnya Berardi memiliki opsi pembelian kembali sebesar 18 juta euro untuk Juventus. Namun jika Juve tak kunjung mendatangkan tawaran atau belum tertarik untuk merekrut Berardi sementara ada kesebelasan lain yang tertarik untuk merekrut Berardi, Juve berpotensi kehilangan Berardi sepenuhnya. Dalam kasus Berardi ini, Berardi tentunya memiliki potensi untuk berkembang di masa yang akan datang.

Peminjaman dengan Opsi Pembelian di Musim Berikutnya

Cara kedua untuk mengakali dihapusnya co-ownership adalah dengan meminjam pemain dengan opsi pembelian pada musim berikutnya. Cara ini akan membuat seorang pemain dipinjamkan ke kesebelasan lain, lalu baru akan dibeli oleh kesebelasan yang meminjamnya pada musim kedua.

Yang kurang dari menggunakan cara ini adalah tak adanya nilai transfer yang didapatkan kesebelasan pemilik sang pemain seperti yang terjadi pada co-ownership. Bahkan jika sang pemain bermain buruk saat membela kesebelasan yang meminjamnya, harga pemain bisa turun saat kembali ke kesebelasan yang memegang kontraknya.

Sistem ini memang lebih menguntungkan kesebelasan yang meminjam, khususnya ketika sang pemain bermain sesuai yang diharapkan. Selain kesebelasan tersebut mendapatkan performa maksimal dari sang pemain, bisa menakar apakah pemain itu cocok atau tidak (dengan meminjamnya terlebih dahulu), maka kesebelasan tersebut bisa mendapatkan sang pemain dengan opsi pembelian yang sudah disepakati di awal perjanjian, yang tentunya tak bisa ditolak oleh kesebelasan pemilik sang pemain.

Baca juga artikel lain tentang sepakbola Italia:

Melihat Cara Italia Menyelesaikan Kisruh Sepakbola

Arti Penting Kepemilikan Kesebelasan di Italia

Kisah Lama Stadion di Italia yang Menimpa Genoa

Cara Bertahan Hidup di Serie A ala Udinese

Cara ini adalah cara yang dilakukan Inter untuk menggaet Xherdan Shaqiri, Marcelo Brozovic, dan Davide Santon; cara AS Roma untuk mendatangkan Davide Astori dan Victor Ibarbo; cara Juventus merekrut Roberto Pereyra; cara AC Milan mempermanenkan Mattia Destro; dan masih banyak lagi contoh lainnya. Semua transfer ini dilakukan pada awal musim 2015/16 dengan kesepakatan antar dua kesebelasan sudah terjadi sebelumnya.

Peminjaman dengan Keharusan Membeli di Musim Berikutnya

Jika peminjaman pada pembahasan di atas sifatnya adalah opsional untuk membeli pemain yang bersangkutan (option to buy), maka peminjaman selanjutnya bersifat wajib atau harus dibeli (obligation to buy). Singkatnya, peminjaman seperti ini adalah pura-pura meminjam padahal maksudnya membeli.

Menurut Marca, pemain pertama yang pindah dengan cara ini adalah Zlatan Ibrahimovic ketika Barcelona memasukkan klausul ini saat ia pindah ke AC Milan.

Peminjaman seperti ini dinilai merugikan secara umum jika sang pemain tampil tidak sesuai harapan. Kerugian itu tercermin pada kasus Nikola Kalinic. Pada 2016/17 Kalinic mencetak 15 gol dari 33 pertandingan di Serie A bersama Fiorentina. Ia kemudian dipinjam oleh Milan pada 2017/18 dengan kewajiban mempermanenkannya pada musim berikutnya, tapi hanya mampu mencetak enam gol dari 33 pertandingan di Serie A.

Pada awal 2018/19 Kalinic dijual ke Atletico. Penjualan itu terjadi setelah Milan terlebih dahulu membayar biaya transfer ke Fiorentina karena sebelumnya sudah ada kesepakatan obligation to buy. Jadi, Atletico sebenarnya membeli Kalinic dari Milan, bukan Fiorentina.

Kalau kesebelasan Italia banyak yang mau pakai sistem obligation to buy, kesebelasan luar Italia tidak banyak yang mau. Seperti misalnya Douglas Costa ke Juventus itu termasuk option to buy. Ada tenggat waktu dari Bayern untuk memastikan ke Juve, mau dibeli atau tidak. Namun lewat angka yang telah disepakati di awal peminjaman, Bayern harus menerima.

Obligation to buy bisa jadi akal-akalan kesebelasan Italia untuk memaksa jual pemain yang tak mereka butuhkan, atau sebaliknya: memaksa mendapatkan pemain bagus dari kesebelasan lain tanpa harus langsung keluar uang transfer besar dengan dalih pinjam terlebih dulu.

***

Dengan pemberlakuan tiga cara ini, kesebelasan Italia tampaknya masih bisa mengakali dihapusnya sistem co-ownership. Kesebelasan kecil masih memungkinkan mendapatkan pemain muda berbakat. Sementara kesebelasan besar masih bisa menjaga pemain bertalentanya agar bisa direkrut kembali saat pemain tersebut saat kesebelasan ini membutuhkan tenaganya.

Oleh karena itu, menjadi penting bagi kesebelasan-kesebelasan Italia untuk melihat potensi masa depan pemainnya. Jika salah menilai, mereka bisa kehilangan pemain bertalentanya dengan harga murah atau pun mendapatkan pemain dengan harga mahal meski talentanya biasa saja. Sistem yang tak jauh berbeda dengan co-ownership, bukan?

foto: forzaitalianfootball.com


Tulisan ini pernah dipublikasikan sebelumnya pada 2015, ketika pertama kali sistem co-ownership dihapuskan. Tulisan ini mengalami sedikit perubahan. Sistem co-ownership sendiri masih dipakai di Argentina, Chile, dan Uruguay.

Komentar