Depresi Fran Kirby dan Sepakbola Amatir yang Menyelamatkannya

Cerita

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Depresi Fran Kirby dan Sepakbola Amatir yang Menyelamatkannya

Kemelut terjadi di depan kotak penalti kesebelasan Meksiko. Pemain bertahan mereka mencoba melakukan sapuan terhadap bola liar yang disontek Toni Duggan, penyerang tim nasional Inggris. Namun, sapuan tersebut gagal dan hanya bergulir lemah tanpa terjangkau pemain bertahan Meksiko. Situasi kemelut masih berlanjut dan Fran Kirby berhasil menjangkau bola dan akhirnya berhasil memperdaya tiga pemain bertahan Meksiko.

Kirby tahu bahwa ini adalah kesempatan emas baginya untuk menghidupkan asa timnas Inggris. Ia berjuang mengerahkan bola ke arah pojok kanan gawang. Sempat membentur tiang, namun akhirnya bola meluncur manis ke dalam gawang. Inggris 1, Meksiko 0.

Pendukung Inggris girang bukan kepalang. Bahkan, tak hanya pendukung Inggris saja yang girang dengan gol Fran Kirby. Seorang komentator dari stasiun televisi Inggris, BBC, berteriak histeris ketika gol tersebut.  “IT’S OFF THE POST, IT’S IN! ENGLAND LEAD, FRAN KIRBY SCORES THE OPENER AT THESE WORLD CUP FINALS 2015”

Begitulah kira-kira sang komentator meluapkan kegembiraaanya. Mungkin, anda bisa menirunya sambil memperlancar kemampuan berteriak-teriak dalam bahasa Inggris.

***

Menjadi pencetak gol pertama Lionesses  -julukan tim nasional perempuan Inggris- di ajang sebesar Piala Dunia Perempuan tentu tak pernah terbayangkan oleh gadis kecil ini. Dengan tubuh mini yang hanya 157 cm, Francesca Kirby sontak membuat para pendukung Lionesses bernafas lega. Pasalnya, pada pertandingan perdana Piala Dunia Perempuan (9/6) lalu, Lionesses menelan kekalahan tipis atas tim nasional Perancis.

Sebetulnya, tak heran jika Kirby sangat akrab dalam urusan cetak-mencetak gol. Ia sendiri adalah top skor dari kompetisi FA Women Super League 2 (FAWSL 2) atau kompetisi level kedua liga perempuan di Inggris. Saya, tidak sedang typo dalam menuliskan kata “kompetisi level kedua” karena memang begitu adanya. Fran Kirby hanya bermain untuk Reading, kesebelasan asal kampung halamannya yang ia bela sejak kecil.

Tentu sangat spesial raihan Fran Kirby ini. Sebagai satu-satunya pemain kesebelasan level kedua liga Inggris yang dipanggil tim nasional, ia mencerminkan bahwa bermain di mana pun, jika memang layak untuk membela timnas, maka kesempatan itu akan selalu terbuka lebar.

Fran Kirby merayakan gol perdananya di Piala Dunia (sumber: Bleacher Report)
Fran Kirby merayakan gol perdananya di Piala Dunia (sumber: Bleacher Report)

Lebarnya kesempatan untuk membela tim nasional atau bahkan untuk bermain sepakbola sekali pun, itu sudah menjadi hal yang luar biasa bagi Kirby. Bahwa Kirby masih bisa main bola, itu sudah sangat disyukurinya. Betapa tidak, ia sempat memutuskan pensiun dini karena depresi yang sangat mendalam. Bagaimana tidak depresi, ia kehilangan ibunda tersayangnya di kamp latihan kesebelasan Reading tepat selepas sesi latihan ketika ia baru berumur 14 tahun.

Ia mengingat jelas detik-detik kehilangan ibunya.

Kirby menceritakan bahwa selepas evaluasi latihan hari itu, ia datang menemui sang ibu yang mengantarnya setiap kali latihan sepakbola. Ibunya mengeluh tidak enak badan dan merasakan sakit di kepalanya. Ketika kondisi sang ibu mulai mulai terus menurun, sontak orang-orang yang berada di kamp latihan tersebut memanggil dokter untuk membawanya ke rumah sakit. Fran Kirby kecil kebingungan dan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia sendiri, rekan-rekannya dan sang pelatih, akhirnya mengikuti sang dokter ke rumah sakit.

Simak juga cerita-cerita pesepakbola dengan Ibunya:


Dokter yang menangani Denise, ibunda Kirby, akhirnya menghampiri Kirby dan menanyakan di mana ayah dan keluarga lainnya. Ia bingung, ia hanya mampu menjawab bahwa sang ayah sedang bekerja dan keluarganya yang lain tak tahu ada di mana. Dokter yang sudah mengetahui kondisi buruk ibunya karena mengalami pendarahan otak tersebut hanya terdiam dan tanpa basa-basi hanya menyuruh Kirby untuk menelepon ayahnya.

Kirby naif, sangatlah naif. Ia tak tahu apa yang terjadi dan apa yang harus ia lakukan. Pandangannya kosong menatap lorong rumah sakit sembari sesekali melirik ruang rawat yang dihuni ibundanya. Ia bingung sebingung-bingungnya.

Pada saat sang ibu menghembuskan nafas terakhirnya, orang-orang yang hadir di rumah sakit tersebut, termasuk ayahnya sendiri, tak kuasa untuk memberi tahu Kirby tentang hal ini. Semua orang menangis, termasuk keluarganya. Kirby bertanya pada dirinya sendiri: “Apa yang telah terjadi? Ada apa ini?”. Di tengah kebingungannya, sang ayah akhirnya menguatkan diri untuk memberi wafanya sang Ibu. Kirby yang tak sanggup mendengar kabar tersebut dan akhirnya berlari sembari tersedu-sedu.

Pasca tragedi tersebut, ia memutuskan untuk pergi menjauh dari sepakbola. Ia seperti tak mengenali sepakbola dan menjalani kehidupan layaknya gadis remaja lainnya. Depresi yang menghantui dirinya. Sepakbola, tidak bisa tidak, menghadirkan ingatan yang buruk bagi Kirby. Selamanya ia tak akan melupakan bagaimana ibunda tersayang itu wafat setelah sesi latihan sepakbola.

Setelah kurang lebih empat tahun ia menjauh dari sepakbola, pada 2012, ia akhirnya memutuskan untuk bermain di Sunday League (liga amatir di Inggris). Keputusannya tersebut beralasan bahwa ia ingin mencoba kembali ke dunia yang ia cintainya tanpa harus menerima tekanan-tekanan kompetisi tingkat atas. Bermain di liga amatir diperkirakan bisa mengembalikan rasa senang bermain bola tanpa dibebani prestasi atau tuntutan berat lainnya.

Ayahnya yang mantan penyerang tim junior Sunderland akhirnya mendukung keputusan kembalinya sang anak ke dunia sepakbola. Sampai-sampai ayahnya mesti mengganti jam kerjanya menjadi shift malam demi menonton anaknya bertanding di lapangan hijau.

Tak perlu waktu lama bagi Kirby untuk memulihkan kemampuannya mengolah si kulit bundar. Dua tahun setelah bermain di Sunday League, ia pun mendapatkan caps pertama di tim nasional perempuan Inggris. Hanya dalam waktu dua tahun, ia mampu bermain untuk seragam putih-putih khas Inggris dan menjadi top skor FAWSL 2 bersama Reading pada 2014 lalu. Bahkan kini, tiga tahun setelahnya, ia mampu membuat sejarahnya sendiri dengan menciptakan gol perdana Inggris di Piala Dunia Perempuan.

***

Gol ke gawang Meksiko tersebut membuatnya gembira, sangat gembira. Sang pelatih, Mark Simpson, tak sungkan memujinya sebagai “Mini Messi milik Lionesses”. Bahkan, rekan timnya berseloroh ketika bola yang ia sontek tersebut mengenai tiang gawang dan hampir tidak menjadi gol, pada saat itu ada “arwah mendiang ibunya” yang membantu tendangan Kirby berbelok masuk ke dalam gawang. Kirby pun hanya tersenyum kecil.

Dari alam lain, ibunya juga pasti tersenyum bangga. Sambil menitikan air mata, ia gembira melihat anak perempuannya tumbuh besar dan membanggakan dirinya. Juga bahagia karena telah melampaui depresi dan luka batinnya. Itu yang lebih penting.

Tulisan lainnya tentang kisah-kisah Piala Dunia Perempuan:


Sumber tulisan: Guardian, Daily Mail & Bleacher Report



Komentar